Wisata Kebumen

Pemandangan Alam Menakjubkan dari Puncak Gunung Duwur Kebumen

PUNCAK GUNUNG DUWUR3

Pemandangan dari puncak Gunung Duwur (Foto: Ariss)

AYAH – Bila mencari tempat berfoto atau menyaksikan matahari terbit dan tenggelam di Kabupaten Kebumen, Obyek Wisata Alam Gunung Duwur  atau Bukit Cinta Gunung Duwur  di Desa Watukelir Kecamatan Ayah  bisa menjadi pilihannya.  Obyek wisata yang masih baru ini menawarkan pemandangan alam dari puncak tertinggi di kawasan perbukitan Karst Gombong Selatan.  Dijamin pemandangan yang disajikan tak akan mengecewakan.

Banyak pemandangan menarik yang dapat dilihat dari puncak bukit dengan tinggi sekira 500 meter diatas permukaan air laut ini. Melihat ke arah timur pemandangan berupa rangkaian perbukitan karst nan hijau dan dataran rendah Kebumen yang maha luas dengan sawah-sawahnya. Tak ketinggalan garis pantai selatan yang membatasinya dengan luasnya Samudera Hindia.

Dipagi hari,  Gunung Sindoro dan Sumbing akan nampak sama samar bersama kabut tebal perbukitan seiring terbitnya matahari.  Tak jauh dari Gunung Duwur terlihat menggunduk mengerucut adalah Bukit Arjuna yang mempesona dikerumuni pohon jati dan kelapa yang hijau. Diatas puncak Gunung Duwur ini areanya cukup luas dengan tanah datar dan beberapa  titik terdapat sekumpulan  batu besar.

Disebelah barat mempertunjukan pemandangan matahari tenggelam  yang menawan bersama samar samar garis melengkung pantai selatan Cilacap . Puncak-puncak bukit karst disisi barat pun tak kalah indah dipandang mata.  Sedangkan disebelah utara akan terlihat luasnya Kawasan Karst Gombong Selatan dengan puncak-puncak kerucutnya.

Jika beruntung bisa melihat Gunung Slamet di pagi hari. Untuk menuju puncak pengunjung harus tracking landai hingga curam dengan menaiki anak tangga yang masih berupa tanah, sehingga sangat menantang bagi yang suka tantangan. Bagi pengguna motor cross bahkan bisa melaju sampai ke puncaknya.!

Untuk melihat matahari terbit tentu saja pengunjung harus menginap jika tak ingin dating pagi-pagi buta. Tak usah bingung, Obyek Wisata Alam Gunung Duwur   adalah tempat yang cocok untuk camping.  Suasana malam di puncak Gunung Duwur turut indah dengan pemandangan berupa lampu-lampu penduduk.

Tak puas dengan hal tersebut? Obyek Wisata Alam Gunung Duwur   menawarkan spot-spot berfoto  maupun selfie yang lucu dan menarik.  Fasilitas pendukung lainnya  yang tersedia diantaranya rumah pohon, beberapa saung, tempat duduk, dan toilet.

Rute:

Obyek Wisata Alam Gunung Duwur   berjarak 36 Km berkendara dari pusat Kota Kebumen melalui Gombong. Selepas Gombong anda harus belok ke kiri saat menemui Pertigaan Sangkalputung untuk menuju arah Pantai Suwuk atau Karangbolong hingga sampai ke  Desa Geblug.  Di Desa Geblug di sisi kanan jalan akan menemukan petunjuk jalan menuju Desa Wonodadi, beloklah ke kanan hingga menemukan Passar Geblug, lurus saja terus mengikuti jalan raya menuju Desa Wonodadi hingga berakhir di Desa Watukelir. Kondisi jalan sempit dan medan yang dilalui berupa tanjakan curam. (Lintas Kebumen 2017)

Pantai Laguna Bopong, Alternatif Baru Wisata Kebumen

laguna-bopong

PURING – Kebumen merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang juga dikenal dengan berbagai potensi wisata bermacam-macam. Tempat-tempat seperti Goa Jatijajar, Pantai Menganti atau Pantai Suwuk biasanya langsung dituju ketika liburan ke Kebumen.

