sungai luk ulo

Penambangan Pasir Sedot ‘Dibiarkan’

Penambangan pasir di desa tetangga marak (Photo: KRjogja/ Dasih)

Penambangan pasir di desa tetangga marak (Photo: KRjogja/ Dasih)

KARANGGAYAM – Penambangan pasir dengan mesin sedot di alur Sungai Luk Ulo Desa Kebakalan  Kecamatan Karanggayam  Kebumen yang marak kembali dalam 3 bulan terakhir ini sangat meresahkan warga di bantaran sungai Desa/Kecamatan Karangsambung  Kebumen.  Penambangan yang beroperasi sejak pagi hingga malam hari itu berdampak retak  dan rusaknya tembok rumah warga.

“Maraknya penambangan pasir di desa tetangga kami itu tak hanya menyebabkan permukaan  air sumur warga desa  turun dan banyak lahan pertanian longsor. Bahkan kini sudah banyak  rumah warga bantaran yang rusak. Diduga, kerusakan disebabkan kondisi tanah di sekitar  fondasi rumah mengalami gangguan akibat digalinya pasir sungai terus-menerus dengan mesin  sedot,” ujar Kepala Desa Karangsambung, Kasno, di ruang kerjanya, Jum’at (20/02/2015).

Menurut Kasno, beberapa tahun lalu Pemerintah Desa Karangsambung dibantu para warga  desanya berhasil menghalau alat-alat berat yang mengeruk pasir di bantaran dan aliran  Sungai Luk Ulo di wilayah Desa Karangsambung, setelah berbagai dampak buruk dirasakan warga akibat penambangan ilegal itu.

” Sayangnya, keberhasilan kami di Desa Karangsambung menekan semaksimal mungkin penambangan pasir di wilayah desa kami ternyata tak diimbangi dengan langkah serupa di desa tetangga  yang hanya dipisahkan oleh aliran sungai itu. Akibatnya, penderitaan warga kami di bantaran sungai tak kunjung berhenti,” jelas Kasno. (Dwi/ KRjogja.com /LintasKebumen©2015)

Advertisements

Batu Pirus Ditemukan di Sungai Lukulo

BATU PIRUS: Batu Pirus Ditemukan di Sungai Lukulo.

BATU PIRUS: Batu Pirus Ditemukan di Sungai Lukulo.

SADANG – Batu akik Kebumen yang mulai diperhitungkan di kancah nasional kini kian moncer. Ditambah lagi, ternyata di Kebumen juga ditemukan batuan jenis pirus, yang sangat diburu oleh pecinta batu mulia. Batu yang masuk dalam kategori batu permata asal Persia itu ternyata ditemukan ada di Sungai Lukulo, tepatnya di Dukuh Siluk, Desa Sadang Kulon, Kecamatan Sadang.

Ya, Sungai Lukulo memang surganya batu di Indonesia. Berbagai jenis batu ada di tempat ini, termasuk batu jenis pirus. Batu permata tertua ini memang belum ada pembuktian secara legalitas. Namun batu yang pertama kali ditemukan oleh Supratikno (43) sejak tiga minggu lalu, batu ini banyak diburu para pecinta batu.

Mereka terpikat dengan aneka ragam warna yang ada pada batu ini seperti warna hijau, biru, ungu, coklat. Serta tak ketinggalan ciri khas dari batu pirus adalah serat emasnya yang menempel pada bagian batu. Jika diperhatikan, batu pirus Lukulo memang sangat mirip dengan batu pirus asal Persia. Mulai dari warna hijaunya, serat emasnya dan tingkat kekerasan batunya.

Menurut Suprat, panggilan akrabnya, batu pirus ini ditemukan secara tidak sengaja saat dirinya sedang mencari batu disepanjang aliran Sungai Lukulo. Saat menemukan bongkahan batu berwarna coklat penuh dengan tanah liat, Suprat terkejut, ternyata saat bongkahan batu tersebut dibersihkan muncul warna hijau dengan serat emasnya mirip sekali dengan batu jenis pirus.

“Waktu dibersihkan dengan air dan sikat berkawat halus, aneka warna pada batu semakin terlihat,” tutur Suprat, kepada Ekspres di rumahnya, Kamis (12/2).

