Siswa SMP 1 Karanggayam Dilatih Kembangkan Batu Akik

SMPN 1 Karanggayam

KARANGGAYAM – Meski euforia masyarakat terhadap batu akik meredup, namun bukan berarti peminatnya menghilang. Wilayah Karanggayam yang terkenal dengan badar besi merahnya pun masih terus didatangi pembeli.

Kesempatan ini digunakan SMP 1 Karanggayam Kebumen untuk memamerkan batu akik kepada masyarakat dengan memanfaatkan waktu jeda tengah semester. Pameran dilaksanakan seminggu itu diikuti seluruh siswa. Mereka memajang kerajinan batu akik yang dibuatnya.

Pihak SMP 1 Karanggayam ternyata melatih siswanya agar mampu mengembangkan batu akik sebagai komoditi layak jual. “Ini sebagai bentuk kepedulian terhadap potensi wilayah setempat,” kata Kepala SMP 1 Karanggayam, Tuseno SPd di sela-sela pameran yang berlangsung baru-baru ini.

Berbagai karya dipamerkan bukan hanya dalam bentuk batu mata cincin, tetapi ada yang membuat liontin dan patung. Para siswa juga menampilkan makanan khas Karanggayam seperti pecel, gaplek, tempe, dan aneka jajan pasar lainnya. Tak ketinggalan memajang karya seni berupa mozaik, kaligrafi, lukisan, desain anyaman, desain batik dan kerajinan tangan.

Nilai Lebih

Sebelumnya juga digelar lomba antarkelas seperti bola voli, basket, tenis meja, futsal, Senam Kesegaran Jasmani (SKJ) dan tarik tambang. Adapun untuk mengembangkan bakat siswa dalam bidang tarik suara diadakan lomba karaoke antarsiswa.

Masih ada lomba kelas sehat memeriahkan suasana SMP 1 Karanggayam. Rangkaian kegiatan tersebut dilaksanakan satu minggu penuh mulai 12 sampai 17 Oktober. Kegiatan terbagi tiga kategori yakni olahraga, seni, dan karya siswa.

Kegiatan jeda semester kali ini mengambil tema “Mengasah Apresiasi, Mendulang Prestasi”. Tuseno mengaku bangga dengan karya siswa yang ditampilkan tersebut. “Karya siswa ini sungguh luar biasa. Mereka mampu menggali potensi yang ada di desanya masing-masing,” imbuhnya.

Lebih lanjut, selain sebagai bentuk apresiasi sekolah terhadap kreativitas siswa, kegiatan ini juga dimaksudkan menjaring atlet-atlet olahraga siap bertanding di tingkat kecamatan dan kabupaten.

Sekolah juga mencari bibit-bibit seni terdapat pada diri siswa. “Kami yakin kreativitas yang dimiliki anak-anak didik tersebut memiliki nilai lebih pada saatnya nanti,” harap Tuseno. (Arif Widodo-52/ suaramerdeka.com /LintasKebumen©2015)

Advertisements

Keunggulan Batu Akik Ketimbang Perhiasan Emas

akik kebumne
KEBUMEN – Berbeda dengan aksesori perhiasaan emas yang telah digemari semenjak lama, baik di Indonesia dan mancanegara. Batu akik, baru menjadi tren di Tanah Air beberapa tahun belakangan saja. Dari wawancara Kompas Female bersama perajin dan produsen batu akik di Kebumen, Jawa Tengah, Sidarto, diketahui bahwa batu akik meledak jadi tren pada tahun 2006 silam. Kemudian, popularitasnya terus meningkat hingga tahun 2011 kemarin.

Menurut Sidarto, ada beberapa alasan, mengapa batu akik digemari oleh banyak orang, bahkan beberapa tahun belakangan kepopuleran batu akik, melebihi perhiasan emas. “Harga emas dan batu mulia beberapa waktu lalu sempat sangat mahal, maka itu orang memilih batu akik,” ujar Sidarto.