Tempat-tempat itu memang menarik untuk dikunjungi. Tetapi pernahkah berpikir tentang destinasi wisata lain di Kebumen yang mungkin mempunyai pesona tak kalah dari tempat-tempat wisata yang telah disebutkan tadi?

Nah, jika sudah ada pikiran seperti itu, bersiaplah untuk terpesona terhadap tempat wisata baru di Kebumen ini yang sedang hits dan pantas untuk dicoba. Tempat wisata baru yang hits salah satunya adalah Pantai Laguna Bopong.

Pantai Bopong sudah dikenal sejak lama namun baru-baru ini menjadi hits dengan penambahan objek seperti Jembatan Asmara, Ayunan Kasih, Rumah Pohon, Replika Love, dan ada juga Kolam Renang.

Pantai Laguna Bopong terletak di Desa Sirorejan, Kecamatan Puring, Kebumen. Sebagai wisata baru yang belum terkelola maksimal, pengunjung yang datang ke Pantai Bopong tidak akan dikenakan biaya masuk hanya dikenakan biaya parkir Rp 2 ribu.

“Wisatanya bagus Mas, ini datang bersama teman sekolah,” ungkap Una, salah satu pengunjung, Minggu (16/10/2016). Untuk bisa merasakan eksotisme Pantai Bopong tersebut hanya dibutuhkan waktu kurang lebih setengah jam dari Kota Kebumen. (Lukman/Sorotkebumen.com)

Unik, Jembatan Pelangi Patemon Sedot Banyak Wisatawan

jembatan-patemon
AYAH – Beberapa waktu terakhir ini banyak bermunculan destinasi wisata baru di Kebumen, salah satunya yang sedang hits khususnya dikalangan muda mudi, yakni wisata alam Patemon, yang memadukan eksotisme laut dan hutan.

Tak terbantahkan lagi, Kebumen memang menjadi salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang kaya akan destinasi wisata. Kabupaten Kebumen sendiri mempunyai letak geografis yang unik, selain menjadi Kabupaten yang berbatasan langsung dengan samudra Hindia, juga memiliki banyak pegunungan kapur yang berada tepat di bibir lautan.

Khususnya di wilayah Kebumen bagian barat, yakni kawasan Kecamatan Ayah dan sekitarnya. Lika-liku jalan yang membentang bak tubuh seekor ular diantara bukit-bukit kapur dan hamparan samudra hindia tentu saja mengukir kesan tersendiri bagi wisatawan.

Seperti halnya saat kita ingin mengunjungi destinasi wisata yang baru seumur jagung ini, yakni objek wisata alam Patemon yang berada di RT 02/01 Desa Pasir, Kecamatan Ayah.

Menurut Suratman, Ketua RT setempat yang juga sekaligus sebagai kepala pengelola obyek wisata Patemon tersebut, inisiatif pembukaan destinasi wisata baru diwilayah tersebut, mulai muncul saat para pemuda khususnya dan warga RT setempat umumnya pada tanggal 17 Agustus 2016 lalu, mengadakan pertemuan yang membahas potensi alam yang ada di wilayah RT setempat.

“Setelah warga setempat dengan bulat berkomitmen ingin membangun dan membuka destinasi wisata baru di Rt tersebut, tak lama kemudian, mulailah sedikit demi sedikit pembangunan di lancarkan,” ujar Suratman saat ditemui sorotkebumen di lokasi wisata, Jumat (21/10/2016)

Terdapat banyak menu keindahan, lanjut Suratman, yang kita suguhkan kepada para tamu wisatawan, diantaranya, panorama patung penyu ya ada di atas bukit yang mana di kaki bukit tersebut sering menjadi tempat persinggahan penyu liar saat musim bertelur tiba.

