Delapan Kecamatan Belum Teraliri Irigasi

saluran irigasi

KEBUMEN – Delapan kecamatan di Kabupaten Kebumen belum teraliri irigasi. Masing-masing adalah Kecamatan Sempor, Gombong, Kuwarasan, Buayan, Rowokele, Karanganyar, Adimulyo, dan sebagian Kecamatan Sruweng.

Praktis, pengolahan sawah di wilayah tersebut belum bisa dilakukan. Terlebih hujan menyelimuti kabupaten berslogan Beriman ini belum sanggup menggenangi sawah-sawah.

Sehingga masa tanam pun diperkirakan mundur. Ketua Komisi B DPRD Kebumen, Sudarmaji mendorong petani segera mengolah tanah. Terutama di wilayah yang telah dialiri irigasi seperti Kecamatan Kebumen, Kutowinangun, Prembun, Alian, Ambal, Mirir, Bonorowo, Petanahan, Puring, dan Buluspesantren.

“Kita berkejaran dengan waktu. Jadi, wilayah yang telah dialiri irigasi perlu segera mengolah tanah dan tanam,” katanya.

Bagi yang belum dialiri irigasi, lanjut politisi Partai Gerindra tersebut, diminta menggunakan varietas padi berumur pendek seperti IR- 64. Hal itu dilakukan agar tanam berikutnya tidak mundur terlampau jauh sehingga indek penanaman (IP) 300 persen berupa padi-padipalawija bisa dilakukan.

Tanam Molor

Sesuai jadwal, tanam kali ini mestinya Oktober dan tanam berikutnya Maret 2016. Namun hingga minggu kedua November ini ternyata sebagian besar petani belum mengolah tanah. Sehingga tanam seluas 39.748 hektare di Kebumen mundur sekitar dua bulan.

“Kalau hujannya hanya sebentar-sebentar saja, tentu molornya tambah lama lagi,” imbuh Sudarmaji sembari mengatakan, kondisi tersebut akan berdampak pada molornya tanam berikutnya dan tidak mencapai padi-padi-palawija selama setahun.

Kepala Bidang Irigasi pada Dinas Sumber Daya Air Energi Sumber Daya Mineral (SDAESDM) Kebumen Muchtarom mengemukakan, irigasi dari Waduk Wadaslintang sudah mengalir sejak 16 Oktober lalu. Adapun Waduk Sempor belum dialirkan karena masih menunggu terisi hingga 25 juta m3.

“Dari delapan kecamatan belum teraliri itu dari daerah irigasi Waduk Sempor,” jelasnya.

Hingga Jumat (13/11), volume Waduk Sempor baru 7,698 juta m3, sedangkan Waduk Wadaslintang 196,093 juta m3. Diharapkan hujan kembali mengguyur Kebumen untuk menambah volume waduk, terutama Waduk Sempor yang mengalami pendangkalan akibat sedimentasi tersebut. (K5-52/ suaramerdeka.com /LintasKebumen©2015)

Advertisements

Kemarau, Petani Rumput Gajah ‘Sumringah’

gajah2an

PETANAHAN – Di tengah berlangsungnya kemarau saat ini, petani rumput gajah di desa-desa pesisir Kebumen sangat beruntung. Sebab, rumputnya laris dibeli para peternak sapi dan pedagang hijauan makanan ternak dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan harga jual di musim penghujan.

“Mengingat berbagai desa pesisir Kebumen adalah sentra sapi, maka kebun rumput gajah atau oleh warga pesisir Kebumen disebut ‘kebon gajahan’ menjadi kebun andalan petaninya di musim kemarau. Peternak sapi banyak yang memburu rumput ini karena di musim kemarau dianggap sebagai makanan terbaik bagi sapi mereka,” ujar petani rumput gajah Desa Karangrejo Kecamatan Petanahan Kebumen, Kartodikromo, di lahannya, Rabu (04/11/2015).

Karto, pemilik 4.000 meter pesegi kebun rumput gajah, menjelaskan bahwa dengan kondisi daunnya yang hijau segar,cmenyebabkan rumput gajah dianggap sebagai makanan terbaik bagi sapi di musim kemarau, dibandingkan hijauan makanan ternak lainnya.

“Di musim kemarau berbagai jenis rumput liar dan daun palawija biasanya kondisinya kurang segar. Karena itu, rumput gajah dari kebon gajahan dianggap sebagai pakan terbaik sapi di musim kemarau,” jelas Kromo yang selama kemarau ini menjual rumput gajahnya Rp 20 ribu/ikat.

