Hujan

Puncak Musim Hujan Diperkirakan Januari 2016

musim hujan ilustrasi

KEBUMEN – Kepala Kelompok Teknisi Stasiun Meteorologi BMKG Cilacap Teguh Wardoyo, menyatakan puncak musim hujan di Kabupaten Kebumen dan sekitarnya sebenarnya diperkirakan baru akan berlangsung Januari 2016 mendatang.

Menurutnya bila ada beberapa hari di Bulan Desember 2015 yang terjadi hujan deras, maka hal itu belum menjadi pertanda bahwa curah hujan sudah di atas normal.

”Dalam perkiraan kami, curah hujan di Bulan Desember 2015, masih di bawah rata-rata. Hanya memang, kadang ada beberapa hari yang terjadi hujan lebat, namun secara akumulatif masih di bawah normal atau di bawah 500 milimeter,” katanya.

Meski demikian, dia tetap mengimbau masyarakat yang tinggal di daerah rawan longsor untuk tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya bencana. ”Lahan yang sudah lama kering, akan mudah longsor bila tiba-tiba tersiran hujan deras,” jelasnya.

Wilayah-wilayah yang rawan terjadi tanah longsor menengah hingga tinggi berada di Kecamatan Sadang, Alian, Sempor dan Rowokele. Dalam sepekan terakhir bencana tanah longsor menerjang Desa Jemur dan Desa Karangpoh di Kecamatan Pejagoan. Lalu Desa Merden di Kecamatan Padureso. Kemudian Desa Krakal dan Sawangan di Kecamatan Alian. Serta Desa Kejawang dan Pandansari di Kecamatan Sruweng.

Sementara banjir sempat menggenangi pemukiman warga di Desa Sumberadi dan Kelurahan Bumirejo di Kecamatan Kebumen. Banjir juga sempat merendam SMPN 2 Prembun di Desa Kabuaran Kecamatan Prembun. Terbaru banjir bandang melanda Desa Pengempon di Kecamatan Sruweng. (Andryan /LintasKebumen©2015)

Advertisements

Delapan Kecamatan Belum Teraliri Irigasi

saluran irigasi

KEBUMEN – Delapan kecamatan di Kabupaten Kebumen belum teraliri irigasi. Masing-masing adalah Kecamatan Sempor, Gombong, Kuwarasan, Buayan, Rowokele, Karanganyar, Adimulyo, dan sebagian Kecamatan Sruweng.

Praktis, pengolahan sawah di wilayah tersebut belum bisa dilakukan. Terlebih hujan menyelimuti kabupaten berslogan Beriman ini belum sanggup menggenangi sawah-sawah.

Sehingga masa tanam pun diperkirakan mundur. Ketua Komisi B DPRD Kebumen, Sudarmaji mendorong petani segera mengolah tanah. Terutama di wilayah yang telah dialiri irigasi seperti Kecamatan Kebumen, Kutowinangun, Prembun, Alian, Ambal, Mirir, Bonorowo, Petanahan, Puring, dan Buluspesantren.

“Kita berkejaran dengan waktu. Jadi, wilayah yang telah dialiri irigasi perlu segera mengolah tanah dan tanam,” katanya.

Bagi yang belum dialiri irigasi, lanjut politisi Partai Gerindra tersebut, diminta menggunakan varietas padi berumur pendek seperti IR- 64. Hal itu dilakukan agar tanam berikutnya tidak mundur terlampau jauh sehingga indek penanaman (IP) 300 persen berupa padi-padipalawija bisa dilakukan.

Tanam Molor

Sesuai jadwal, tanam kali ini mestinya Oktober dan tanam berikutnya Maret 2016. Namun hingga minggu kedua November ini ternyata sebagian besar petani belum mengolah tanah. Sehingga tanam seluas 39.748 hektare di Kebumen mundur sekitar dua bulan.

“Kalau hujannya hanya sebentar-sebentar saja, tentu molornya tambah lama lagi,” imbuh Sudarmaji sembari mengatakan, kondisi tersebut akan berdampak pada molornya tanam berikutnya dan tidak mencapai padi-padi-palawija selama setahun.