Tidak hanya warna hijau, biru, kuning, coklat dan merah hati dengan serat-serat emas nampak jelas terlihat. Namun, kata suprat, pengolahan batu jenis ini untuk menjadi batu akik harus ekstra hati-hati karena batu ini bukan kategori batu kristal.

Penemuan jenis batu pirus Lukulo ini pun langsung terdengar ditelinga para kolektor batu.  Salah satunya adalah Subardi, kolektor batu asal Banyuwangi, Jawa Timur, yang sengaja datang untuk melihat secara langsung kebenaran tentang batu tersebut.

Saat melihat dengan teliti,  dengan berbekal senter ditangan kolektor muda ini pun berani langsung menawar dengan harga fantastis. Untuk bahan batu pirus seberat empat kilogram dengan harga Rp 30 juta. Namun si pemilik belum baru akan melepas batu dengan harga Rp 40 juta. Subardi mengaku puas dan kagum dengan warna yang ada pada pirus yang ditemukan di Sungai Lukulo.

“Setelah melihat langsung saya merasa tidak kecewa jauh-jauh datang kesini,” ucapnya.

Menurut Bardi, batu pirus ini masuk dalam kategori batu pirus pancawarna karena memiliki aneka macam warna. Seperti hijau, biru, coklat, kuning, ungu, merah hati dan tak ketinggalan serat-serat emas sebagai ciri khas dari batu pirus. Bahan batu jenis ini bahkan sudah diborong oleh seorang pengusaha asal Jakarta seberat 16 kilogram, dengan harga Rp 8 juta per kilogramnya.

Dirumah suprat, saat ini masih tersisa bahan seberat 24 kilogram yang akan diproduksi dalam bentuk cincin akik. Rencananya, dalam minggu ini sang pemilik akan membawa tanah dan serpihan batu ini ke Jakarta untuk diuji di laboratorium. Ini dilakukan untuk memastikan jenis batu temuan Suprat tersebut.(ori/ Radar Banyumas /LintasKebumen©2015)

Cari Batu Akik, Bocah SD Tewas Tenggelam

Aliran Sungai Luk Ulo Kebumen menjadi lokasi favorit bagi warga untuk berbuat batu untuk dipoles menjadi akik.(suaramerdeka.com/ Supriyanto)

Aliran Sungai Luk Ulo Kebumen menjadi lokasi favorit bagi warga untuk berbuat batu untuk dipoles menjadi akik.(suaramerdeka.com/ Supriyanto)

PEJAGOAN – Booming batu akik membuat masyarakat di Kebumen keranjingan mencari batu di Sungai Luk Ulo. Tak hanya orang dewasa, remaja hingga anak-anak pun banyak yang berburu batu untuk dipoles menjadi akik di sungai tersebut. Tanpa pengawasan orang tua, anak-anak sangat berbahaya jika dibiarkan bermain di sungai.

Seperti nasib tragis yang dialami Alis Lisky Pamuji (7). Bocah yang masih duduk di SD kelas 1 warga Dukuh Raung, Desa Peniron RT 03 RW 10 Kecamatan Pejagoan itu tewas tenggelam di Sungai Luk Ulo saat mencari batu akik. Peristiwa memilukan itu terjadi, Rabu (11/2) pukul 11.00.

Menurut sejumlah saksi, kejadian itu bermula sekitar pukul 10.00, sepulang dari sekolang korban bermaksud mencari batu akik di Sungai Luk Ulo. Dia pergi dari rumah dengan mengendarai sepeda bersama-sama empat temannya. Yakni Indra (7), Sodron (7), Agus (7), Slamet (7).

Namun  saat asyik mencari batu, korban terpeset dan tenggelam ke air dengan kedalaman kurang lebih satu meter. Karena korban tidak bisa berenang korban akhirnya tenggelam. AKBP Faizal Kapolres Kebumen melalui AKP Sugiriyanto Kapolsek Pejagoan membenarkan kejadian itu.

