Serangan Anjing Liar di Alian dan Karangsambung, Puluhan Domba Mati

domba
Petugas Distapang memeriksa domba korban serangan anjing liar. (Foto: Kebumen Ekspres)

KEBUMEN – Warga Kecamatan Alian dan Karangsambung pemilik ternak kambing domba diresahkan dengan kematian hewan peliharaan mereka. Hewan ternak itu dijumpai mati pada pagi hari dengan luka cabikan. Puluhan domba dilaporkan mati akibat serangan anjing liar.

Kepala Desa Krakal, Kecamatan Alian, Mugiyono menyampaikan adanya serangan hewan buas terhadap domba tidak berhenti dalam beberapa hari terakhir. Jumlah domba yang menjadi korban serangan, semakin banyak.

“Di desa kami ada 2 kali kejadian, pertama sekitar setengah bulan yang lalu di Dukuh Pedurenan ada 6 ekor kambing mati. Pada Rabu (10/102018),  serangan terjadi di dua lokasi, yakni Dukuh Pager Kemiri. Ini menjadikan warga resah,” kata Mugiyono, Kamis (11/10/2018).

Adapun pemilik, Samirin (50), warga RT 4 dan Sutrisno (45) warga RT 5 RW 5 Dukuh Pagerkemiri Desa Krakal Kecamatan Alian. Kades memastikan, pelaku serangan adalah kawanan anjing liar.

“Itu serangan kawanan anjing liar, jumlahnya lebih dari 3 ekor kemarin ada warga yang sempat melihatnya,” ungkapnya.(saefur)r.

Diduga Kelaparan

Serangan oleh anjing liar dengan korban ternak domba, mendapat respon cepat dari Dinas Pertanian dan Pangan (Distapang) Kebumen. Distapang menerjunkan petugas untuk mengobati domba yang masih selamat akibat serangan anjing lia

Kepala Distapang Ir Pudji Rahayu, mengatakan, pihaknya sudah berupaya melakukan pengobatan dan memeriksa sejumlah luka pada domba yang menjadi korban terkaman kawanan anjing liar di sekitar wilayah Kecamatan Alian dan Karangsambung.

“Ya Mas, betul ada serangan hewan buas. Kita sudah ke lokasi kemarin di Desa Kaligending Kecamatan Karangsmbung. Di dukuh Kalikudu yang diserang 8 ekor domba ada 5 ekor yang mati, 3 domba mengalami luka – luka. Yang luka kita obati dan kita injeksi vitamin untuk mengurangi infeksi maupun rabies,” kata Pudji kepada Ekspres melalui pesan singkat.

Pudji Rahayu menyampaikan, adanya serangan anjing liar ini tak lepas dari sekawanan anjing liar yang terdampak musim kemarau panjang. Akibat kekurangan makanan di hutan, mereka turun dan memasuki perkampungan penduduk kemudian menyerang ternak warga.

“Diketahui dari jenis gigitanya, tidak diketahui jelas jenis anjingnya namun yang jelas itu bukan anjing milik warga,” ungkapnya.

Ia menambahkan saat ini pihaknya terus menggencarkan pantauan dan merencanakan penyuluhan kepada masyarakat dan tokoh masyarakat setempat untuk bersama – sama menanggulangi kejadian serangan anjing liar ini.

“Kami berharap ini bisa ditanggulangi bersama masyarakat, sekaligus untuk antisipasi kemungkinan penyebaran penyakit dari gangguan ini,” pungkasnya.

Satu Anjing Ditembak

Keresahan warga pemilik domba sedikit mereda. Ini setelah seekor anjing liar pemangsa hewan piaraan mereka berhasil ditangkap dengan cara ditembak, Rabu (17/10/2018). Seekor anjing berwarna coklat itu ditembak Mohammad Bera (30) warga RT 02 RW 05 Desa Kalirancang, Kecamatan Alian. Anjing itu mati tertembak tepat berada di leher dengan menggunakan senapan angin.