Kemudian, dia melanjutkan, batu akik memiliki keunggulan daripada perhiasan emas, yakni tak dapat digandakan atau ditiru. “Batu mulia, perhiasan emas, mungkin memiliki keistimewaan. Tetapi batu akik itu unik,” imbuhnya.

Unik, menurut Sidarto, dalam artian jika seseorang mengenakan perhiasan emas atau batu mulia dan bersanding dengan orang lain yang mengenakan perhiasan serupa, maka dapat dibedakan strata sosial dan kemampuan orang tersebut.

Namun, untuk batu akik berbeda, Sidarto berujar, “Kalau orang pakai batu akik harga lima puluh ribu sama sejuta, tidak akan ada yang tahu. Sebab, masing-masing batu itu berbeda dan subjektif,”
terangnya.

Sidartopun mengatakan bahwa menjual batu akik tak memiliki takaran atau ukuran. Pada dasarnya penjual menentukkan harga secara subjektif, beda pembeli, beda batu, dan beda harga. “Harganya tidak bisa dibanderol, yang penting jujur pada pembeli,” pungkasnya. (Silvita Agmasari/ KOMPAS.com /LintasKebumen©2015)

Ternyata, Wanita Suka Batu Akik Warna Cerah

akik wanita

KEBUMEN – Meski penggemar batu akik lebih didominasi kaum pria, tak sedikit juga wanita yang menggemari ragam batu akik. Bahkan, selebriti kelas dunia seperti Victoria Beckham juga penah mengunggah kekagumannya terhadap batu akik moonstone (Biduri Bulan) yang dibuat menjadi cincin pada akun Instagram-nya.

Sama seperti pria, kolektor batu akik wanita umumnya mengoleksi batu akik atas dasar keindahan jenis batu akik tersebut. Tak hanya itu, beberapa detail lainnya ternyata menjadi pertimbangan wanita saat memilih batu akik mana yang akan dimiliki.

Kompas Female saat berkunjung ke salah satu tempat pengrajin batu akik ternama di Kebumen, Jawa Tengah, Badar Besi, bertanya kepada salah satu pengrajin. Sidarto, seorang pengrajin batu akik mengutarakan apa saja ciri-ciri batu akik yang digemari oleh para wanita.

Sidarto menjelaskan bahwa warna batu biasanya yang paling dipertimbangkan wanita saat membeli batu akik. “Biasanya kalau wanita lebih suka batu akik yang warnanya transparan atau warna-warna cerah,” terang Sidarto.

Selain warna, Sidarto mengungkapkan, kalau pembeli batu akik wanita umumnya menyukai motif yang dianggap dapat disesuaikan dengan busana.

“Mereka (pembeli wanita) yang lebih peduli pada gaya dan penampilan, biasanya memilih batu akik yang disesuaikan. Misalnya saat gemar mengenakan busana batik, maka dicarilah batu yang warna dan motifnya mendekati busana tersebut,” tambah Sidarto.

Selain menjadi cincin, pembeli batu akik wanita juga kerap memesan batu akik untuk dijadikan aksesori berupa giwang, kalung, atau pun bros yang disematkan.

Beberapa pelanggan bahkan sengaja membeli bingkai bros dan meminta Sidarto untuk memasangkan batu akik kegemarannya ke dalam bingkai tersebut. Harga yang dibanderol untuk biaya pemasangan batu akik ke dalam bingkai bros, giwang, atau cincin dimulai dari Rp 30.000 rupiah. Anda tertarik? (Silvita Agmasari/ palembang.tribunnews.com /LintasKebumen©2015)

Emban Kayu Masih Banyak Diminati

emban kayu

KLIRONG – Kendati demam batu akik di Kabupaten Kebumen sudah menurun, permintaan emban kayu ternyata tetap stabil. Bukan cuma emban saja, bahkan cincin kayu tanpa batu ternyata juga banyak peminatnya. Salah satu pengrajin emban kayu, Rahmat Satibi warga Desa Pandanlor Kecamatan Klirong mengatakan, demam akik memang sudah mencapai titik nadzir. Hal itu ditandai semakin jarangnya pesanan pembuatan batu akik. Namun, peminat emban kayu tampaknya tidak berkurang.

