Urut Sewu

Buluspesantren – Ambal – Mirit – Bonorowo

Pantai Laguna Lembupurwo,”Oase” Pantai Selatan Kebumen

laguna

MIRIT – Bercerita pesona wisata di Kebumen khususnya wisata pantai, seperti tak ada habisnya. Puluhan pantai terhampar di sepanjang garis selatan Kebumen. Salah satunya, obyek wisata Pantai Laguna Lembupurwo di Kecamatan Mirit ini.

Berlokasi Kebumen timur persisnya di Desa Lembupurwo Kecamatan Mirit, obwis ini mudah dijangkau lantaran berada sekitar 1,5 km arah Selatan dari Jalan Daendels, jalur alternatif Jogja-Cilacap-Banyumas. Jalan menuju ke tempat itupun sudah cukup bagus dan bisa dilewati kendaraan roda dua maupun roda empat.

Pesona pantai dilengkapi hamparan menghijau hutan cemara menyambut wisatawan yang berkunjung. Di tengah hutan cemara inilah terdapat laguna air payau nan jernih. Tak berlebihan menyebut obwis ini sebagai oase di tengah panasnya pasir pantai.

Menurut warga setempat, laguna itu terbentuk 15 tahun lalu dari muara sungai Wawar yang berada di wilayah tersebut. Awalnya, keberadaan muara Kali Wawar dikhawatirkan menggerus gumuk pasir yang berada di kawasan tersebut.

Akhirnya, warga membuat kanal sungai untuk “memindahkan” arus sungai. Dan, di lokasi itu muncullah laguna seperti yang terlihat sekarang ini. Obyek wisata Pantai Laguna akan mencapai puncak kunjungannya pada acara Grebeg Rowo yang biasanya jatuh pada hari kesembilan Idul Fitri. Selain itu, masyarakat juga memiliki tradisi sedekah laut pada bulan Sura.

Shohib (32) selaku anggota Karang Taruna desa Lembupurwo yang sekaligus menjadi penjaga tiket dan berdagang di lokasi pantai mengatakan, di saat seperti itu tingkat kunjungan bisa mencapai sedikitnya 1500 pengunjung perhari. Kendati tak sebesar itu, tingkat kunjungan juga cukup banyak pada hari libur.

Untuk tiket masuk, menurut Sohib, hanya diberlakukan pada hari libur. Yakni Rp 3000 untuk tiket dan Rp 3000 rupiah untuk biya parkir. Tak hanya menyajikan pemandangan eksotik saja, obwis Laguna Pantai Lembupurwo juga menyediakan kuliner khas pantai Kebumen yaitu tempe mendoan dan pecel.

Makanan teresebut disediakan oleh warung warung yang ada di sekitar pantai. Harganya pun cukup murah pengunjung wisata hanya perlu mengeluarkan uang sebear Rp 15 ribu sudah termasuk minuman. Mayang (21) salah satu pengunjung Pantai Lembupurwo asal Kabupaten Purworejo mengatakan sangat senang melihat keindahan pantai Laguna Lembupurwo.

“Senang lihat pemandangan Laguna dan pantainya. Indah juga sejuk karena ini pohon cemaranya rimbun dan tinggi jadi enak panas panas untuk berteduh,” katanya yang kemarin berkunjug bersama teman prianya, Roni (22). (saefur/cah/kebumenekspres.com)

Advertisements

Nikmati Pesona Sungai Lukulo Bareng “Wiskuno”

wiskuno

BULUSPESANTREN – Destinasi wisata di Kabupaten Kebumen kini makin kaya. Bila sebelumnya wisata pegunungan dan pantai, kini para wisatawan dapat menikmati wisata sungai. Dan, salah satu wisata sungai itu bisa dijumpai di Desa Maduretno Kecamatan Buluspesantren.

Mengusung nama Wiskuno (Wisata Sungai Lukulo Maduretno), wisata sungai di Maduretno tersebut baru saja diluncurkan dan “resmi beroperasi”, Minggu (30/10/2016) lalu. Peluncuran obwis Wiskuno dilakukan Camat Buluspesantren, Sunarno dan Kepala Desa Maduretno Sunarto disaksikan masyarakat.

Di kesempatan yang sama, siswa SMK Komputer Karanganyar mendapat kesempatan pertama menjajal petualangan di obwis yang berlokasi di pertemuan Sungai Kedungbener dengan Sungai Lukulo, persisnya di RT 01 RW 03 Desa Maduretno tersebut.