Bera menuturkan, penangkapan anjing liar ini tidaklah mudah. Bersama warga, Bera melakukan pengintaian semalam suntuk pada Selasa hingga Rabu pagi (17/10). Dua ekor anjing sempat terlihat pada Rabu dini hari sekitar pukul 03.30 WIB. Seperti sadar sedang diburu warga, anjing itu berhasil menyelinap dan bersembunyi.

Namun diduga karena dorongan rasa lapar, anjing kembali  menampakkan diri tak jauh dari kandang domba milik Mulyoatmojo (60) warga RT 01 RW 05 Dukuh Jerotengah Desa Kalirancang Kecamatan Alian. Penampakan ini terjadi sekitar pukul 06.00 WIB.

Saat itulah, bak sniper, Bera melepaskan tembakan dan tepat mengenai  leher satu diantara anjing yang hendak kembali mencari mangsa itu. Anjing itupun tewas seketika. “Ada dua ekor anjing baru satu yang berhasil kami tembak,” kata Bera ditemui Kebumen Ekspres  Jumat (19/10/2018).

Usai tak bernyawa bangkai binatang buas itu langsung dibakar dan dikubur oleh warga. Hingga saat ini warga masih terus berjaga – jaga dan meningkatkan kewaspadaan serangan anjing terhadap hewan ternak.

Ia menduga anjing yang ia tembak merupakan anjing pemburu. Ada dugaan, anjing itu lepas dari pemiliknya hingga kemudian memangsa domba-domba milik warga.

“Dari ciri – cirinya ini anjing yang biasa digunakan untuk berburu, pasalnya dia berani berkeliaran di sekitar perkampungan bahkan jalan raya, jika anjing hutan tatkala melihat cahaya apa lagi manusia dia takut dan lari,” jelas pria yang juga anggota Perbakin Kebumen tersebut.

Kepala Desa Kalirancang, Kuswanto mengatakan, adanya anjing yang ditangkap memastikan hewan itulah yang memangsa domba-domba milik warganya. Meski demikian, dia menghimbau  warga untuk tetap waspada dengan menggelar ronda malam. “Warga sepakat untuk terus berjaga – jaga dan lapor jika ada kejadian serangan hewan buas,” katanya. (saeful/Kebumen Ekspres)

Advertisements

Talut Longsor Belum Diperbaiki

talut

KARANGSAMBUNG – Satu rumah rusak terkena longsoran talut penahan tebing SDN 2 Kalipuru, Desa Pujotirto, Kecamatan Karangsambung, Kabupaten Kebumen. Rumah rusak milik Dismo Sumito (56) yang berada persis di bawah tebing.

Kerusakan terjadi pada bagian dapur dan warung. Beruntung tidak ada yang terluka dalam peristiwa tersebut. “Kejadiannya sore hari sehingga kami bisa menghindar ketika terjadi longsor,” ungkap Dismo, Sabtu (12/12/2015).

Dismo menyesalkan karena hingga kini belum ada penanganan. Padahal longsor sudah terjadi dua minggu lalu. “Seharusnya ada pananganan darurat agar tidak longsor lagi,” ujarnya.

Dismo sangat khawatir jika sampai kembali longsor, rumahnya bisa terurug. Pasalnya, tinggi tebing sekitar 5 meter. “Longsornya tebing karena talut dibuat tanpa memakai tulang besi beton, jadi tidak kuat,” pungkas Dismo. (Sukmawan/ KRjogja.com /LintasKebumen©2015)

Hujan Mengguyur, Jalan Rusak Bermunculan

jalan rusak

KARANGSAMBUNG – Akibat beberapa kali diguyur hujan deras, sejumlah titik beberapa ruas jalan di beberapa kecamatan di Kebumen rusak parah. Diantaranya, bagian jalan menikung di Desa Banioro Kecamatan Karangsambung dan Desa Krakal Kecamatan Alian Kebumen.

Titik-titik jalan yang rusak itu sebenarnya sudah direhab tambal sulam atau menutupi lubang dengan batu dan aspal beberapa bulan lalu. Namun sering datangnya hujan deras berakibat merusakkan kembali bagian jalan tersebut.