“Yang paling diminati para penggemar selfie dan photography khususnya dan wisatawan umumnya ialah jembatan pelangi yang berada bak diatas laut dan awan, meski tak sedikit pula yang berkunjung ke gardu pandang, gazebo cinta dan pendopo wisata yang berada tidak jauh dari jembatan pelangi tersebut,” ungkapnya.

Dirinya mengutarakan, meski pembangunan wisata belum mencapai 90 persen dan baru berumur kurang lebih satu bulan, wisatawan yang berkunjung sudah mencapai ratusan dan tak tanggung-tanggung tercatat ada beberapa wisatawan dari luar Jawa yang menyempatkan diri untuk mengunjungi Wisata Patemon tersebut.

“Pembangunan destinasi wisata patemon ini memang ditopang oleh semangat kemandirian dan komitmen yang kuat tanpa bergantung pada investor dan pemerintah, hal ini dapat dilihat dari para penanam saham sendiri yang terdiri dari 34 warga setempat, dan masing-masing menanam saham sebesar satu juta,” ucapnya

Suratman menambahkan, mulai dari dana 34 juta itulah, pondasi wisata tersebut bisa kita bangunkembangkan. “Wisata ini kita kelola diatas prinsip berdikari dengan didukung oleh semangat dari, oleh, dan untuk kita,” tegasnya. (Syarief/Sorotkebumen.com)

Inovasi Kopi Yuri Angkat Kopi Kebumen hingga Luar Negeri

yuli
AMBAL – Berawal dari keprihatinan terhadap kondisi sekitar, Yuri Dullah (37) akhirnya membuat satu inovasi untuk menggerakkan masyarakat sekitar. Di tempat tinggalnya di Desa Pucangan, Kecamatan Ambal, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah yang merupakan dataran rendah, Yuri mendorong warga untuk menanam kopi.

Tidak hanya menanam, warga juga diajak mengkreasi biji kopi dengan alat sederhana, namun dengan cita rasa dan kualitas yang amat tinggi.

Yuri mengawali ajakannya dengan menanam 20 batang kopi di belakang rumahnya di antara pohon Albasia. Sembari menunggu pohon berbuah, ia mengajak warga lainnya menanam pohon kopi di antara lahan tak produktif di wilayahnya.

Menurut dia, pohon kopi bisa hidup di mana saja. Kopi tak hanya tumbuh di daratan tinggi, dengan teknik tertentu kopi juga bisa dibudidayakan di dataran rendah.

Yuri menyebutkan, biji kopi di dataran rendah mempunyai rasa yang berbeda. “Saya ingin ngajak petani merasakan kopi asal Kebumen ini. Kopi ini lebih enak, karena ada cita rasa dibanding kopi ekspreso,” sebut Yuri, di sela promosi di kantor Balitbang, Semarang, Selasa (25/10/2016).

Butuh perjuangan cukup lama untuk mengenalkan kopi Kebumen, beserta inovasi membuatnya. Kopi Kebumen dari dataran rendah acap dikenal sebagai kopi yang mempunyai rasa “kecut.” Namun demikian, Yuri tak patah arang. Melalui sejumlah metode tertentu, biji kopi akhirnya bisa diterima, serta dijual dalam bentuk orisinal.

Yuri juga memperkenalkan cara membuat kopi Kebumen melalui sejumlah metode. Menggunakan alat sederhana melalui gelas bambu, kopi Kebumen disaring, membuang racun, hingga mempunyai cita rasa yang lebih baik.

Dalam metode yang diatraksikan, ia memakai batang bambu yang dipoles menjadi gelas. Biji kopi yang dihaluskan lalu dimasukkan ke dalam gelas bambu tersebut, dengan bagian bawahnya diberi lubang kecil.

Untuk membuat gelas bambu, Yuri menggandeng para perajin lokal. Setelah gelang dilubangi, kopi lalu dimasuki air panas, lalu disaring untuk diambil intisarinya. Kopi pun terlihat lebih hitam dan lebih pekat. “Untuk menunggu warna lebih pekat ini bisa sampai lima sampai 10 menit,” ujar Yuri.