Camat Buluspesantren, Sunarno, mengatakan wisata Wiskuno tersebut dalam rangka mendukung program wisata susur sungai Lukulo yang diluncurkan Pemkab Kebumen September kemarin. Sekaligus, menyongsong festival Sungai Lukulo yang akan digelar bulan November ini.

Di kesempatan itu, Camat juga mengapresiasi para pemuda dan warga masyarakat Maduretno yang telah bekerja keras mewujudkan Obwis Wiskuno hingga saat ini. Sunarno mengatakan, pihak kecamatan siap mengembangkan obwis Wiskuno ke depan. Terdekat, perbaikan akses jalan menuju lokasi wisata yang berada di perbatasan Kecamatan Klirong dan Buluspesantren itu.

“Nantinya kita akan perbaiki akses jalan ke wisata Wiskuno dengan membuat kesepakatan antara masyarakat dan Dinas PU,” ujarnya sembari mengatakan, pengelolaan obwis Wiskuno dilakukan oleh para pemuda yang tergabung dalam kelompok sadar wisata .

Ketua kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Wiskuno sekaligus Ketua Karang Taruna Sumber Madu Desa Maduretno, Ikhwan Taufik menyampaikan, Wiskuno merupakan obwis olahraga, edukasi sekaligus agrowisata.

Di tempat itu, para wisatawan dapat menikmati pemandangan alam khas sungai. Selain itu, sejumlah kegiatan out bound. Dan tentu saja, kegiatan memancing. “Juga agrowisata dari hasil budidaya warga Desa Maduretno di bidang pertanian hingga kerajinan,” imbuhnya.

Alif Amiruloh (16), salah satu siswa SMK Komputer Karanganyar yang kemarin menjajal Wiskuno mengaku sangat terkesan dengan suasana dan pemandangan di tempat itu. Apalagi, cara menikmatinya dengan cara yang luar biasa yakni dengan flying fox yang melintas di atas sungai Kedungbener. “Pemandangannya bagus dan sejuk sekali,” katanya.

Kepala SMK Komputer Karanganyar Ahmad Saekhu mengatakan, ada 250 siswanya yang kemarin diajak mencoba sejumlah wahana di obyek wisata Wiskuno. Kegiatan itu sendiri dalam rangka agenda rutin para anggota PMR dan Pramuka di sekolah yang beralamat di Jl Revolusi Karanganyar tersebut.

“Kami selaku pihak sekolah mendukung kegiatan anak. Kegiatan ini sekaligus untuk belajar dan mengenal wisata edukasi dangan alam agar mereka senantiasa cinta lingkungan,” katanya.(saefur/cah)

Warga Ambal Tewas Tersambar Petir

petir

AMBAL – Wagiman (37), seorang petani asal Desa Pucangan RT 01 RW 02 Kecamatan Ambal, meninggal dunia setelah tersambar petir saat memupuk tanaman jagung di sawahnya, Sabtu (12/12/2015) sore.

Informasi yang dihimpun kebumenekspres.com menyebutkan kejadian itu bermula ketika Wagimin bersama sedang memupuk tanaman jagung miliknya di desa setempat.

Sekitar pukul 15.30 WIB, hujan disertai petir menyambar-nyambar mengguyur kawasan desa setempat. Namun, korban Wagimin itu tidak beranjak meninggalkan sawah karena pekerjaannya masih ada yang perlu diselesaikan.

Tak lama berselang, sebuah kilat menyambar tubuh Wagimin yang membuatnya jatuh tersungkur. Tugimin, warga yang melihat kejadian itu langsung memberikan pertolongan. Namun, dia kaget begitu mendapati Wagimin mengalami luka bakar di beberapa bagian tubuhnya.

Menyadari hal itu, Tugimin berteriak minta tolong. Warga yang mendengar teriakan datang mendekat. Selanjutnya, warga membawa korban ke Puskesmas terdekat tapi sayangnya nyawa Wagimin tak dapat diselamatkan.

”Korban mengalami luka bakar pada bagian dada,” kata Kasi Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Arif Rahmadi, Minggu (13/12). Jenazah korban pun sudah dimakamkan oleh keluarganya Minggu (13/12) sekitar pukul 10.00 WIB di desa setempat.(ori/ kebumenekspres.com /LintasKebumen©2015)

Babinsa Lakukan Percepatan Tanam Padi Ciherang

babinsa ambal

AMBAL – Program pencapaian swasembada pangan yang dicanangkan pemerintah rupanya masih menjadi booming di kalangan para petani, khususnya di wilayah Desa Kaibon Kecamatan Ambal Kabupaten Kebumen.