“Bagian jalan itu nampaknya memang labil dan kerapkali rusak bila diguyur hujan deras beberapa kali. Padahal bagian jalan di dekatnya sama sekali tak mengalami kerusakan. Petugas DPU Kebumen sudah beberapa kali menambal bagian yang berlubang dengan aspal, namun bila berulangkali diguyur hujan deras langsung rusak lagi,” jelas Sumbarjo, pemilik warung makan di dekat tikungan jalan Desa Banioro, Kamis (10/12/2015).

Penjelasan serupa juga diberikan oleh Sarno, warga yang tinggal dekat tikungan jalan yang rusak berat di Desa Krakal Alian. Menurut Sarno, selain dipicu guyuran hujan deras, kerusakan jalan di titik itu diperkirakan disebabkan oleh penggalian batu dan tanah secara besar-besaran di sebidang tanah tak jauh dari tikungan jalan itu.

“Di samping efek penggalian, kemungkinan seringnya truk-truk pengangkut tanah dan batu melewati bagian jalan itu menyebabkan kerusakan bertambah parah,” ujar Sarno.

Kabid Bina Marga DPU Kebumen, Haryono Wahyudi MT, ketika dihubungi menjelaskan bahwa DPU Kebumen sudah memantau kondisi jalan-jalan rusak tersebut. Untuk mencegah kerusakan yang lebih parah, titik-titik jalan itu akan direhab secara total di tahun anggaran 2016 mendatang. (Dwi/ KRjogja.com /LintasKebumen©2015)

Petugas KPPS Gunakan Kostum Punokawan

punokawan

KARANGSAMBUNG – Beragam cara untuk menarik warga agar menggunakan hak suaranya dalam Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kebumen 2015. Seperti petugas di TPS Desa Plumbon, Kecamatan Karangsambung, mengenakan kostum punokawan pada tokoh pewayangan, Rabu (9/12).

Sebanyak empat Petugas Kelompok Petugas Pemungutan Suara (KPPS) itu mengenakan kostum punokawan, mulai dari tokoh Semar, Bawor, Petruk dan Gareng. Tentu saja cara unik ini ampuh menarik warga sekitar untuk mencoblos di tempat pemungutan suara tersebut.

Selain memakai kostum punokawan, TPS yang dibangun di pasar desa setempat itu juga menyuguhkan tembang-tembang jawa. Dan di pintu masuk TPS yang menggunakan tenda itu, dihiasi janur kuning. Sehingga euforia adat Jawa sangat kental di TPS ini.

Ketua KPPS TPS 3 desa setempat, Julifan, mengatakan pemakaian kostum wayang ini dimaksudkan untuk menarik warga sekitar agar menggunakan hak suaranya untuk memilih tiga pasangan calon bupati dan wakil bupati itu, sehingga dapat mengurangi angka golput. Selain itu, kostum wayang juga dapat melestarikan budaya Jawa.

“Dengan adanya kostum seperti ini sangat efektif guna menarik perhatian calon pemilih,” kata Julifan, kepada Kebumen Ekspres, Rabu (9/12).

Menurut Julifan, terobosan baru itu cukup efektif untuk mengundang warga agar menggunakan hak pilihnya. Itu terbukti baru pukul 09.00 WIB, jumlah warga yang sudah menggunakan hak pilihnya sudah mencapai 40 persen lebih dari daftar pemilih tetap (DPT).

“Harapannya bisa mencapai 90-100 persen. Ini baru pertama kali, paling tidak berbeda dan unik,” ujarnya.

Dalam TPS ini terdaftar pemilih tetap sebanyak 540 warga, dengan rincian 227 pemilihan perempuan dan 263 pemilih laki-laki. Barinah, salah satu warga setempat mengaku sangat terkejut melihat TPS unik itu. Dia mengaku baru kali ini ada TPS unik di desanya. ” Ini bagus, kreatif jadi warga kan kepingin liat kesini. Terus mau nyoblos,” ucapnya.

Pilbup Kebumen digelar pada 9 Desember kemarin. Ada tiga pasangan calon akan berebut pucuk pimpinan Kabupaten Kebumen, yaitu pasangan calon nomor urut 1 Khayub Mohamad Lutfi-Akhmad Bakhrun (PKS, Nasdem dan Golkar).