Setelah mendapatkan laporan pihaknya mendatangi lokasi kejadian. Setelah dilakukan identifikasi dan pemeriksaan bersama dokter setempat, disimpulka tidak ditemukan tanda-tanda penganiayaan dan kejadian itu murni kecelakaan. (Supriyanto/ Suaramerdeka.com /LintasKebumen©2015)

Penambangan Pasir Luk Ulo Ilegal, Semua Izin Sudah Kadaluwarsa

Aktifitas penambangan pasir ilegal sungai luk ulo kambuh lagi.  (Photo: KRjogja/ Dasih DW)

Aktifitas penambangan pasir ilegal sungai luk ulo kambuh lagi. (Photo: KRjogja/ Dasih DW)

KEBUMEN – Praktik penambangan pasir di sepanjang Sungai Luk Ulo Kebumen merupakan kegiatan ilegal. Pasalnya, sejak awal 2015, seluruh izin penambangan telah kadaluarsa. Hingga saat ini belum ada satu surat izin pun dikeluarkan instansi terkait.

Kepala Seksi Sumber Daya Mineral pada Dinas Sumber Daya Alam Energi Sumber Daya Mineral (SDA ESDM) Kebumen, Soipudin Damas membenarkan, semua aktivitas penambangan di sepanjang Sungai Luk Ulo sudah tidak berizin. Setelah izin habis, banyak yang enggan mengurusnya kembali. Apalagi setelah 2 Oktober 2014, Pemkab Kebumen tidak lagi memiliki kewenangan mengeluarkan izin.

“Sekarang yang mengeluarkan izin dari Dinas ESDM provinsi,” ujar Soipudin Damas, kemarin. Menurut dia, dari 32 penambang resmi terdaftar di Dinas SDA ESDM Kebumen, yang mengurus izin kembali, baru 11 penambang.

Mereka harus mengurus izin di Dinas ESDM Jateng di Semarang. Adapun untuk melakukan penambangan di Sungai Luk Ulo, penambang harus mendapatkan rekomendasi dari Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSO) di Yogyakarta. Salah satu pemilik lokasi penambangan pasir di Desa/Kecamatan Karangsambung, Muslimin, mengatakan masih banyak penambang yang malas mengurus kembali izin penambangan. Sebab, proses mengurus kembali izin sangat sulit.

Terlebih, sekarang izinnya harus sampai ke provinsi. “Saya sudah mengurus sendiri sampai ke Semarang, tapi sampai sekarang masih belum jelas keputusannya,” kata Muslimin, di lokasi penambangannya. Dia menyebutkan, di Desa Karangsambung sebelumnya terdapat tujuh lokasi penambangan dan semua sudah kedaluarsa izinnya. Tetapi yang masih tetap menambang hanya tinggal dua. “Saya saja baru dua bulan ini mulainya,” imbuhnya.

Mesin Sedot

Sementara itu, aktivitas penambangan di Sungai Luk Ulo tetap berjalan seperti biasa. Bahkan sebagian warga nekat menambang pasir dengan menggunakan mesin penyedot. Penambang lain, Solihin mengaku ingin menambang secara legal. Tetapi untuk mengurus perizinan sangat sulit.

Sekarang juga nambangnya tidak maksimal, seperti sebelumnya. Kepala Seksi Pemulihan Lingkungan Hidup KLH, Siti Durotul Yatimah menyarankan, agar penambangan dilakukan secara manual tidak menggunakan mesin sedot. Pasalnya, dengan mesin sedot sangat cepat merusak lingkungan.

“Selain itu, larangan juga berlaku di tikungan luar sungai,” ujar Siti Durotul Yatimah bersama Kasie Pengendalian Dampak dan Kelestarian Lingkungan Hidup, Teguh Yuliono, di sela-sela melakukan pemantauan. Kepala Bidang Penegakan Perda dan Peraturan Kepala Daerah Satpol PP Kebumen, Sugito Edi Prayitno, mengatakan tetap mengawasi keberadaan penambangan. (J19-32/ Suaramerdeka.com /LintasKebumen©2015)

Penambang Pasir Sungai Lukulo Ilegal

Penambang Pasir Sungai Lukulo Ilegal.

Penambang Pasir Sungai Lukulo Ilegal.

KARANGSAMBUNG – Ratusan penambang pasir di sepanjang Sungai Lukulo disinyalir ilegal. Pasalnya, sejak awal 2015 seluruh ijin penambangan telah kadaluarsa, dan hingga kini masih belum ada satupun surat ijin dikeluarkan dari instansi terkait. Meski demikian aktifitas penambangan di sungai terpanjang di Kebumen itu tetap berjalan seperti biasa.