“Saya sendiri jarang menerima order gosok batu, Namun permintaan emban kayu tetap jalan,” paparnya.

Pria kelahiran tahun 1983 ini menuturkan, awalnya dia hanya berpikir untuk membuat emban dari kayu. Emban tersebut kemudian dipakainya sendiri. Tak disangka teman-temannya ternyata banyak yang menyukainya. Pesanan pun mulai mengalir.

Dalam pembuatanya, Rahmat masih mempertahankan cara tradisional.Kayu dipotong kotak-kotak, kemudian beri lubang dengan cara dibor sesuai dengan ukuran jari pemesan. Baru setelah itu kayu dibentuk sesuai dengan keinginan pemesan.

“Saya membuat secara manual, maka para pemesan harus sabar,” jelasnya.

Bagian selanjutnya adalah menghaluskan. Emban dihaluskan dengan diamplas secara manual, dari amplas yang kasar hingga amplas yang paling halus. Jika emban telah terbentuk, bagian tersulit adalah membentuk motif sesuai dengan keinginan para pelanggan.

“Meskipun kebanyakan pelanggan justru menyukai emban polos,” ujarnya.

Di proses akhir dari pembuatan, emban akan dipoles agar tampak mengkilap. Serat asli kayu akan muncul setelah pemolesan selesai. Pembuatan emban kayu memang memerlukan waktu lama, tidak lebih dari tiga emban yang mampu dibuat dalam seharinya.

Harga per emban dipatok dengan Rp 50 -70 ribu, tergantuang dari tingkat kerumitan pembuatanya. “Saya juga tetap menjaga kualitas produk yang saya buat,” ungkapnya.(mam/ kebumenekspres.com /LintasKebumen©2015)

Perburuan Batu Mulia Diminta Jaga Reklamasi

Sejumlah warga menambang batu jenis badar besi di kawasan perbukitan Bulu Beras masuk wilayah Desa Karangmojo, Kecamatan Karanggayam, Kebumen, Senin (3/11).(suaramerdeka.com/ Supriyanto)
Sejumlah warga menambang batu jenis badar besi di kawasan perbukitan Bulu Beras masuk wilayah Desa Karangmojo, Kecamatan Karanggayam, Kebumen, Senin (3/11).(suaramerdeka.com/ Supriyanto)

KEBUMEN – Perburuan batu mulia dilakukan berbagai kalangan. Bahkan tidak sedikit dilakukan aparat sendiri, dari mulai pemerintah, polisi, tentara hingga petugas hutan. Mereka ikut mengincar batu mulia yang bernilai tinggi tersebut. Sejumlah penambang batu mulia di Kebumen pun mengungkapkan sempat ada penyitaan hasil penambangan batu mulia oleh aparat, namun banyak yang tidak dikembalikan.

Hingga kemudian, belakangan pihak terkait meminta maaf kepada para penambang tersebut. “Kelasnya bupati sampai presiden pun berburu batu mulia di sini, tapi kenapa kami yang disalahkan,” kata sejumlah penambang yang sempat bersinggungan dengan aparat dan enggan disebutkan namanya itu.

Kejadian yang dialami sejumlah penambang di wilayah pegunungan tersebut dibenarkan Ketua Forum Peduli Konservasi Lahan dan Bebatuan (FPKLB) Kebumen Dwi Kurniawan. Menurut dia, pengambilan batu mulia itu dianggap merusak lingkungan dan berpengaruh terhadap erosi lahan milik Perhutani.

Sehingga aparat pun kemudian mengambil tindakan dengan melakukan penyitaan hasil penambangan batu mulia tersebut. Dia mengusulkan, hendaknya Pemkab mendorong agar desa menyusun regulasi atau prosedur untuk melindungi keberadaan batu mulia.

