sungai luk ulo

Ini Dampak Penambangan Pasir Berlebihan di Sungai Luk Ulo

sungai luk ulo

KARANGSAMBUNG – Penambangan pasir, jika dilakukan dalam batasan yang wajar akan menguntungkan bagi lingkungan terutama Sungai Lukulo. Tetapi jika dilakukan secara berlebihan akan berdampak buruk bagi lingkungan. Salah satu dampaknya adalah keringnya sumur warga di sekitar Sungai Lukulo.

Peneliti Teknis Balai Informasi dan Konservasi Kebumian Karangsambung (UPT BIKKK) LIPI, Puguh Dwi Raharjo menjelaskan, sebenarnya penambangan pasir di sekitar Sungai Lukulo bisa bermanfaat bagi sungai tersebut.

Itu karena penambangan pasir bisa mengurangi sedimentasi atau mengurangi endapan material dari hulu sungai yang terbawa sampai ke Lukulo. Jika endapan itu tidak diambil, sungai Lukulo akan mengalami sedimentasi yang akan berakibat pada pendangkalan sungai.

“Tapi jika dilakukan berlebihan, sumur warga yang tinggal disekitar Sungai Lukulo juga akan menyusut bahkan bisa kering,” terang Puguh Dwi Raharjo.

Menurutnya, Sungai Lukulo adalah sungai yang bertipe influent atau sungai yang airnya ikut mengisi ketersediaan air tanah. Biasanya, kata dia, arah aliran air tanah bersinggungan dengan air sungai. Namun akuifernya (lapisan bawah tanah yang mengandung air dan dapat mengalirkan air) berada jauh di bawah aliran air sungai.

Maka, lanjut Puguh, jika jumlah pasir atau muatan sedimen di Sungai Lukulo yang ditambang lebih banyak dari jumlah muatan sedimen yang ada akan menimbulkan turunnya permukaan air sungai. Jika permukaan sungai turun maka air di sumur warga disekitar sungai akan ikut turun.

Lebih jauh, Puguh menjelaskan, jika material sedimen atau pasir yang ditambang lebih banyak dari yang dihasilkan sungai, otomatis permukaan air sungai turun. Dampaknya sumur-sumur warga juga ikut turun. “Itu karena Lukulo adalah sungai influent, debit airnya menyuplai sumur-sumur warga,” tegasnya.

Pakar Hidrologi ini juga berharap Pemkab Kebumen bisa mengoptimalkan penambangan pasir di Sungai Lukulo dengan mengacu pada rekomendasi yang diberikan LIPI. Penambangan pasir yang dilakukan di sepanjang Sungai Lukulo perlu diatur agar optimal dan tidak menimbulkan kerusakan.

“Kita sudah pernah memberikan rekomendasi terkait hal itu. Penambangan pasir jangan dilarang, cuma harus dioptimalkan, dikontrol secara ketat agar tidak sampai merusak, kasihan warga disekitar sungai sumurnya kering. Kita harus bisa membangun kesadaran,” imbuhnya.

Meski bermanfaat, tapi Puguh melarang penambangan dilakukan dengan menggunakan mesin sedot. Sebenarnya, kata dia, Pemkab Kebumen sudah melarang penggunaan mesin sedot. Namun pelarangan tersebut tidak disertai dengan pengawasan yang ketat sehingga banyak penambang yang “ngeyel” menggunakan mesin sedot.

“Tapi sayang pengawasannya kurang dan banyak penambang yang masih nekad tidak ditindak tegas. Kalau hal ini diteruskan saya kasihan warga disekitar sungai, tiap kemarau pasti kesulitan air, seharusnya tidak begitu,” tandasnya. (ori/ Radar Banyumas /LintasKebumen©2015)

Advertisements

Masih Ada Emas di Sungai Luk Ulo

pencari emas

KARANGGAYAM – Berbekal linggis, caduk, dan alat dulang emas, Saino (40) dan Kasijan (35), keduanya warga Desa Wonotirto, Kecamatan Karanggayam, Kabupaten Kebumen, berburu butiran emas di Sungai Luk Ulo.

