Batik Gerabah Mulai Dilirik Pemerintah

batik gerabah

BULUSPESANTREN – Batik gerabah karya Bakhari (52), warga RT2/ RW 2, Dukuh Joho, Desa Klapasawit, Kecamatan Buluspesantren, Kebumen mulai dilirik pemerintah. Kerajinan yang belum ada duanya itu menghiasi Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Kebumen.

Sekretaris Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Kebumen Farid Maruf mengatakan, pihaknya sengaja mengorbitkan kerajinan yang belum ada di daerah lain di Indonesia tersebut. Bakhari yang telah menekuni kerajinan batik gerabah selama 15 tahun itu pun sedikit bernapas lega.

‘’Sejak lama memang saya menginginkan ada campur tangan dari pemerintah,’’ kata Bakhari yang ditemui Suara Merdekadi rumahnya, kemarin. Ternyata, tidak hanya kain saja yang bisa dibatik.

Kerajinan dari tanah liat seperti gerabah, batu, kayu dan bambu juga bisa dibatik. Untuk sementara ini baru gerabah dan kayu saja yang dibatik oleh Bakhari. Untuk batik gerabah meliputi guci, vas bunga, hiasan dinding, dan hiasan meja. Adapun batik kayu dibuat dalam bentuk jam, ikan, burung, hiasan dinding, gantungan kunci dan aneka souvenir lainnya.

Tempat tinggal Bakhari pun penuh dengan hiasan batik. Dari mulai tiang, tembok, hingga sudutsudut ruangan tidak luput dari goresan tangannya. Di ruangan juga terdapat guci berbahan tanah dan asesoris berbahan kayu yang telah dibatik, sehingga menambah keindahan tersendiri bagi yang melihatnya. Di tempat tersebut terdapat tulisan ‘’Bakhari Art’’.

Bakhari menggunakan teras dan halaman rumah untuk praktik. Ia dibantu istrinya, Wahini (50) dan anaknya, Fiska Rena Karini (33). Bapak empat anak itu juga kerap melibatkan Asida, yang juga perangkat Desa Klapasawit saat menerima pesanan dalam jumlah banyak.

Kurangi Pengangguran

Adanya kerajinan tersebut memang mampu memberdayakan masyarakat setempat dan mengurangi pengangguran. Bakhari pun menjamin sanggup melatih masyarakat selama seminggu untuk bisa membuat batik gerabah.

Dengan memberdayakan masyarakat untuk membuat batik gerabah, maka waktu luang ibuibu petani juga dapat terisi dan mereka mendapat tambahan penghasilan. Bantuan peralatan dari pemerintah seperti peralatan membatik hingga kompresor memang sudah ia terima.

Hanya saja, Bakhari menginginkan agar pemerintah membantu pemasarannya. Karena selama ini baru skala lokal. ‘’Selain bantuan pemasarannya juga permodalan,” katanya.

Harga batik gerabah dan batik kayu bervariasi dari mulai ribuan, ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Proses pembuatannya, untuk gerabah mengambil dari perajin asal Kutowinangun. Kerja sama tersebut saling menguntungkan karena secara tidak langsung Bakhari juga ikut membangkitkan kerajinan grabah di kabupaten berslogan Beriman ini.

Selanjutnya, gerabah yang masih polos itu dibatik dengan aneka corak, warna dan gambar. Adapun batik kayu, bahan kayunya dari limbah kayu yang sudah tidak dipakai. Bakhari sempat berulangkali mengikuti pameran di berbagai daerah saat belum dilirik pemerintah.

Terakhir ini mengikuti pameran di Purworejo selama enam hari, yang dua harinya, pengunjung hanya melihat dan menyentuh barang kerajinannya saja. Hingga kemudian ia berinisiatif bekerja sama dengan sekolahsekolah agar siswanya membatik cobek (layah). Dan akhirnya anakanak antusias untuk membatik pada wadah sambal tersebut. (Arif Widodo-42/ suaramerdeka.com /LintasKebumen©2015)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s