Babinsa Koramil 12/Ambal bekerjasama dengan pihak PPL dan UPT Pertanian Kecamatan Ambal yang melakukan koordinasi dengan kelompok tani Sri Rahayu Desa Kaibon melaksanakan percepatan tanam padi perdana jenis ciherang, Kamis (10/12/15).

Kali ini lahan yang akan ditanami padi jenis Ciherang seluas 100 hektare dengan teknik tanam jajar legowo (Jarwo). Kegiatan tersebut diharapkan akan mendongkrak kualitas pertanian khususnya di wilayah Desa Kaibon. Teknik tanam jajar legowo ini terbukti mampu menekan serangan hama seperti tikus.

Percepatan Tanam

Babinsa selaku penanggungjawab program upaya khusus (Upsus) peningkatan produksi pangan mengatakan Babinsa dapat menjadi motor penggerak dalam upaya pemerintah mencapai swasembada pangan.

“Kami berharap dukungan semua pihak melalui kegiatan pendampingan Babinsa dalam pertanian, untuk membantu mensukseskan gerakan Upsus ini,” ujar Serma Sutardi.

Sutardi mengatakan, pemerintah telah menginstruksikan dan mendorong petani dengan gerakan percepatan tanam agar bisa mengejar ketersediaan pangan nasional. ”Untuk itu, saya meminta mari bersatu dan menyatukan langkah dalam mengawal terus ketersediaan pangan. Jangan sampai periode tanam terlewatkan,” tegas dia. (kodim0709.com/ Angga /LintasKebumen©2015)

Babinsa Dampingi Petani Semai Benih Padi Ciherang

babinsa pulpes

BULUSPESANTREN – Babinsa Koramil 13/Buluspesantren Serda Rahmat Bambang Budianto melaksanakan pendampingan pertanian di Desa Jogopaten Kecamatan Buluspesantren, Kabupaten Kebumen dalam rangka penyemaian benih padi Ciherang dilahan milik Kirman, Selasa (08/12/15).

Hal ini sebagai salah satu bentuk tugas pendampingan dalam rangka upaya khusus swasembada pangan yang dilaksanakan oleh Babinsa kepada petani.

Selain itu juga agar apa yang disampaikan pimpinan TNI AD bisa menjadi diwujudkan dilapangan dan sebagai contoh kepada petani yang lain dalam semangat menyemai benih padi.

Disamping itu juga untuk mengajak serta memotivasi para petani supaya segera mengikuti atau memulai masa tanam pertama sehingga percepatan masa tanam pertama segera terealisasi pada bulan Desember 2015.

”Tanpa adanya arahan tersebut, kebanyakan para petani masih menunggu hujan turun baru mulai penyemaian dan pengolahan lahan. Namun berkat arahan dari Babinsa, sebagian petani sudah berupaya untuk mempercepat masa tanam pertama,” kata Kirman warga Desa Jogopaten Kecamatan Buluspesantren.

Dengan percepatan masa tanam pertama secara otomatis masa panen pun akan lebih awal. Sehingga untuk masa tanam kedua nanti tidak ada keterlambatan dan selanjutnya masih cukup waktu untuk menanam palawija khususnya kedelai atau jagung.

”Karena sesuai dengan program pemerintah selain padi yang menjadi target swasembada pangan utama disamping kedelai dan jagung,” ujar Babinsa Koramil 13/Buluspesantren Serda Rahmat Bambang Budianto. (kodim0709.com / Angga /LintasKebumen©2015)

Gelombang Tinggi, Nelayan 1 GT ‘Nganggur’

gelombang tinggi

Ilustrasi Gelombang Tinggi

MIRIT – Munculnya kembali musim gelombang tinggi di perairan laut sebulan terakhir ini, menyebabkan para nelayan pengguna perahu berkapasitas 1 gross ton (GT) di beberapa kecamatan di Kebumen sulit untuk rutin melaut.

Sebagian besar diantara mereka memilih libur melaut saat gelombang tinggi muncul dan sebagian lainnya memilih mencari ikan di pinggir laut sebagai nelayan pinggiran.