Kepala Bidang Irigasi pada Dinas Sumber Daya Air Energi Sumber Daya Mineral (SDAESDM) Kebumen Muchtarom mengemukakan, irigasi dari Waduk Wadaslintang sudah mengalir sejak 16 Oktober lalu. Adapun Waduk Sempor belum dialirkan karena masih menunggu terisi hingga 25 juta m3.

“Dari delapan kecamatan belum teraliri itu dari daerah irigasi Waduk Sempor,” jelasnya.

Hingga Jumat (13/11), volume Waduk Sempor baru 7,698 juta m3, sedangkan Waduk Wadaslintang 196,093 juta m3. Diharapkan hujan kembali mengguyur Kebumen untuk menambah volume waduk, terutama Waduk Sempor yang mengalami pendangkalan akibat sedimentasi tersebut. (K5-52/ suaramerdeka.com /LintasKebumen©2015)

Hujan Datang, Pepaya Terserang Hama Serangga Putih

pepaya karsam

KARANGSAMBUNG – Datangnya musim penghujan di Kebumen sejak Jum’at (05/11/2015) lalu berdampak munculnya gangguan serangga putih menyerupai jamur pada buah pepaya, di sentra-sentra pepaya di Kebumen.
Banyak petani pepaya yang bersiap-siap memanen buahnya merasa cemas saat mendapati permukaan buah pepaya mereka telah terpapar gerombolan serangga berwarna putih.

“Turunnya hujan baru seminggu lalu, namun sejak Kamis (12/11/2015) kemarin kami sudah menemukan gangguan pada tanaman pepaya kami berupa serangga-serangga putih pada permukaan buah pepaya kami,” ujar petani pepaya Desa Banioro Kecamatan Karangsambung Kebumen, Agus, di lahannya, Jum’at (13/11/2015).

Menurut Agus, serangan serangga putih tersebut cukup mengganggu aktifitas pemetikan buah pepaya oleh petani. Biasanya untuk satu kali pemetikan setiap petani dijatah 100 sampai 300 buah pepaya oleh pengepul, tergantung jumlah pohon pepaya masing-masing.

“Dengan banyaknya buah yang terserang hama, sebagian waktu petani tersita untuk mengatasi serangan hama. Diantaranya, dengan penyemprotan cairan pembunuh hama. Akibatnya, kami tak bisa memenuhi kuota pengepul,” jelas Agus.

Upaya petani mengatasi serangan hama tersebut sampai Jum’at siang, berdampak positip. Gerombolan serangga terlihat mati dan bisa dihilangkandari permukaan buah. Setelah serangga dibersihkan dari permukaan buah, kulit buah yang dipetik dilapdengan kain basah agar larutan insektisidanya hilang buah. (Dwi/ KRjogja.com /LintasKebumen©2015)

Perbaikan Jalan Lingkar Diterjang Hujan

perbaikan jalan1

KEBUMEN – Perbaikan jalan nasional di Lingkar Selatan Kebumen diterjang hujan. Kondisi itu menyebabkan proses pengerjaannya terganggu dan masih menyisakan kondisi seperti jalan rusak.

Pasalnya, jalan yang menjadi lalu lintas kendaraan bermuatan berat saat pengalihan arus dari jalur pantura itu diperbaiki menggunakan teknologi yang disebut resekling. Teknologi itu mendaur ulang aspal dengan semen.

Alat berat yang digunakan untuk mengerjakan jalan sepanjang 10 km itu pun tampak mandek saat hujan deras menyelimuti kabupaten berslogan Beriman ini. Adapun jalur dari lampu bangjo Kedungbenar menuju Jalan Lingkar Selatan itu masih ditutup sejak beberapa hari lalu.

Solikhun (43), warga Sumberadi Kebumen mengemukakan, penanganan jalan dengan menggunakan teknologi resekling itu sangat tepat. Mengingat, volume kendaraan yang melewati Jalan Lingkar Selatan cukup banyak dan kondisi air tanahnya terlalu tinggi.