Pemanfaatan bambu, lanjutnya, membuat saringan menjadi lebih sempurna. Selain membuang unsur sakarosa di dalam kopi, bambu juga marak di sekitar tempat tinggalnya. Oleh para perajin, bambu dibuat gelas, dihaluskan dengan ukuran yang bermacam-macam, dari 4 cm, hingga 6 cm.

Kopi kebumen pun dipromosikan dengan harga yang relatif baik. Untuk satu paket kopi beserta alat yang digunakan, Yuri mematok tarif Rp 60.000 hingga Rp 100.000, tergantung jenis kopi yang dipilih. Yuri pun sukses mendulang dan mempromosikan Yuan Roasted Coffe.

Kopinya pun kini telah sampai di negara tetangga, seperti Jerman, India, Singapura, China, dan negara lainnya. “Mayoritas kopi di sini robusta, kalau kopi Arabika yang bagus dijual ke luar negeri. Rasa yang kami ditemukan tidak ada di mesin ekspreso. Kopi kami natural tanpa bahan kimia, alami,” ucapnya.

Inovasi yang dilakukannya inilah yang menghartarkan dirinya menjadi pemenang utama lomba kreativitas dan inovasi masyarakat Jawa Tengah tahun 2016.

Kepala Balitbang Jateng Teguh Winarno, dalam kesempatan terpisah mengatakan, inovasi kopi organik dari Yuri merupakan salah satu inovasi dari warga Jawa Tengah. Alat tradisional yang digunakan ramah lingkungan, sehingga secara alami menghilangkan sakarosa.

“Jadi kopinya redah kalori. Penggunaan bambu ampuh menekan karbohidrat tinggi. Kami akan dampingi hak intelektualnya dan akan didaftarkan di tingkat internasional, karena soal kopi ini ramai sekali plagiarisme,” ucapnya. (Nazar Nurdin/KOMPAS.com)

Pantai Laguna Lembupurwo,”Oase” Pantai Selatan Kebumen

laguna

MIRIT – Bercerita pesona wisata di Kebumen khususnya wisata pantai, seperti tak ada habisnya. Puluhan pantai terhampar di sepanjang garis selatan Kebumen. Salah satunya, obyek wisata Pantai Laguna Lembupurwo di Kecamatan Mirit ini.

Berlokasi Kebumen timur persisnya di Desa Lembupurwo Kecamatan Mirit, obwis ini mudah dijangkau lantaran berada sekitar 1,5 km arah Selatan dari Jalan Daendels, jalur alternatif Jogja-Cilacap-Banyumas. Jalan menuju ke tempat itupun sudah cukup bagus dan bisa dilewati kendaraan roda dua maupun roda empat.

Pesona pantai dilengkapi hamparan menghijau hutan cemara menyambut wisatawan yang berkunjung. Di tengah hutan cemara inilah terdapat laguna air payau nan jernih. Tak berlebihan menyebut obwis ini sebagai oase di tengah panasnya pasir pantai.

Menurut warga setempat, laguna itu terbentuk 15 tahun lalu dari muara sungai Wawar yang berada di wilayah tersebut. Awalnya, keberadaan muara Kali Wawar dikhawatirkan menggerus gumuk pasir yang berada di kawasan tersebut.

Akhirnya, warga membuat kanal sungai untuk “memindahkan” arus sungai. Dan, di lokasi itu muncullah laguna seperti yang terlihat sekarang ini. Obyek wisata Pantai Laguna akan mencapai puncak kunjungannya pada acara Grebeg Rowo yang biasanya jatuh pada hari kesembilan Idul Fitri. Selain itu, masyarakat juga memiliki tradisi sedekah laut pada bulan Sura.

Shohib (32) selaku anggota Karang Taruna desa Lembupurwo yang sekaligus menjadi penjaga tiket dan berdagang di lokasi pantai mengatakan, di saat seperti itu tingkat kunjungan bisa mencapai sedikitnya 1500 pengunjung perhari. Kendati tak sebesar itu, tingkat kunjungan juga cukup banyak pada hari libur.