Dari kerja kerasnya, terkadang mendapatkan bongkahan emas seberat 2 gram yang satu gramnya laku dijual Rp 370.000. Pekerjaannya yang selalu berendam di air dan di bawah terik sinar matahari, membuat badannya hitam legam. Namun hal itu tidak dihiraukan. Apalagi bagi Saino dan Kasijan, pekerjaan mendulang emas cukup untuk menghidupi keluarga.

Saino dan Kasijan bekerja sama dalam mencari butiran emas. Jika Saijo mendulang, Kasijan yang menggali tanah. Lokasi pencarian emas berpindah-pindah. Namun masih di sepanjang Sungai Luk Ulo terutama di bagian hulu.

Memang tidak setiap hari keduanya mendapatkan butiran-butiran emas. Namun jika lagi beruntung, belum lama berendam sudah mendapatkan bongkahan emas seberat 1-2 gram. “Seringnya sih dapat butiran-butiran emas lembut. Sehari bisa 100 hingga 200 miligram,” terang Saino.

Butiran emas dijual ke pengepul di desanya. Harga yang berlaku saat ini, Rp 370.000 pergram. “Karena kerjanya bareng, hasilnya dibagi dua,” jelas Kasijan. (Suk/ KRjogja.com /LintasKebumen©2015)

Sulit Air, Petani Sedot Sungai Luk Ulo

sedot air sungai

KARANGSAMBUNG – Musim kemarau di Kebumen yang hingga pertengahan Oktober 2015 sudah berlangsung hampir 4 bulan lamanya, berdampak semakin menurunkan permukaan air tanah, termasuk sumur yang berada di ladang hortikultura sejumlah desa kawasan pegunungan Kebumen.

Sebagian petani pemilik ladang pun akhirnya harus menyedot air Sungai Luk Ulo untuk menyirami tanaman di ladangnya. Akibatnya, modal usaha bercocok tanam petani setempat di musim kemarau menjadi jauh lebih tinggi dibandingkan musim penghujan.

“Kemarau yang masih berlangsung sampai hari ini menyebabkan air sumur di ladang kami semakin menurun dan tak bisa mencukupi kebutuhan tanaman kami. Kini permukaan air sumur sudah mencapai 5 meter di bawah permukaan tanah. Padahal awal kemarau sekitar awal Juni 2015 lalu, masih 2 meter di bawah permukaan tanah,” ujar Wendo petani Dukuh Sanggrahan Desa/Kecamatan Karangsambung Kebumen, di ladangnya, Kamis (15/10/2015).

Untuk mencukupi kebutuhan air ladang jagungnya, sejak sebulan lalu Wendo harus menyedot air Sungai Luk Ulo yang berjarak 100 meter dari ladangnya. Sedangkan ladang milik petani lainnya ada yang berjarak 200 meter sampai 300 meter dari Sungai Luk Ulo atau butuh pipa pralon penyalur air yang lebih panjang.

Adapun areal jagung Wendo seluas 1.400 meter pesegi itu harus disiram dua minggu sekali. Selama 3 bulan penanaman jagung dilakukan penyiraman 6 kali yang menghabiskan biaya Rp 990 ribu. Agar air bisa bertahan melembabkan tanah selama dua minggu, dilakukan perendaman areal jagung itu dengan air setinggi 3 sentimeter selama 3 sampai 4 jam. (Dwi/ KRjogja.com /LintasKebumen©2015)

Bendung Kedungsamak Kering, Jadi Sarana Penyeberangan

bendung kedungsamak

PEJAGOAN – Musim kemarau membuat Bendung Kedungsamak menjadi sarana penyeberangan. Warga begitu mudah melintasi Sungai Luk Ulo melalui dasar bendung yang tidak lagi tergenang air. Ujung barat Bendung Kedungsamak berada di Desa Kebagoran, Kecamatan Pejagoan. Sedangkan ujung timur berada di Desa Kemangguhan Kecamatan Alian.

Menyeberangi Sungai Luk Ulo melalui Bendung Kedungsamak, mempersingkat jarak bagi warga Alian yang hendak ke wilayah Pejagoan bagian utara. Demikian pula sebaliknya. Warga yang menyeberang, tidak hanya yang berjalan kaki, namun tidak sedikit yang menggunakan sepeda atau sepeda motor.