“Kondisi seperti itu memang menjadikan jalan cepat rusak,” katanya. Sayangnya, lanjut Solikhun, pengerjaannya masuk musim hujan, sehingga menganggu pelaksanaan proyek tersebut dan berimbas kepada pengguna jalan.

Jalan Berlubang

Ia pun mengaku banyak mendapatkan laporan terjadi kecelakaan motor, karena terperosok ke jalan berlubang yang tergenang air. Warga sekitar lantas memasang tanda di titik-titik yang membahayakan pengguna jalan tersebut. Ke depan, Solikhun berharap agar pelaksanaan proyek juga perlu memperhitungkan cuaca.

Dengan demikian, perbaikan jalannya tidak sampai diterjang hujan. Terpisah, Kepala Bidang Bina Marga DPU Kebumen Haryono Wahyudi mengemukakan, penanganan jalan saat hujan tetap bisa dilakukan.

Terlebih jalan yang dibeton yang saat terkena hujan malah dapat berfungsi sebagai pembasahan. Pihaknya yang menangani jalan kabupaten pun masih mengerjakan saat musim hujan ini. “Asal suhu pembakaran aspal di atas 100 derajat celcius tetap bisa dikerjakan,” jelas Yudi, panggilan akrab Haryono Wahyudi itu.

Lebih lanjut, kegiatan peningkatan jalan di kabupaten berslogan Beriman ini, antara lain terdapat 36 paket dari Bantuan Provinsi (Banprov) dan 20 paket dari Dana Alokasi Khusus (DAK).

Seperti penanganan Jalan Dorowati-Podourip, Jalan Sokka-Klirong, Jalan Petanahan-Klirong, Jalan Sruweng-Banjarwinangun, Jalan Karangsambung-Sadang, Jalan Mertokondo-Karangsambung, dan Jalan Jatiroto-Banyumudal. (K5-32/ suaramerdeka.com /LintasKebumen©2015)

Jateng Selatan Diguyur Hujan Ekstrem

musim hujan ilustrasi

KEBUMEN – Hujan ekstrim mencapai 130 milimeter mengguyur sejumlah wilayah kabupaten di Jawa Tengah bagian selatan, Kabupaten Cilacap, Banyumas, Banjarnegara Purbalinggga hingga Kebumen.

Kepala Kelompok Teknisi Stasiun Meteorologi BMKG Cilacap Teguh Wardoyo mengatakan, saat musim pancaroba, terjadi hujan ekstrem di sejumlah wilayah. Curah hujan pada Minggu, (8/11) dalam sehari mencapai 130 milimeter.

“Dikatakan hujan ekstrem karena curah hujan sudah di atas 100 mimileter dalam satu hari,” katanya Senin (11/11/2015) dilansir dari pikiran-rakyat.com.

Menurut Dinas Sumber Daya Air dan Energi Sumber Daya Mineral Kebumen, curah hujan di Kabupaten Kebumen tertinggi mencapai 134 milimeter yang terpantau melalui stasiun pengamatan hujan (STS) Somagede Kecamatan Sempor. Disusul STS Kaligending Kecamatan Karangsambung yakni 85 milimeter.

Curah hujan tinggi rawan terjadi tanah longsor, lahan yang pecah akibat kekeringan secara tiba-tiba diguyur hujan dengan intensitas tinggi sehingga rawan longsor. Selama masa pancaroba juga rawan terjadi puting beliung dan patir. Kondisi demikian diprediksi akan berlangsung hingga akhir November. (PR/ LintasKebumen©2015)

Hujan, Petani Mulai Garap Sawah

bajak sawah

PEJAGOAN – Datangnya musim hujan disambut suka cita oleh para petani di Kabupaten Kebumen. Para petani mulai disibukkan dengan kegiatan menggarap sawah, meliputi menebar benih padi. Seperti yang terlihat di Desa Kebulusan Kecamatan Pejagoan, Jumat (6/11/2015), terlihat traktor sudah mulai diterjunkan ke sawah.