Salah satu pemilik lokasi penamb angan pasir di Desa Karangsambung, Kecamatan Karangsambung, Muslimin, mengatakan masih banyak penambang yang malas mengurus kembali ijin penambangan. Sebab, untuk mengurus kembali sangat sulit prosesnya. Terlebih, sekarang ijinnya harus sampai ke provinsi.

“Saya sudah mengurus sendiri sampai ke Semarang, tapi sampai sekarang masih belum jelas keputusannya,” kata Muslimin, di lokasi penambangannya, Rabu (4/2).

Ia menyebut, di Desa Karangsambung sebelumnya terdapat tujuh lokasi penambangan dan semuanya sudah kadaluarsa ijinnya. Namun, yang masih tetap melakukan penambangan hanya tinggal dua. “Saya saja baru dua bulan ini mulainya,” ujarnya.

Pantauan di lokasi penambangan, masih banyak warga yang nekad menambang pasir baik menggunakan mesin penyedot maupun manual. Truk-truk pengangkut juga banyak yang antre mengangkut pasir. Penambang lain, Solihin, mengaku tetap melakukan penambangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Solihin mengaku, sebenarnya ingin menambang secara legal. Tapi untuk mengurus perijinan sangat sulit.

“Sekarang juga nambangnya tidak maksimal seperti sebelumnya,” kata dia

Dia menilai, dengan belum berijinnya semua penambang dapat lebih merusak sungai. Selain karena mesin sedot, juga terjadi karena tidak ada koordinator para penambang yang biasanya mengarahkan lokasi-lokasi mana yang boleh ditambang.
Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kabupaten Kebumen melakukan pemantauan langsung terhadap keberadaan aktifitas penambangan di wilayah Kecamatan Karangsambung dan Karanggayam, Rabu (4/2).

Pemantauan dilakukan, untuk mengetahui dampak lingkungan yang ditimbulkan dari aktifitas itu. Kepala Seksi Pemulihan Lingkungan Hidup KLH, Siti Durotul Yatimah, mengatakan pihaknya melakukan pengawasan terhadap aktifitas penambangan pasir. Dia menyarankan, sebaiknya penambangan dilakukan secara manual tidak menggunakan mesin sedot.

“Kalau dengan mesin sedot sangat cepat merusak lingkungannya,” kata Siti bersama, Kasi Pengendalian Dampak dan Kelestarian Lingkungan Hidup, Teguh Yuliono, disela-sela melakukan pemantauan.

Siti menghimbau, para penambang tidak melakukan aktifitasnya di tempat-tempat yang telah dilarang oleh Undang-undang. Tempat-tempat terlarang itu, di sekitar bangunan vital sungai seperti jembatan, sipon dengan radius 1000 meter ke arah hilir dan 500 meter ke arah hulu. Selain itu, larangan juga berlaku di tikungan luar sungai.(ori/ttg/ Radar Banyumas /LintasKebumen©2015)

Perlindungan Ikan Darat Belum Miliki Dasar Hukum

Reservart diandalkan untuk tempat berlindung ikan yang bertelur. (Foto : Dasih)

Reservart diandalkan untuk tempat berlindung ikan yang bertelur. (Foto : Dasih)

SADANG – Perlindungan terhadap perkembangbiakan ikan air tawar atau ikan darat hingga kini belum memiliki dasar hukum. Berbeda dengan perikanan laut yang sudah memiliki peraturan menteri tentang perlindungan terhadap lobster dan remujung yang bertelur.

“Karena itu, kami di birokrasi bidang perikanan masih mengandalkan strategi berupa pendekatan agar masyarakat memiliki kesadaran untuk menjaga kelestarian ikan di alam,” ungkap Kabid Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kebumen, Ir Sri Sudianto ditengah persiapan pemasangan ‘reservart’ di daerah aliran sungai (DAS) Luk Ulo Kecamatan Sadang, Kebumen, Selasa (03/02/2015).

“Di Kebumen, program andalan kami dalam hal pelestarian ikan di perairan umum dan darat adalah pembentukan kelompok pengawas (pokwas) dan pemasangan ‘reservart’ atau rumah ikan di dasar waduk dan sungai,” tambahnya.

Sedangkan Kasi Pelestarian dan Pengawasan DKP Kebumen, Mochammad Rosyidi BSc, menjelaskan, belum adanya dasar hukum tentang pelarangan penangkapan ikan daratyang bertelur menyebabkan masih banyak nelayan yang nekad menangkap ikan saat ikan memijah atau akan dan sedang bertelur.