“Menyeberang Bendung Kedangsamak, mempersingkat jarak karena jika melalui Jembatan Tembana, harus memutar jauh melalui Kota Kebumen,” ujar Mahmud (46) warga Kebagoran ketika hendak ke rumah familinya di Kemangguhan, Jumat (21/8/2015).

Bendung Kedungsamak merupakan bangunan pengambilan air (intake) Sungai Luk Ulo. Bendung tersebut dibangun untuk mengatasi masalah air pada lahan sawah seluas 8.900 hektar di wilayah Kecamatan Pejagoan, Klirong, Petanahan, Puring dan Adimulyo. (Suk/ KRjogja.com /LintasKebumen©2015)

Penambang Kesulitan Ambil Pasir Luk Ulo

Penambangan pasir Sungai Luk Ulo. (Photo: KRjogja)

Penambangan pasir Sungai Luk Ulo. (Photo: KRjogja)

PEJAGOAN – Para penambang pasir Luk Ulo mengaku kesulitan mengambil 4-6 truk setiap hari. Padahal sekitar lima tahun sebelumnya bisa mendapatkan 8-10 truk per hari. Sulitnya mendapatkan pasir Luk Ulo itu pun menjadikan truk-truk harus antre lama. Armada untuk mengangkut pasir di sungai berkelok-kelok itu bahkan kerap diinapkan.

“Kami sampai bermalam untuk menunggu dapat muatan pasir. Ini memang sungguh memperihatinkan,” kata Sukirno (45), sopir truk asal Cilacap yang mengaku sudah dua malam antre di Desa Peniron, Kecamatan Pejagoan, Kebumen.

Menurut Wahyudi (60) warga RT2 RW2 Desa Peniron, jumlah pasir saat ini semakin sedikit, karena diambil tiada henti. Kondisi itu pun merepotkan banyak pihak. Selain penambang, juga para awak truk yang akan mengangkut bahan bangunan tersebut. Terlebih bagi warga sekitar yang kian mengkhawatirkan akan bertambah parahnya kerusakan lingkungan akibat penambangan pasir itu.

Pantauan di lapangan, deretan truk antre menunggu giliran mendapatkan pasir. Beberapa pekerja pun sibuk memasukan pasir ke dalam bak truk. Sesekali terhenti, karena pasir yang diambil menggunakan mesin sedot itu lama terkumpul. Mesin sedot yang dihubungkan dengan pipa di dasar sungai itu hanya menyemburkan sedikit pasir bebarengan dengan air.

“Malah seringnya yang keluar adalah kerikil, bukan pasir,” kata Purwanto (54), salah satu penambang pasir Luk Ulo.

Hamparan Pasir

Purwanto yang warga Karangsambung itu mengisahkan, dahulu di tepi Sungai Luk Ulo terdapat hamparan pasir yang sangat luas. Biasanya tempat itu dijadikan oleh anak-anak untuk bermain sepak bola. Namun kini sudah tidak ada lagi. Bahkan para penambang sudah mengambil pasir di tengah sungai dan tempat-tempat terlarang, seperti dekat jembatan dan tikungan sungai.

Salah satu penjual pasir Gunawam (38) warga Desa Argopeni Kecamatan/Kabupaten Kebumen mengatakan, selain kesulitan mendapatkan pasir, permintaan bahan bangunan tersebut juga tengah sepi. “Biasanya dalam sehari permintaan pasir mencapai lima truk. Tetapi sebulan ini hanya satu atau dua truk saja. Bahkan beberapa hari ini tidak ada yang pesan,” jelasnya.

Terpisah, Ketua Forum Peduli Konservasi Lahan dan Bebatuan Dwi Kurniawan mengatakan, berkurangnya pasir Luk Ulo itu menandakan semakin bertambahnya tingkat kerusakan di sungai tersebut. Oleh karena itu, semua pihak harus menyikapinya dengan bijak agar tidak menimbulkan bencana yang lebih besar di kemudian hari.

