penambang pasir

Penambang Kesulitan Ambil Pasir Luk Ulo

Penambangan pasir Sungai Luk Ulo. (Photo: KRjogja)

Penambangan pasir Sungai Luk Ulo. (Photo: KRjogja)

PEJAGOAN – Para penambang pasir Luk Ulo mengaku kesulitan mengambil 4-6 truk setiap hari. Padahal sekitar lima tahun sebelumnya bisa mendapatkan 8-10 truk per hari. Sulitnya mendapatkan pasir Luk Ulo itu pun menjadikan truk-truk harus antre lama. Armada untuk mengangkut pasir di sungai berkelok-kelok itu bahkan kerap diinapkan.

“Kami sampai bermalam untuk menunggu dapat muatan pasir. Ini memang sungguh memperihatinkan,” kata Sukirno (45), sopir truk asal Cilacap yang mengaku sudah dua malam antre di Desa Peniron, Kecamatan Pejagoan, Kebumen.

Menurut Wahyudi (60) warga RT2 RW2 Desa Peniron, jumlah pasir saat ini semakin sedikit, karena diambil tiada henti. Kondisi itu pun merepotkan banyak pihak. Selain penambang, juga para awak truk yang akan mengangkut bahan bangunan tersebut. Terlebih bagi warga sekitar yang kian mengkhawatirkan akan bertambah parahnya kerusakan lingkungan akibat penambangan pasir itu.

Pantauan di lapangan, deretan truk antre menunggu giliran mendapatkan pasir. Beberapa pekerja pun sibuk memasukan pasir ke dalam bak truk. Sesekali terhenti, karena pasir yang diambil menggunakan mesin sedot itu lama terkumpul. Mesin sedot yang dihubungkan dengan pipa di dasar sungai itu hanya menyemburkan sedikit pasir bebarengan dengan air.

“Malah seringnya yang keluar adalah kerikil, bukan pasir,” kata Purwanto (54), salah satu penambang pasir Luk Ulo.

Hamparan Pasir

Purwanto yang warga Karangsambung itu mengisahkan, dahulu di tepi Sungai Luk Ulo terdapat hamparan pasir yang sangat luas. Biasanya tempat itu dijadikan oleh anak-anak untuk bermain sepak bola. Namun kini sudah tidak ada lagi. Bahkan para penambang sudah mengambil pasir di tengah sungai dan tempat-tempat terlarang, seperti dekat jembatan dan tikungan sungai.

Salah satu penjual pasir Gunawam (38) warga Desa Argopeni Kecamatan/Kabupaten Kebumen mengatakan, selain kesulitan mendapatkan pasir, permintaan bahan bangunan tersebut juga tengah sepi. “Biasanya dalam sehari permintaan pasir mencapai lima truk. Tetapi sebulan ini hanya satu atau dua truk saja. Bahkan beberapa hari ini tidak ada yang pesan,” jelasnya.

Terpisah, Ketua Forum Peduli Konservasi Lahan dan Bebatuan Dwi Kurniawan mengatakan, berkurangnya pasir Luk Ulo itu menandakan semakin bertambahnya tingkat kerusakan di sungai tersebut. Oleh karena itu, semua pihak harus menyikapinya dengan bijak agar tidak menimbulkan bencana yang lebih besar di kemudian hari.

Selain melibatkan penambang dan warga sekitar Sungai Luk Ulo, juga pemerintah desa, kecamatan, Pemkab dan hingga pusat. “Kami tahu kerusakan lingkungan itu, karena ulah tangan manusia. Jadi penanganannya pun harus dengan mengedepankan kebersamaan membangun,” jelasnya. (K5-32/ Suaramerdeka.com /LintasKebumen©2015)

Advertisements

“Stok” Pasir Luk Ulo Nyaris Habis

Truk yang antre untuk menunggu giliran mendapatkan pasir

Truk yang antre untuk menunggu giliran mendapatkan pasir

PEJAGOAN – Keberadaan pasir di Sungai Luk Ulo semakin menipis. Biasanya para penambang bisa mengambil 8-10 truk perhari. Namun saat ini para penambang hanya bisa mengambil pasir dengan jumlah 4-6 truk saja perhari. Seperti halnya di Desa Peniron Kecamatan Pejagoan.

Menurut keterangan Wahyudi (60) warga RT 2 RW 2 Desa Peniron Kecamatan Pejagoan mengatakan, saat ini jumlah pasir di Sungai Luk Ulo semakin sedikit. Para penambang hanya bisa mendapatkan empat truk saja setiap harinya. Akibatnya banyak sekali truk yang harus antri untuk bisa mendapatkan pasir.

“Terkadang para sopir truk tersebut, harus nginep di pinggir sungai demi untuk bisa mendapatkan pasir,” jelasnya kepada Ekspres, Rabu (20/5).

Pantauan Ekspres di lapangan, terlihat banyak truk yang antre untuk menunggu giliran mendapatkan pasir. Beberapa pekerja penambang pasir dengan aktif memasukan pasir bak truk. Pasir didapat dengan menggunakan mesin sedot yang keluar bebarengan dengan air.

Pengambilan pasir memang sudah dilakukan dengan cara menggunakan mesin sedot. Tapi karena jumlah pasirnya tinggal sedikit sehingga yang didapat kebanyakan hanya batu krokos dan air. Ketika disinggung mengenai penyebab kelangkaan pasir dia mengungkapkan, dulu setiap hari, pasir yang ada di Sungai Luk Ulo diambil hingga puluhan truk.

Hal ini tentu saja membuat jumlah pasir semakin berkurang. Dulu, di tepi Sungai Luk Ulo juga terdapat hamparan pasir yang sangat luas, biasanya tempat itu dijadikan oleh anak-anak untuk bermain sepak bola. “Kini ya sudah tidak ada lagi, bahkan para penambang juga sudah mengambil pasir di tengah sungai,” katanya.

Terpisah, salah satu penjual pasir Gunawam (38) warga Desa Argopeni Kecamatan Kebumen mengatakan jika saat ini permintaan pasir juga sedang sepi. Biasanya dalam sehari permintaan mencapai hingga lima truk pasir. Namun sekitar satu bulan ini permintaan cendrung sepi.

Hal ini kemungkinan disebabkan sedang sepinya ekonomi. Pasalnya beberapa informasi menyebutkan kalau permintaan genteng juga sedang sepi. “Saat jarang yang sedang membangun rumah. Maka permintaan pasir dan genteng juga menurun,” terangnya. (mam/nun/ Radar Banyumas /LintasKebumen©2015)