“Bulan September lalu musim gelombang tinggi sempat mereda dan sebagian nelayan mulai melaut. Namun entah kenapa keadaan tenang itu tak lama, sekitar dua minggu saja,” ujar nelayan Desa Lembupurwo Kecamatan Mirit Kebumen, Wardi, di Pantai Lembupurwo, Rabu (18/11/2015).

”Setelah itu, gelombang lebih sering pasang. Sebulan terakhir ini misalnya, dalam waktu seminggu biasanya hanya satu sampai dua hari saja gelombangnya tenang, setelah itu muncul lagi gelombang tinggi,” tambahnya.

Berdasarkan pengamatan Wardi, kondisi perairan laut Kebumen selama Oktober dan November 2015 benar-benar berbeda dibandingkan kurun waktu yang sama tahun 2014 lalu.

“Oktober 2014 lalu kami tiap hari melaut dengan hasil tangkapan melimpah. Namun entah kenapa Oktober dan November 2015 ini kami masih kesulitan untuk melaut secara rutin setiap hari. Bila melaut, hasilnya tak melimpah seperti halnya musim panen raya tahun lalu,” jelas Wardi. (Dwi/ KRjogja.com /LintasKebumen©2015)

Sumur Bor Warga Indrosari Semburkan Gas

bor

BULUSPESANTREN – Warga Desa Indosari Kecamatan Buluspesantren dikagetkan dengan api yang keluar dari sumur bor. Api tersebut berasal dari gas alam yang keluar dari sumur bor berkedalaman 8 meter.

Kejadian tersebut berawal saat Hadi Purwanto (60) warga RT 1 RW 1 Desa Indrosari Kecamatan Buluspesantren , Kamis (5/11/2015), berniat memperdalam sumurnya yang sudah kering saat musim kemarau. Namun, penggali sumur urung tak berani, saat melihat dinding sumur masih terbuat dari batu-bata.

“Tukangnya khawatir, dinding sumur akan roboh,” kata Hadi.

Akhirnya diputuskan untuk membuat sumur bor. Hingga selesai dikerjakan, tak ada masalah. Air pun keluar dengan jernih tanpa ada masalah. Namun pada sore harinya sekitar pukul 16.00 WIB, keluar gas dari sumur yang menggunakan pipa paralon 10 inch tersebut.

“Saya mendengar ada suara “blubuk-blubuk” dari dalam paralon. Saat itu menghidupkan korek api, dan seketika api terserap dan masuk kedalam paralon,” tutur Hadi kepada kebumenekspres.com, Senin (16/11).

Fenomena sumur gas itu pun membuatnya takut. Untuk mencegah agar tak terjadi sesuatu yang lebih buruk, Hadi menutup pipa menggunakan kain basah. Sesaat kemudian, ia mempunyai ide untuk memanfaatkan gas tersebut.

“Saya kemudian memasang instalasi ke rumah dan dipasangkan ke kompor gas LPG. Namun ternyata tidak bisa, kemungkinan gas yang keluar kecil, sehingga kompor tidak menyala,” kata pensiunan PLN tersebut.

Kendati demikian pihaknya akan terus melakukan eksperimen untuk dapat memanfaatkan gas tersebut. Jika memang menggunakan kompor gas tidak bisa, maka tidak menutup kemungkinan dapat dilakukan dengan cara lain. “Saya masih terus melakukan percobaan dan jika memang bisa dimanfaatkan kenapa tidak. Ini sudah 10 hari, apinya juga belum padam,” paparnya.

Kepala Desa Indrosari Muhammad Muslih SSosI mengatakan, beberapa kejadian serupa memang sering terjadi di wilayah Desa Indrosari dan Kecamatan Buluspesantren saat pembuatan sumur bor. Dulu pernah dilakukan penelitian oleh mahasiswa ITB yang menyatakan memang terdapat banyak gas di area tersebut.

Kemungkinan jumlah gas yang terdapat di sini tidak terlalu banyak sehingga pemerintah tidak berkenan untuk menambangnya. “Dulu tepat didepan balai desa sekitar tahun 1990 malah keluar gas lebih besar,” bebernya.

Dengan adanya kejadian tersebut, pihaknya akan melaporkan kepada Dinas SDA [Dinas Energi Sumber Daya Alam Energi Sumber Daya Mineral (SDA-ESDM)] Kebumen, tujuannya agar gas tersebut dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga. “Jika memang tidak cukup untuk kebutuhan industri, bisa jadi cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga,” ucapnya. (mam/ kebumenekspres.com /LintasKebumen©2015)