Selain melibatkan penambang dan warga sekitar Sungai Luk Ulo, juga pemerintah desa, kecamatan, Pemkab dan hingga pusat. “Kami tahu kerusakan lingkungan itu, karena ulah tangan manusia. Jadi penanganannya pun harus dengan mengedepankan kebersamaan membangun,” jelasnya. (K5-32/ Suaramerdeka.com /LintasKebumen©2015)

“Stok” Pasir Luk Ulo Nyaris Habis

Truk yang antre untuk menunggu giliran mendapatkan pasir

Truk yang antre untuk menunggu giliran mendapatkan pasir

PEJAGOAN – Keberadaan pasir di Sungai Luk Ulo semakin menipis. Biasanya para penambang bisa mengambil 8-10 truk perhari. Namun saat ini para penambang hanya bisa mengambil pasir dengan jumlah 4-6 truk saja perhari. Seperti halnya di Desa Peniron Kecamatan Pejagoan.

Menurut keterangan Wahyudi (60) warga RT 2 RW 2 Desa Peniron Kecamatan Pejagoan mengatakan, saat ini jumlah pasir di Sungai Luk Ulo semakin sedikit. Para penambang hanya bisa mendapatkan empat truk saja setiap harinya. Akibatnya banyak sekali truk yang harus antri untuk bisa mendapatkan pasir.

“Terkadang para sopir truk tersebut, harus nginep di pinggir sungai demi untuk bisa mendapatkan pasir,” jelasnya kepada Ekspres, Rabu (20/5).

Pantauan Ekspres di lapangan, terlihat banyak truk yang antre untuk menunggu giliran mendapatkan pasir. Beberapa pekerja penambang pasir dengan aktif memasukan pasir bak truk. Pasir didapat dengan menggunakan mesin sedot yang keluar bebarengan dengan air.

Pengambilan pasir memang sudah dilakukan dengan cara menggunakan mesin sedot. Tapi karena jumlah pasirnya tinggal sedikit sehingga yang didapat kebanyakan hanya batu krokos dan air. Ketika disinggung mengenai penyebab kelangkaan pasir dia mengungkapkan, dulu setiap hari, pasir yang ada di Sungai Luk Ulo diambil hingga puluhan truk.

Hal ini tentu saja membuat jumlah pasir semakin berkurang. Dulu, di tepi Sungai Luk Ulo juga terdapat hamparan pasir yang sangat luas, biasanya tempat itu dijadikan oleh anak-anak untuk bermain sepak bola. “Kini ya sudah tidak ada lagi, bahkan para penambang juga sudah mengambil pasir di tengah sungai,” katanya.

Terpisah, salah satu penjual pasir Gunawam (38) warga Desa Argopeni Kecamatan Kebumen mengatakan jika saat ini permintaan pasir juga sedang sepi. Biasanya dalam sehari permintaan mencapai hingga lima truk pasir. Namun sekitar satu bulan ini permintaan cendrung sepi.

Hal ini kemungkinan disebabkan sedang sepinya ekonomi. Pasalnya beberapa informasi menyebutkan kalau permintaan genteng juga sedang sepi. “Saat jarang yang sedang membangun rumah. Maka permintaan pasir dan genteng juga menurun,” terangnya. (mam/nun/ Radar Banyumas /LintasKebumen©2015)

Batu Giok ‘Raksasa’ Juga Ada di Kebumen

Bongkahan batu giok jawa di Kebumen. (Foto: Sukmawan)

Bongkahan batu giok jawa di Kebumen. (Foto: Sukmawan)

KARANGGAYAM – Batu giok jawa yang beratnya lebih dari 80 kilogram, dimiliki Suratun (52) warga Dukuh Gogokbaning, Desa Wonotirto, Kecamatan Karanggayam, Kabupaten Kebumen. “Sejumlah orang sudah mengajukan penawaran, namun belum ada kecocokan harga,” ujar Suratun yang memastikan batu gioknya asli dari Kebumen.

Suratun juga memiliki batu dengan berbagai jenis, ukuran, bentuk, warna, dan motif. Banyak pula yang bentuknya mampu menimbulkan berbagai imajinasi. Semuanya berasal dari Kebumen. Baginya, ‘bergelut’ dengan batu adalah hobi sejak muda. Sejak demam akik melanda, Suratun ikut menikmati meningkatnya pesanan. Tidak ada patokan harga untuk batu-batu yang dimiliki.

“Harga persahabatan, yang penting menambah persaudaraan,” ujar Suratun di rumahnya yang tidak jauh dari Sungai Luk Ulo. (Suk/ KRjogja.com /LintasKebumen©2015)