Selanjutnya, calon nomor urut 2 Mohammad Yahya Fuad-Yazid Mahfudz (PAN, PKB, Gerindra dan Demokrat), dan calon nomor urut 3 Bambang Widodo-Sunarto (PDIP dan Hanura).

Sedangkan jumlah pemilih berdasar Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang memiliki hak suara sebanyak 1.076.596 jiwa. Adapun jumlah tempat pemungutan suara sebanyak 2.385 TPS yang tersebar di 460 desa/kelurahan se-Kabupaten Kebumen.(ori/ Radar Banyumas /LintasKebumen©2015)

Jalur Karangsambung – Sadang Tertutup Longsor

longsor sadang

KARANGSAMBUNG – Semakin meningkatkan curah hujan yang mengguyur wilayah Kebumen berdampak terjadinya bencana tanah longsor di sejumlah daerah di Kebumen. Sebuah tebing di Dusun Karangmangu, Desa Totogan, Kecamatan Karangsambung, Kebumen longsor, Selasa (8/12).

Tanah longsor tersebut terjadi sekira pukul 15.00 WIB. Material longsoran berupa tanah dan pohon pinus tumbang menutupi jalan yang menghubungkan Kecamatan Karangsambung dan Sadang. Bahkan jalur tersebut sempat tak dapat dilewati kendaraan.

Dikuti dari laman kodim0709.com, Danramil 07/Karangsambung Kapten Arh M. Chumedi yang mendapat laporan langsung menuju ke lokasi tanah longsor serta melaksanakan koordinasi dengan instansi terkait untuk mendatangkan alat berat.

Hal tersebut guna penyelesaian cepat pembersihan material longsoran mengingat jalan Karangsambung-Sadang merupakan satu-satunya akses utama perekonomian warga setempat. Seluruh anggota Koramil 07/Karangsambung dikerahkan untuk menyingkirkan tumpukan material longsor bersama Polsek Karangsambung yang dibantu masyarakat.

Sekitar kurang lebih dua jam kegiatan menyingkirkan material longsor, akhirnya bisa diselesaikan pada pukul 17.00 WIB. Semua material longsoran telah dapat diatasi dan arus lalu lintas Karangsambung- Sadang kembali normal. (Angga /LintasKebumen©2015)

Babinsa Koramil 07/Karangsambung Bantu Warga Bangun Jalan

babinsa banioro

KARANGSAMBUNG – Warga Desa Banioro Kecamatan Karangsambung bergembira. Pasalnya jalan tanah yang selama ini menjadi akses dan pusat transportasi perekonomian warga kini akan dibangun dengan jalan permanen berupa cor. Ratusan warga nampak bersemangat berjejer untuk melaksanakan kerja bakti, Minggu (6/12).

Baninsa Banioro Kopda Rohmadi dan Peltu Harino yakni dua orang personel TNI dari Koramil 07/Karangsambung datang membantu warga Desa Banioro yang tengah melaksanakan peningkatan jalan tanah dengan pengecoran yang dilakukan dengan kerja bakti pengecoran jalan.

Pembangunan jalan lingkungan sepanjang 386 meter dengan lebar 2,5 meter tersebut merupakan realisasi anggaran bantuan Propinsi yang juga disertai dana pendamping dari Dana Desa serta swadaya masyarakat.

Kepala Desa Ahmad Sutadi mengucapkan terima kasih kepada Gubernur karena telah memberikan bantuan yang sangat berarti bagi desanya. “Alhamdulillah, tiga hari telah selesai 150 meter jalan. Mudah-mudahan akan selesai seluruhnya dalam beberapa hari kedepan mengingat bulan ini telah memasuki musim penghujan,” harap Desa Ahmad Sutadi di lokasi pembangunan jalan, Minggu (06/12/15).

“Untuk penggunaan batu split, kami membeli dari masyarakat yang kebetulan memiliki lahan berbatu. Mereka memecah batu saat belum melaksanakan bercocok tanam di sawah. Ini agar sebagian masyarakat dapat penghasilan dari adanya pembangunan ini,” imbuhnya.