”Terutama terkait dengan penambangannya,” jelas Dwi Kurniawan yang juga Ketua Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Karangsambung itu.

Selanjutnya, kata Dwi, regulasi dalam bentuk Perdes itu di-share dengan Perda Nomor 22 tahun 2011 tentang Pertambangan Batu dan Mineral. Terpisah, Ahli Geologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Karangsambung, Kebumen, Chusni Ansori mengemukakan, perburuan batu mulia di Kebumen yang merebak saat marak akik itu memang menyisakan bekas galian yang hingga kini masih terbengkelai.

Turun Tangan

Menurut Chusni, secara geologis, batu mulia maupun setengah mulia itu berada di kompleks melange (di antara bebatuan). Dan keberadaannya tidak di satu lokasi, melainkan sporadis dan tersebar di sejumlah pegunungan.

Di wilayah kabupaten berslogan Beriman ini terdapat di perbatasan Banjarnegara, meliputi Desa Sadang Wetan, Desa Seboro, dan Desa Sadang Kulon Kecamatan Sadang.

Selain itu di Desa Ginandong dan Desa Glontor Kecamatan Karanggayam, serta Desa Totogan dan Desa Pucangan Kecamatan Karangsambung. Adapun batu mulia yang berada di Sungai Luk Ulo itu merupakan hasil pecahan dari wilayah tersebut.

Bahkan sampai ujung Sungai Luk Ulo di Kaliwiro Kabupaten Wonosobo. ”Batu mulia maupun setengah mulia kalau dimanfaatkan memiliki potensi.Tapi setelah diambil harus memperhatikan reklamasinya,” imbuh Chusni.

Kendati demikian, penambangan batu mulia itu tidak separah penambangan batu diabas (batu pecah) yang menggunakan bahan peledak. Seperti di Gunung Parang, Watu Tumpeng, serta Gunung Tugel Kecamatan Karangsambung.

Begitu juga tidak separah penambangan pasir Sungai Luk Ulo yang menggunakan mesin sedot serta acapkali menggunakan eskavator atau begu. Sehingga, kerusakan lingkungan yang ada pun kian parah.

Pemkab melalui Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kebumen sempat mengusulkan agar penertiban penambangan pasir Luk Ulo tidak lagi menggunakan Perda, melainkan undang-undang. Terkait hal tersebut, maka pihak kepolisian harus turun tangan.

Chusni mengatakan, penambangan yang dilakukan tersebut semuanya berada di kawasan cagar geologi LIPI Karangsambung. Ada 32 titik yang mutlak tidak boleh ditambang. Di luar itu, kata Chusni, diperbolehkan sepanjang untuk kebutuhan lokal serta sesuai aturan terkait penambangannya.

”Di dalam usaha pertambangan, saat ini peruntukannya di provinsi. Dan yang penting ada reklamasi dan cara pengambilannya aman secara teknis dan lingkungan,” jelas Chusni sembari mencontohkan penambangan yang dilakukan di dekat mata air. (K5-32/ suaramerdeka.com LintasKebumen©2015)

Batu Bergambar Macan Juara I Kontes Akik

Pameran batu akik/ Ilustrasi_Antara
Pameran batu akik/ Ilustrasi_Antara

GOMBONG – Batu akik bergambar macan menjuarai kontes batu akik yang digelar dalam rangkaian pameran batu akik dan batu mulia di Pendopo Kecamatan Gombong, Kebumen. Batu berbentuk liontin milik Gus Iyan dari Purworejo itu mendapat nilai tertinggi dari dewan juri asal Yogyakarta yakni 2.750.

Kemudian juara II batu bergambar pemandangan dari Pasta Stone Purwokerto meraih juara II dengan nilai 2.700. Disusul juara III dengan nilai 2.550 dengan batu akik bergambar lafaz Allah milik Purwanti dari Gombong. Ketua Panitia Pameran Batu Akik dan Batu Mulia Irawan mengatakan, kontes batu akik yang diikuti 52 peserta dilombakan dua kategori. Yakni batu gambar dan batu kelas umum. Adapun peserta kontes adalah peserta pameran dan kalangan umum.