Untuk tiket masuk, menurut Sohib, hanya diberlakukan pada hari libur. Yakni Rp 3000 untuk tiket dan Rp 3000 rupiah untuk biya parkir. Tak hanya menyajikan pemandangan eksotik saja, obwis Laguna Pantai Lembupurwo juga menyediakan kuliner khas pantai Kebumen yaitu tempe mendoan dan pecel.

Makanan teresebut disediakan oleh warung warung yang ada di sekitar pantai. Harganya pun cukup murah pengunjung wisata hanya perlu mengeluarkan uang sebear Rp 15 ribu sudah termasuk minuman. Mayang (21) salah satu pengunjung Pantai Lembupurwo asal Kabupaten Purworejo mengatakan sangat senang melihat keindahan pantai Laguna Lembupurwo.

“Senang lihat pemandangan Laguna dan pantainya. Indah juga sejuk karena ini pohon cemaranya rimbun dan tinggi jadi enak panas panas untuk berteduh,” katanya yang kemarin berkunjug bersama teman prianya, Roni (22). (saefur/cah/kebumenekspres.com)

Nikmati Pesona Sungai Lukulo Bareng “Wiskuno”

wiskuno

BULUSPESANTREN – Destinasi wisata di Kabupaten Kebumen kini makin kaya. Bila sebelumnya wisata pegunungan dan pantai, kini para wisatawan dapat menikmati wisata sungai. Dan, salah satu wisata sungai itu bisa dijumpai di Desa Maduretno Kecamatan Buluspesantren.

Mengusung nama Wiskuno (Wisata Sungai Lukulo Maduretno), wisata sungai di Maduretno tersebut baru saja diluncurkan dan “resmi beroperasi”, Minggu (30/10/2016) lalu. Peluncuran obwis Wiskuno dilakukan Camat Buluspesantren, Sunarno dan Kepala Desa Maduretno Sunarto disaksikan masyarakat.

Di kesempatan yang sama, siswa SMK Komputer Karanganyar mendapat kesempatan pertama menjajal petualangan di obwis yang berlokasi di pertemuan Sungai Kedungbener dengan Sungai Lukulo, persisnya di RT 01 RW 03 Desa Maduretno tersebut.

Camat Buluspesantren, Sunarno, mengatakan wisata Wiskuno tersebut dalam rangka mendukung program wisata susur sungai Lukulo yang diluncurkan Pemkab Kebumen September kemarin. Sekaligus, menyongsong festival Sungai Lukulo yang akan digelar bulan November ini.

Di kesempatan itu, Camat juga mengapresiasi para pemuda dan warga masyarakat Maduretno yang telah bekerja keras mewujudkan Obwis Wiskuno hingga saat ini. Sunarno mengatakan, pihak kecamatan siap mengembangkan obwis Wiskuno ke depan. Terdekat, perbaikan akses jalan menuju lokasi wisata yang berada di perbatasan Kecamatan Klirong dan Buluspesantren itu.

“Nantinya kita akan perbaiki akses jalan ke wisata Wiskuno dengan membuat kesepakatan antara masyarakat dan Dinas PU,” ujarnya sembari mengatakan, pengelolaan obwis Wiskuno dilakukan oleh para pemuda yang tergabung dalam kelompok sadar wisata .

Ketua kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Wiskuno sekaligus Ketua Karang Taruna Sumber Madu Desa Maduretno, Ikhwan Taufik menyampaikan, Wiskuno merupakan obwis olahraga, edukasi sekaligus agrowisata.

Di tempat itu, para wisatawan dapat menikmati pemandangan alam khas sungai. Selain itu, sejumlah kegiatan out bound. Dan tentu saja, kegiatan memancing. “Juga agrowisata dari hasil budidaya warga Desa Maduretno di bidang pertanian hingga kerajinan,” imbuhnya.

Alif Amiruloh (16), salah satu siswa SMK Komputer Karanganyar yang kemarin menjajal Wiskuno mengaku sangat terkesan dengan suasana dan pemandangan di tempat itu. Apalagi, cara menikmatinya dengan cara yang luar biasa yakni dengan flying fox yang melintas di atas sungai Kedungbener. “Pemandangannya bagus dan sejuk sekali,” katanya.

