Suwuk

Edu Agrowisata Pantai Suwuk

Pantai Suwuk

Pantai Suwuk

PURING – Tahun 2014 Pantai Suwuk Kecamatan Puring Kabupaten Kebumen memperoleh penghargaan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jateng karena keindahan, jumlah pengunjung, dan kinerja pengelolanya. Obsesi Bupati Buyar Winarso dan warga Kebumen menjadikan Suwuk menjadi salah satu objek wisata unggulan nasional setahap terlampaui.

Pantai Suwuk memiliki kriteria ideal sebagai tempat wisata dengan penonjolan potensi keindahan pantai dan gunung. Bahkan bila pemkab cerdas membangun potensi agrowisata secara sinergis dengan masyarakat sekitar (Desa Tambakmulyo), pantai tersebut berpeluang menjadi salah satu objek wisata one stop tourism.

Awam kerap menyebut Suwuk sebagai Pantai Karangbolong kendati berbeda, hanya berimpitan, dengan Suwuk di sisi timur. Adapun Karangbolong merupakan tebing pegunungan dan dari atas pengunjung dapat menikmati panorama Samudra Hindia. Untuk mencapai Karangbolong, pengunjung bisa menggunakan gethek.

Suwuk dan Karangbolong secara tradisional sudah menjadi salah satu tujuan wisata lokal di Kebumen. Secara rutin ada lomba dayung di Sungai Suwuk dan tradisi mengunduh sarang burung walet di Gua Karangbolong, yang prosesinya berkesan sakral dan magis. Pengembangan Suwuk sebagai objek wisata unggulan dimulai lima terakhir ini.

Namun pengembangan masih mengeksplorasi objek wisata pantai dan sebagian kecil gunung. Artinya masih mengandalkan panorama laut, gunung, gethek penyeberangan ke gua, dan sebagainya. Potensi agrowisata di sekitar, khususnya di Tambakmulyo, belum disentuh. Warga desa belum banyak menerima ìberkahî dari Suwuk yang tiap Lebaran luber pengunjung.

Suwuk secara administratif masuk wilayah Desa Tambakmulyo, Puring. Desa berpenduduk 5.400 jiwa itu masih asli, belum banyak tersentuh pembangunan dan teknologi, kondisi jalan kampung masih tanah padat. Pertaniannya pun masih tradisional. Mata pencaharian utama penduduk adalah berladang dan bertani, dan sebagian jadi pedagang (khususnya di sekitar Suwuk).

Pengembangan Suwuk sebagai desa wisata, tidak dapat dipisahkan dari pengembangan potensi Tambakmulyo sebagai desa penyangga. Adalah ironi ketika Suwuk berkembang tapi masyarakat sekitar hanya menjadi penonton, dan bahkan membayar tiket masuk saat berkunjung ke objek itu.

Strategi Pengembangan

Masyarakat dan perangkat Desa Tambakmulyo perlu dilibatkan demi keterwujudan desa agro eduwisata. Pemberdayaan masyarakat harus menjadi bagian tidak terpisahkan dalam strategi pengembangan Suwuk sebagai objek wisata unggulan regional/nasional. Masyarakat Tambakmulyo yang dominan usia produktif dan sebagian besar melek pendidikan dasar menjadi modal utama.

Edu agrowisata adalah objek wisata yang bersamanya memenuhi kebutuhan lahir dan batin pengunjung. Kebutuhan lahir berupa pemandangan, rasa sejuk dan kenikmatan kulinernya. Adapun kebutuhan batin berupa pengalaman hidup yang menyenangkan, bisa menambah pengetahuan dan keterampilan.

Seorang anak SD misalnya, belajar membuat gula merah di kampung merupakan pengalaman batin yang menyenangkan sekaligus memperkaya pengetahuannya. Desa Tambakmulyo dapat dijadikan objek edu agrowisata melengkapi keindahan Pantai Suwuk dan Gua Karangbolong.

Desa ini memiliki potensi industri rumah seperti pembuatan emping melinjo, gula merah, juga pertanian palawija dan peternakan sapi. Tanahnya cocok untuk pertanian semangka dan kentang hitam. Masyarakat desa itu relatif kompak dengan kultur gotong royong dan kekeluargaan kental. Ini modal sosial dan budaya untuk membangun homestay village bagi pendidikan karakter anak-anak kota yang kian jauh dari nilai-nilai solidaritas sosial.

Melalui homestay, anak-anak bisa belajar banyak tentang nilai-nilai kebersamaan dan kekeluargaan, belajar membuat gula merah, emping melinjo, beternak sapi, atau tandur dan mluku (membajak sawah dengan sapi). (10/ Suaramerdeka.com /LintasKebumen©2014)

”Citizen Journalism”
Nama: Drs Waidi MBAEd
Alamat: kelahiran Desa Tambakmulyo Kebumen
Pekerjaan: bekerja di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto.

Advertisements

Sampah, ‘Masalah’ Pantai di Dekat Muara Sungai

Sampah yang menumpuk di Pantai Suwuk. (Photo: Antara)

Sampah yang menumpuk di Pantai Suwuk. (Photo: Antara)

BUAYAN – Laut sebagai muara dari seluruh aliran sungai kerap kali menjadi muara pula dari sampah-sampah yang dihasilkan di darat. Sejumlah pantai di Kebumen juga mendapatkan ancaman dari semakin banyaknya sampah plastik, baik yang terbawa dari laut maupun sampah para pengunjung pantai.

Begitu sampai di muara, sampah segera dibawa oleh ombak dan diendapkan kembali di pantai. Pada proses tersebut arus susur pantai juga ikut andil dengan membawa sampah menjauhi muara sungai hingga beberapa kilometer lebih dulu, sebelum akhirnya mengendapkan sampah di pantai.

Sejumlah obyek wisata Pantai di Kabupaten Kebumen seperti Pantai Ayah atau Logending, Pantai Suwuk, Pantai Karangbolong, Pantai Pecaron, Pantai Tegalretno dan Pantai Lembupurwo. Semuanya berada dalam area muara sungai besar di Kebumen.

Pantai Suwuk dan Karangbong yang berada di muara Telomoyo. Muara Telomoyo adalah muara bagi sepuluh sungai seperti Sungai Karanganyar, Sungai Kethek, Sungai Kemit, Sungai Gombong dan lainnya. Di kedua pantai ini sampah organik maupun non organik dari sungai terlihat berserakan di bibir pantai.

Apalagi sejak dibangun tanggul (Jetty) di Pantai Suwuk membuat sampah lebih mudah sampai ke Pantai Karangbolong. Tak berbeda terjadi di Pantai Ayah yang berada di muara Bodo. Sungai Ijo yang mengalir dari wilayah Banyumas, Cilacap dan Kebumen ini membawa material sampah hingga menggangu pemandangan pantai. Belum lagi jika di musim penghujan. Pantai Ayah akan terlihat keruh dan tidak menarik.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kebumen nampaknya harus lebih kerja keras untuk mengatasi sampah di sejumlah Pantai di Kebumen. Kurangnya kesadaran pengunjung dan pengelola dalam menyediakan tempat sampah membuat kondisi pantai terkesan kumuh dan jorok. (Citizen Journalism/LintasKebumen©2014)