Baninsa Banioro Kopda Rohmadi menyampaikan kepada Kades, agar kegiatan ini tidak menganggu aktivitas warga terkait memasuki masa tanam pertama, pihaknya menghimbau warga lakukan kegiatan yang sudah disesuaikan jadwalnya oleh ketua RT masing-masing.”Sehingga kegiatan pertanianpun tidak terbengkalai,” tandas Baninsa Banioro Kopda Rohmadi. (Rini /LintasKebumen©2015)

Ini Dampak Penambangan Pasir Berlebihan di Sungai Luk Ulo

sungai luk ulo

KARANGSAMBUNG – Penambangan pasir, jika dilakukan dalam batasan yang wajar akan menguntungkan bagi lingkungan terutama Sungai Lukulo. Tetapi jika dilakukan secara berlebihan akan berdampak buruk bagi lingkungan. Salah satu dampaknya adalah keringnya sumur warga di sekitar Sungai Lukulo.

Peneliti Teknis Balai Informasi dan Konservasi Kebumian Karangsambung (UPT BIKKK) LIPI, Puguh Dwi Raharjo menjelaskan, sebenarnya penambangan pasir di sekitar Sungai Lukulo bisa bermanfaat bagi sungai tersebut.

Itu karena penambangan pasir bisa mengurangi sedimentasi atau mengurangi endapan material dari hulu sungai yang terbawa sampai ke Lukulo. Jika endapan itu tidak diambil, sungai Lukulo akan mengalami sedimentasi yang akan berakibat pada pendangkalan sungai.

“Tapi jika dilakukan berlebihan, sumur warga yang tinggal disekitar Sungai Lukulo juga akan menyusut bahkan bisa kering,” terang Puguh Dwi Raharjo.

Menurutnya, Sungai Lukulo adalah sungai yang bertipe influent atau sungai yang airnya ikut mengisi ketersediaan air tanah. Biasanya, kata dia, arah aliran air tanah bersinggungan dengan air sungai. Namun akuifernya (lapisan bawah tanah yang mengandung air dan dapat mengalirkan air) berada jauh di bawah aliran air sungai.

Maka, lanjut Puguh, jika jumlah pasir atau muatan sedimen di Sungai Lukulo yang ditambang lebih banyak dari jumlah muatan sedimen yang ada akan menimbulkan turunnya permukaan air sungai. Jika permukaan sungai turun maka air di sumur warga disekitar sungai akan ikut turun.

Lebih jauh, Puguh menjelaskan, jika material sedimen atau pasir yang ditambang lebih banyak dari yang dihasilkan sungai, otomatis permukaan air sungai turun. Dampaknya sumur-sumur warga juga ikut turun. “Itu karena Lukulo adalah sungai influent, debit airnya menyuplai sumur-sumur warga,” tegasnya.

Pakar Hidrologi ini juga berharap Pemkab Kebumen bisa mengoptimalkan penambangan pasir di Sungai Lukulo dengan mengacu pada rekomendasi yang diberikan LIPI. Penambangan pasir yang dilakukan di sepanjang Sungai Lukulo perlu diatur agar optimal dan tidak menimbulkan kerusakan.

“Kita sudah pernah memberikan rekomendasi terkait hal itu. Penambangan pasir jangan dilarang, cuma harus dioptimalkan, dikontrol secara ketat agar tidak sampai merusak, kasihan warga disekitar sungai sumurnya kering. Kita harus bisa membangun kesadaran,” imbuhnya.

Meski bermanfaat, tapi Puguh melarang penambangan dilakukan dengan menggunakan mesin sedot. Sebenarnya, kata dia, Pemkab Kebumen sudah melarang penggunaan mesin sedot. Namun pelarangan tersebut tidak disertai dengan pengawasan yang ketat sehingga banyak penambang yang “ngeyel” menggunakan mesin sedot.

“Tapi sayang pengawasannya kurang dan banyak penambang yang masih nekad tidak ditindak tegas. Kalau hal ini diteruskan saya kasihan warga disekitar sungai, tiap kemarau pasti kesulitan air, seharusnya tidak begitu,” tandasnya. (ori/ Radar Banyumas /LintasKebumen©2015)