Ikan-ikan itu biasanya mencari lokasi teduh di tepi perairan dan dilakukan di awal musim penghujan, seiring terjadinya perubahan cuaca panas kemarau ke cuaca dingin musim penghujan.

“Kondisi bertelur adalah kondisi darurat, ikan tak akan lari bila didekati yang tentu saja menggembirakan bagi si penangkap, karena bisa mendapatkan ikan banyak secara cepat dan tanpa susah payah mencari posisi ikan,” jelas Rosyidi.

Rendahnya kesadaran tentang pentingnya pelestarian ikan disebabkan bidang perikanan dulu belum diprioritaskan pembinaannya oleh Pemerintah. Prioritas baru muncul tahun 2014. Bila dulu nelayan berpola tangkap dan tangkap, sekarang nelayan harus menggunakan pola tangkap dan tebar (setelah menangkap ikan harus menebar benih).

Sampai Februari 2015 Kebumen baru memiliki empat pokwas Kecamatan Sadang, Alian, Poncowarno dan Sempor serta 3 reservart yaitu di Waduk Sempor, Waduk Wadaslintang dan Bendung Pejengkolan. (Dwi/ KRjogja.com  /LintasKebumen©2015)

Pabrik Genting Sokka Longsor

Ilustrasi

Ilustrasi

KEBUMEN – Pabrik genting Sokka di dekat Jembatan Luk Ulo Desa Muktisari, Kecamatan/ Kabupaten Kebumen terkena longsor. Kondisi fondasi bangunan yang digunakan untuk menyetak genting merek SK Sokka itu, bahkan sudah menggantung. Aktivitas pekerja di tempat kerajinan milik Sukur (60), warga Desa Kedungwinangun Kecamatan Klirong itu, kini dipindah ke sebelah barat. Longsor susulan di tempat itu masih mengancam. Terlebih hujan masih mengguyur di kabupaten berlogan Beriman ini.

“Sudah ada petugas yang datang mengecek lokasi longsor di sini. Namun sampai sekarang belum ada tindaklanjutnya,” kata Sunarno (46), warga Desa Kedungwinangun.

Dia khawatir, longsor yang terjadi akhir pekan lalu itu, merembet hingga mengenai jembatan yang melintasi Sungai Luk Ulo tersebut. Karena itu, pihak terkait diminta segera mengamankan tebing sungai yang terus terkikis itu. Menurut Sunarno, penanganan yang tepat dengan bronjongisasi. “Jembatan Luk Ulo ini sudah banyak yang ditambal karena retak-retak. Jangan sampai bertambah rusak, karena terkena longsor,” tambahnya.

Untuk diketahui, kerusakan jembatan Luk Ulo itu, akibat dilintasi angkutan berat saat pengalihan arus, menyusul jembatan Comal di Pantura Rusak. Kini terancam terkena longsor menyusul ambrolnya tanah di dekat jembatan itu. Bahkan longsoran tanah itu mengenai tempat kerajinan genting Sokka milik Sukur.

Kondisi tebing Sungai Luk Ulo yang membatasi Desa Muktisari dan Desa Kedungwinangun itu, memang mengkhawatirkan. Terlebih setiap saat ditambang untuk bahan batu bata atau genting. Kondisi yang membahayakan justru di sekitar jembatan Sungai Luk Ulo itu.

Pasalnya, selain diambil tanahnya juga diambil pasirnya. Truk-truk juga bersliweran mengangkut hasil penambangan di tempat tersebut. Mantan Kepala Desa Muktisari Khamid mengungkapkan, adanya aktivitas penambangan sekitar Sungai Luk Ulo mengakibatkan kerusakan lingkungan serta fasilitas umum, seperti jembatan dan jalan.

Bahkan menimbulkan percekcokan antara warga dengan penambang. Seperti yang terjadi di Desa Muktisari belum lama ini yang kemudian disikapi Satpol PP dengan menutup aktivitas penambangan di wilayah setempat. ‘’Kami berharap penambangan di tempat lain dari mulai hulu ke hilir juga ditutup agar kondisi lingkungan di sekitar Sungai Luk Ulo tidak bertambah rusak,” pintanya. (K5-32/ Suaramerdeka.com /LintasKebumen©2015)