Mendapat Trofi

”Selain dari Kebumen, peserta datang dari Purworejo, Purwokerto, Gombong, Cilacap dan Magelang,” ujar Irawan, kemarin. Para pemenang berhak mendapatkan trofi dan uang pembinaan dan piagam dari panitia.

Pemenang kategori batu khas utuk outlet dimenangkan oleh Bacing Gemstone dari Tasikmalaya yang menjual Batu Black opal Kalimaya Banten ”Peminat batu Kalimaya di Gombong sangat banyak,” ujar Diki, pemilik stan. Sementara itu, pameran yang diselenggarakan oleh Komunitas Batu Gombong sejak Senin (15/6) tersebut, akan berakhir pada Rabu (24/6) ini. ”Kegiatan ini diagendakan untuk dilaksanakan setiap enam bulan sekali dengan lokasi yang berbeda-beda,” ujar Irawan. (J19- 52/ suaramerdeka.com /LintasKebumen©2015)

Perajin Akik Kebumen Resah Akik Oplosan

Ciri khas akik asal Kebumen atau akik Luk Ulo diantaranya memiliki warna yang cenderung lembut. Sebagian lainnya berwarna gelap.
Ciri khas akik asal Kebumen atau akik Luk Ulo diantaranya memiliki warna yang cenderung lembut. Sebagian lainnya berwarna gelap.

KARANGSAMBUNG – Sejumlah perajin akik Kebumen yang masih memiliki idealisme dalam memproduksi dan menjual akik buatannya, kini mulai mempersoalkan pembuatan dan penjualan akik oplosan di Kebumen tanpa menggunakan kaidah kejujuran.

“Menurut kami yang masih memegang prinsip idealis, ketidakjujuran itu justru merusak kredibilitas akik Kebumen di mata pecinta akik. Seharusnya perajin menjelaskan secara jujur apakah akik yang dibuat dan dijualnya akik asli Kebumen atau bukan. Dengan demikian konsumen mendapatkan informasi yang benar tentang akik yang dibelinya,” ujar Adi, perajin akik di Desa/Kecamatan Karangsambung Kebumen, di rumahnya, Kamis (18/06/2015).

Diungkapkan Adi, istilah akik oplosan yang baru-baru ini merebak di kalangan perajin akik di Kebumen bermula dari banyaknya perajin akik di Kebumen yang tak hanya mengolah batu asal Kebumen, namun juga batu asal luar Kebumen seperti Aceh dan Kalimantan.

“Ironisnya, setelah batu luar Kebumen itu selesai diolah lalu ditawarkan ke konsumen sebagai batu Kebumen. Tentu saja cara seperti itu membohongi konsumen dan merugikan perajin yang idealis seperti kami. Tak adanya pemilahan dalam penyebutan asal-usul akik kepada konsumen itulah yang memunculkan istilah akik oplosan di Kebumen,” jelas Adi.

Sedangkan Pujianto, perajin akik Desa Karangsari Kecamatan/ KabupatenKebumen, menjelaskan bahwa produksi dan penjualan akik oplosan di Kebumen dengan cara tak jujur akan mengaburkan pemahaman masyarakat terhadap asal-usul batu ataupun akik.

Adapun ciri khas akik asal Kebumen atau akik Luk Ulo diantaranya memiliki warna yang cenderung lembut. Sebagian lainnya berwarna gelap. Bahkan, coraknya pun berbeda dibandingkan akik Klawing atau Serayu.Sedangkan akik asal Aceh dan Kalimantan cenderung berwarna cerah. “Kelebihan akik Kebumen adalah berat jenisnya yang tinggi, sehingga sulit pecah bila dibanting secara keras,” jelas Pujianto.(Dwi/ KRjogja.com /LintasKebumen©2015)