Sedangkan di musim penghujan hanya Rp 10 ribu sampai Rp 12 ribu/ikat. Digambarkan, satu ikat rumput gajahnya berdiameter ‘nem kilan’ (enam jengkal) atau sekitar 120 sentimeter yang cukup untuk konsumsi sehari seekor sapi dewasa. (Dwi/ KRjogja.com /LintasKebumen©2015)

Kemarau Panjang, Produksi Nira Turun 55 Persen

petani nira

KLIRONG – Berlangsungnya musim kemarau hingga awal November 2015 berdampak turunnya produksi nira pohon kelapa di Kebumen. Imbasnya, selama berlangsungnya kemarau ini terjadi penurunan produksi gula kelapa.

“Penyadapan nira dari 39 pohon kelapa selama sehari semalam, yaitu sejak kemarin pagi sampai siang ini, menghasilkan 45 liter nira yang menghasilkan 8 kilogram gula kelapa,” ungkap perajin gula kelapa Desa Pandan Lor Kecamatan Klirong Kebumen, Wariyah,di rumahnya, Selasa (03/11/2015).

Menurut Wariyah, penurunan produksi nira pada kemarau tahun ini mencapai 50 % hingga 55 % dibandingkan musim penghujan lalu. Di musim penghujan lalu nira dari 39 pohon kelapa miliknya bisa mencapai 90 liter hingga 100 liter per hari. Dari 90 liter hingga 100 liter nira tersebut, dihasilkan gula sebanyak 16 kilogram hingga 17 kilogram.

“Selain musim kemarau, penurunan nira juga disebabkan oleh panasnya cuaca dan besarnya tiupan angin. Karena itu, tetesan nira akan keluar banyak pada saat suhu udara tak panas dan tiupan anginnya kecil,” jelas Wariyah.

Kelangkaan nira di musim kemarau ini menyebabkan harga gula kelapa di tingkat perajin naik tajam dibandingkan harga gula kelapa di musim penghujan. Saat ini, gula kelapa milik perajin dibeli oleh pedagang rata-rata Rp 12 ribu/kilogram. Sedangkan harga eceran gula kelapa di pasaran mencapai Rp 14 ribu/kilogram. (Dwi Dasih/ KRjogja.com /LintasKebumen©2015)

Kekeringan di Jateng Selatan Meluas, Udara Panas Dirasakan

Ilustrasi kantor Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). (Photo: Antara)
Ilustrasi kantor Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). (Photo: Antara)

KEBUMEN – Udara panas siang hari dirasakan oleh warga Kabupaten Kebumen lebih panas dalam beberapa terakhir. Dari laman Badan Metoerologi Klimatologi dan Geofisikan (BMKG) menunjukan suhu udara di Kebumen maksimal 33 derajat celsius.

Suhu tersebut mengalami kenaikan 2 derajat celcius dari sebelumnya yakni 31 derajat celcius. Namun demikian suhu udara tersebut masih normal di musim kemarau seperti saat ini.

Sementara itu kekeringan di wilayah Jawa Tengah bagian selatan semakin meluas, kata Kepala Kelompok Teknisi Stasiun Meteorologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Cilacap Teguh Wardoyo dilansir dari laman antaranews.com.

“Dari pantauan kami, wilayah yang mengalami kekeringan ekstrem semakin meluas. Ini karena beberapa wilayah yang sebelumnya masuk kategori kemarau sangat panjang, kini menjadi kekeringan ekstrem,” katanya, Selasa.

Menurut dia, suatu wilayah masuk kategori kekeringan ekstrem jika lebih dari 60 hari tidak ada hujan, sedangkan kemarau sangat panjang jika dalam kurun 31-60 hari tidak ada hujan.

Bahkan, kata dia, ada beberapa wilayah yang telah lebih dari 90 hari tidak ada hujan, antara lain daerah-daerah di pesisir selatan Cilacap, wilayah barat Cilacap, sebagian Kabupaten Banyumas, Kebumen, dan Purworejo.

Selain itu, lanjut dia, kebakaran hutan juga banyak terjadi. Di Kabupaten baru-baru ini terjadi di kawasan hutan perbukitan Endrakila Desa/Kecamatan Ayah. Ia mengatakan bahwa kondisi tersebut disebabkan pengaruh fenomena “El Nino” di wilayah Jateng selatan masih kuat.

“Kami prakirakan awal musim hujan di wilayah Kebumen diprakirakan pada dasarian kedua bulan November, ” katanya.

Dia mengakui bahwa tanda-tanda akan datangnya musim hujan sebenarnya mulai terlihat dan dapat dirasakan, antara lain adanya pembentukan awan hujan dan hawa terasa panas meski suhu udara normal. (ant/ Rini /LintasKebumen©2015)

Dampak Kemarau Panjang, 2016 Terancam Gagal Panen

menanam padi

KEBUMEN – Tanam padi kali ini dipastikan mundur dua bulan dari kondisi normal. Akibatnya, pada tahun 2016 mendatang tidak bisa memenuhi indeks penanaman (IP) 300 persen berupa padi-padi-palawija.