Sodiman (55) salah satu petani warga RT 1 RW 1 Desa Kebulusan Kecamatan Pejagoan mengatakan, biasanya para pertani di Desa Kebulusan paling terakhir dalam memulai menggarap sawah. Hal ini disebabkan para petani menunggu sawah dibajak olah penyelia jasa traktor.

Namun kelihatannya saat ini petani Desa Kebulusan akan bertanam lebih cepat, pasalnya penyelia traktor sudah turun ke sawah. “Saya sangat senang melihat traktor sudah turun kesawah, mudah-mudahan setelah diluku, tidak menunggu lama sawah akan digaru, sehingga petani bisa segara menanam padi,” tuturnya kepada Eskpres disela-sela mengolah sawah.

Dijelaskannya, beberapa persiapan yang mesti dilaksanakan diantaranya menyiapkan bedengan, menabur benih, meratakan tanah, merapikan pinggiran sawah, daut dan tanam padi. Jika para petani Desa Kebulusan dapat tanam diawal musim maka panennya juga bisa lebih awal.

“Bisanya petani memiliki ketergantungan dengan tukang traktor,” katanya.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kebumen Ir Pudji Rahayu mengatakan, pihaknya telah melaksanakan rapat koordinasi dengan Kodim 0709/Kebumen terkait dengan persiapan MT1. Rapat tersebut dilaksanakan di Kantor Distanak. Seperti sebelumnya Kodim 0709/Kebumen akan membantu para petani dalam meningkatkan produksi pangan.

“Kita baru saja melaksanakan rapat untuk persiapan pendampingan kepada petani,” paparnya.

Pudji Rahayu juga menghimbau kepada para petani untuk sesegara mungkin mempersiapkan segala keperluan Masa Tanam (MT) 1. Dengan semangat dan mempersiapkan semua peralatan dan bahan diharapkan MT1 ini dapat menghasilkan panen yang melimpah.

Menurutnya beberapa sawah memang sudah teraliri air irigasi, namun ada pula yang masih kering. “Kalau tanahnya sudah siap untuk di traktor maka sesegera mungkin ditraktor, sehingga petani akan segera menggarap sawahnya,” ucapnya. (mam/ kebumenekspres.com /LintasKebumen©2015)

Hujan Deras Guyur Kebumen Utara Pasca Kemarau Panjang

musim hujan ilustrasi

KEBUMEN – Hujan deras mengguyur sebagian besar wilayah Kabupaten Kebumen bagian utara, Kamis (5/11/2015) pagi. Hujan deras yang disertai petir tersebut disambut gembira warga. Pasalnya kemarau panjang sejak Mei lalu telah menyebabkan kekeringan parah dan sumber air warga hilang di Kabupaten Kebumen.

”Alian hujan mulai sekitar jam tiga pagi dan lumayan deras. Sekarang hanya gerimis,” kata Tati (25) warga Kalirancang Kecamatan Alian Kebumen, Kamis (5/11).

Sesuai prakiraan cuaca Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG Cilacap sebelumnya bahwa wilayah Kebumen tengah masuki masa pancaroba dari musim kemarau ke musim penghujan pada dasarian kedua Bulan November ini.

Memasuki musim pancaroba, bahaya angin kencang dan petir yang mulai mengancam harus diwaspadai. Kejadian tersebut biasanya terjadi pada siang hari. Pada pagi hari panas terlalu terik dan awan berkumpul menjadi awan cumulonimbus (CB). Awan ini berwarna hitam pekat yang dapat menghasilkan petir.

Sementara itu curah hujan di Kabupaten Kebumen pada bulan November menunjukan peningkatan terutama di wilayah sekitar Kecamatan Sadang, Karanggayam, Sempor, Rowokele, Gombong, Kuwarasan, Buayan Utara, dan sebagian Karanganyar dan Adimulyo. (Rini /LintasKebumen©2015)