Kepala SMK Komputer Karanganyar Ahmad Saekhu mengatakan, ada 250 siswanya yang kemarin diajak mencoba sejumlah wahana di obyek wisata Wiskuno. Kegiatan itu sendiri dalam rangka agenda rutin para anggota PMR dan Pramuka di sekolah yang beralamat di Jl Revolusi Karanganyar tersebut.

“Kami selaku pihak sekolah mendukung kegiatan anak. Kegiatan ini sekaligus untuk belajar dan mengenal wisata edukasi dangan alam agar mereka senantiasa cinta lingkungan,” katanya.(saefur/cah)

Menatap Keindahan Laut Selatan dari Bukit Wanalela

wanalela

AYAH – Potensi wisata di selatan Kabupaten Kebumen seolah tak ada habisnya untuk digali. Satu per satu lokasi yang dirintis untuk objek wisata terus bermunculan. Salah satu lokasi yang menawarkan panorama alam dan landscape pantai selatan dari ketinggian adalah Bukit Wanalela.

Bukit Wanalela yang berada di Desa Argopeni, Kecamatan Ayah, Kebumen saat ini mulai dipoles warga setempat. Salah satunya dengan dibangun dua gardu pandang yang memanfaatkan pohon yang tumbuh di area hutan yang dikelola Perhutani tersebut.

Ya, lokasi objek wisata ini memang sangat strategis, karena berada di tepi jalan antara Pantai Pedalen, Desa Argopeni dan Pantai Logending, Ayah. Tanpa gardu pandang, lokasi ini sebenarnya sudah sangat bagus untuk menikmati pantai selatan.

Ditambah dengan dibangunnya gardu pandang, lokasi ini nyaris sempurna untuk menikmati keindahan laut selatan dari atas ketinggian. Dari lokasi ini terlihat Semudera Indonesia, Pantai Logending, Pantai Jetis Cilacap, termasuk aliran Sungai Bodo yang bermuara di Pantai Logending.

Hijaunya hutan mangrove dan perahu-perahu di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Logending juga terlihat jelas. Pemandangan nelayan yang akan melaut maupun pulang terlihat menerjang besarnya ombak pantai selatan. Dalam mengembangkan objek wisata itu, warga mendesain Bukit Wanalela secantik mungkin.

Salah satunya dengan membuat gardu pandang menggunakan papan berbentuk anak panah. Tak hanya digunakan untuk menikmati pemandangan alam, pengunjung juga memanfaatkan lokasi tersebut untuk berswafoto.

Menikmati Sunset

Lokasi paling sempurna untuk menikmati suasana pantai dari ketiggian itu adalah pada pagi dan sore hari. Pada pagi hari suasananya cukup indah, bukit Wanalela diselimuti kabut selayaknya berada di pegunungan.

Sedangkan pada sore hari, saat cuaca cerah pengunjung dapat menyaksikan keindahan matahari tenggelam di garis cakrawala. “Menikmati sunset di sini sangat luar biasa,” ujar Hudi Wasono, warga Desa Krakal, Alian yang mengunjungi lokasi tersebut bersama istri dan anaknya.

Sebenarnya, pengembangan wisata Bukit Wanalela baru dikerjakan. Sehingga desain yang dikemas belum terlalu sempurna. Meski demikian, wisata Bukit Wanalela sudah mulai ramai didatangi pengunjung lokal Kebumen, khususnya pada hari libur.

Media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, Path berpengaruh besar terhadap popularitas lokasi ini. Rencananya ke depan warga akan menambahkan bangunan-bangunan dengan desain unik untuk menarik pengunjung.

“Dengan dikembangkannya wisata Bukit Wanalela, kami berharap menambah destinasi wisata di kawasan Pantai Ayah. Selain itu, keberadaan wisata baru ini juga dapat meningkatkan ekonomi warga sekitar,” tutur Wahyudi warga Desa Argopeni. (Supriyanto-32/Suaramerdeka.com)