“Paling hanya padi-padi saja. Itu pun pada tanam gadu (taman kedua-Red) terancam gagal panen,” kata Kabid Tanaman Pangan dan Hortukultura dapa Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kebumen, Machasin.

Ancaman gagal panen itu, selain karena waktu yang terbuang juga kurangnya ketersediaan air. Menurut Machasin, tanam gadu itu berlangsung sekitar akhir April 2016. Tanaman itu harus tercukupi air sampai akhir Agustus.

Namun dengan kekeringan yang masih berlangsung saat ini, maka akan memengaruhi kondisi padi yang akan ditanam nanti. Dan padi yang dihasilkan pun menjadi gabuk (bulir tidak berisi gabah). Machasin menyebut dengan istilah gabuk mingkem, di mana kelihatan ada isinya namun di dalamnya kosong.

“Intinya adalah gagal panen,” sambungnya.

Terlebih Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksikan hujan di wilayah Kebumen masih di bawah normal. Itu pun berlangsung pada minggu pertama dan ketiga November di wilayah Kebumen bagian tengah dan selatan. Sehingga bisa dikatakan hingga akhir November masih kemarau. Padahal mestinya, pada awal Desember sudah tutup tanam.

“Untuk kondisi normal, umumnya mulai ada air pada awal Oktober. Dan biasanya pada minggu pertama Oktober sudah hujan,” jelas Machasin sembari menambahkan, dengan kondisi tersebut akan kehilangan waktu dua bulan. Jadi berpengaruh terhadap pola tanam dan dirasakan dampaknya pada 2016 mendatang.

Menunggu Hujan

Machasin yang didampingi Kasi Produksi dan Perlindungan Tanaman Pangan Nasrudin pun mengungkapkan produksi padi tahun ini. Di mana dari hasil dua kali panen tercatat sebanyak 495.848,58 ton gabah kering giling (GKG). Produksi padi tersebut dari luas panen mencapai 75.751 hektare selama dua musim.

“Dan catatannya masih ada yang belum masuk di sawah seluas 3.299 hektare,” jelas Machasin sembari mengatakan, produksi padi tersebut meningkat dibandingkan tahun 2014 yang hanya 448.270,25 ton.

Di kabupaten berslogan Beriman ini terdapat luas sawah 39.748 hektare. Untuk mengantisipasi ancaman gagal panen pada tahun 2016 mendatang, Machasin berharap waktu dua bulan yang terbuang ini bisa dikejar.

’’Sebagai manusia, memang kita tidak punya kekuatan apa-apa untuk menghadapi kemarau panjang. Namun itu bisa disiasati secara bersama-sama oleh pemilik sawah dengan melakukan percepatan tanam. Jika ada air, cepat-cepatlah mengolah tanah dan tanam padi. Upayakan dengan cara sebar pethuk untuk mengejar waktu yang hilang serta kurangnya ketersediaan air,” jelasnya.\

Kepala Bidang Irigasi pada Dinas Sumber Daya Air Energi Sumber Daya Mineral (SDA ESDM) Kabupaten Kebumen Muchtarom mengatakan, irigasi dari Waduk Sempor belum bisa dialirkan. “Kami masih menunggu hujan dan terisi air kira-kira 25 juta m3,” katanya.

Adapun Waduk Wadaslintang mulai dialirkan 16 Oktober untuk saluran induk Wadaslintang Barat. Di sejumlah sungai hingga kemarin masih terlihat kering. Seperti di Sungai Kedungbener yang belum teraliri waduk tersebut. Sementara daerah irigasi Bedegolan akan dialirkan pada 1 November, karena menunggu panen palawija usai. (K5-32/ suaramerdeka.com /LintasKebumen©2015)

Sulit Air, Petani Sedot Sungai Luk Ulo

sedot air sungai

KARANGSAMBUNG – Musim kemarau di Kebumen yang hingga pertengahan Oktober 2015 sudah berlangsung hampir 4 bulan lamanya, berdampak semakin menurunkan permukaan air tanah, termasuk sumur yang berada di ladang hortikultura sejumlah desa kawasan pegunungan Kebumen.

Sebagian petani pemilik ladang pun akhirnya harus menyedot air Sungai Luk Ulo untuk menyirami tanaman di ladangnya. Akibatnya, modal usaha bercocok tanam petani setempat di musim kemarau menjadi jauh lebih tinggi dibandingkan musim penghujan.

“Kemarau yang masih berlangsung sampai hari ini menyebabkan air sumur di ladang kami semakin menurun dan tak bisa mencukupi kebutuhan tanaman kami. Kini permukaan air sumur sudah mencapai 5 meter di bawah permukaan tanah. Padahal awal kemarau sekitar awal Juni 2015 lalu, masih 2 meter di bawah permukaan tanah,” ujar Wendo petani Dukuh Sanggrahan Desa/Kecamatan Karangsambung Kebumen, di ladangnya, Kamis (15/10/2015).

Untuk mencukupi kebutuhan air ladang jagungnya, sejak sebulan lalu Wendo harus menyedot air Sungai Luk Ulo yang berjarak 100 meter dari ladangnya. Sedangkan ladang milik petani lainnya ada yang berjarak 200 meter sampai 300 meter dari Sungai Luk Ulo atau butuh pipa pralon penyalur air yang lebih panjang.

Adapun areal jagung Wendo seluas 1.400 meter pesegi itu harus disiram dua minggu sekali. Selama 3 bulan penanaman jagung dilakukan penyiraman 6 kali yang menghabiskan biaya Rp 990 ribu. Agar air bisa bertahan melembabkan tanah selama dua minggu, dilakukan perendaman areal jagung itu dengan air setinggi 3 sentimeter selama 3 sampai 4 jam. (Dwi/ KRjogja.com /LintasKebumen©2015)

Duh, Dua Waduk di Kebumen Kian Mengering

sempor menyusut

KEBUMEN – Susutnya dua waduk besar di Kebumen yakni Waduk Sempor dan Wadaslintang pada musim kemarau ini disesalkan oleh Legislator Senayan, Darori Wonodipuro. Pasalnya, waduk yang diharapkan bisa menjadi solusi saat musim kemarau itu ternyata tidak berfungsi.

“Para petani sangat bergantung pada waduk ini untuk kebutuhan irigasi. Namun ironis, saat musim kemarau seperti ini kondisi waduk justru mengering. Akibatnya banyak petani terancaman tidak dapat tanam sehingga memicu gagal panen,” kata Darori, kepada Kebumen Ekspres.

Darori Wonodipuro mengatakan, seharusnya warga tidak sampai mengalami krisis air jika waduk berfungsi dengan benar. “Ini kan aneh, waduk sangat dibutuhkan kan pada saat kemarau saat ini. Tapi ini malah sampai airnya habis, ada apa dengan semua ini,” tandas anggota DPR RI Fraksi Gerindra ini.

Politisi asal Desa/Kecamatan Petanahan itu, berharap, pemerintah baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah memperhatikan kondisi dua waduk yang ada di Kabupaten Kebumen tersebut. Yaitu Waduk Sempor dan Waduk Wadaslintang.

“Pemerintah harus terus melakukan pemeliharaan sehingga fungsi waduk tersebut dapat dirasakan manfaatnya,” tegasnya.

Terpisah, Kepala Bidang Irigasi pada Dinas Sumber Daya Aalam dan Energi Summber Daya Mineral (SDA ESDM) Kabupaten Kebumen, Muchtarom, membenarkan dua waduk besar yang ada di Kabupaten Kebumen mengalami penyusutan pada musim kemarau tahun ini.

Kondisi terparah dialami Waduk Sempor, yang saat ini hanya tersisa cadangan air sekitar 7,1 juta meter kubik. Padahal air baru bisa disalurkan ke petani jika volumenya mencapai 25 juta meter kubik.

“Tahun ini memang lebih parah dari tahun lalu. Karena debit airnya yang belum mencukupi, maka Waduk Sempor belum dapat dialirkan,” terang Muchtarom.

Muchtarom belum bisa memastikan kapan irigasi Waduk Sempor akan dialirkan. Dengan kondisi yang ada, idealnya pengaliran air menunggu hujan saat volume air minimal 20 juta meter kubik. “Ya mau nggak mau memang menunggu hujan turun,” kata dia.

Berbeda dengan Waduk Sempor, saat ini volume air Waduk Wadaslintang mencapai 222 juta meter kubik. Volume yang sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan irigasi musim tanam (MT) I tahun 2015/2016 pada lahan sawah di Kabupaten Kebumen yang luasnya sekitar 21.000 hektare.

Mengawali MT I tahun 2015/2016, air waduk yang berada di perbatasan kabupaten Kebumen dengan Wonosobo itu, dialirkan sesuai rencana per 1 Oktober 2015. Hanya saja, karena masih banyak petani yang belum memanen tanaman kacang ijo, kedelai,maupun palawija, rencana tersebut diundur. “kita tunggu petani panen palawija,” imbuhnya.

Menurutnya, air Waduk Wadaslintang baru akan dibuka 16 Oktober mendatang. Karena itu, petani diminta melakukan persiapan olah lahan dan persemaian. “Petani kami harapkan memanfaatkan air sebaik mungkin dengan tidak membiarkan lahan tanpa diolah ketika air sudah menggenang,” tandasnya.(ori/bdg/ Radar Banyumas /LintasKebumen©2015)