Penderita HIV/AIDS Melahirkan di RSUD Kebumen

RSUD Kebumen

KEBUMEN – Ibu penderita HIV/AIDS melahirkan di RSUD dr Soedirman Kebumen, Rabu (11/11). Proses kelahiran bayi itu sendiri menyita perhatian para pejabat di lingkungan Pemkab Kebumen.

Tampak Pj Bupati Arief Irwanto, Sekda Adi Pandoyo, Asisten II Sekda Tri Haryono, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kebumen Rini Kristiani, Direktur RSUD dr Soedirman Kebumen Bambang Suryanto, Kabag Humas Drajat Tri Wibowo, serta dari komite medis Antonius Wibowo dan tim Voluntary Conseling and Testing (VCT) Yulia Tri Haryanti.

Selain itu hadir secara langsung Kepala Dinkes Jateng Yulianto Prabowo. Mereka sudah berada di RSUD sejak pukul 08.00 dan menunggu kelahiran bayi yang ditangani dokter spesialis kandungan, dokter anak, serta dokter anestesi dan perawat pendukung dari RSUD dr Soedirman Kebumen itu.

Para tenaga medis tersebut menggunakan alat pelindung diri seperti helm, mantel kedap air, termasuk sepatu dan sarung tangan. “Ini agar darah dari pasien yang terkena HIV/AIDS itu tidak mengenai tenaga medis,” kata Kepala TU RSUD dr Soedirman Kebumen M Taufik Hidayat di selasela medampingi pejabat Pemkab dan Pemprov kemarin.

Terus Diobati

Dikatakannya, darah orang yang terkena Human Immunodeficiency Virus (HIV)/ Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) itu, rentan terjadi penyebaran. Untuk itu penanganannya menggunakan alat pelindung diri.

Selain untuk melindungi tenaga medis juga sang bayi yang lahir lewat operasi caesar tersebut. Bayi yang lahir pada pukul 10.30 itu berjenis kelamin perempuan. “Beratnya 3,2 kg normal,” imbuh Taufik.

Yulia Tri Haryanti menambahkan, bayi yang dilahirkan dari orang yang terkena HIV/AIDS itu kecenderungannya mengikuti imun sang ibunya sampai usia 18 bulan. Hingga kemudian setelah usia 18 bulan memiliki imun sendiri. “Dari situlah akan diketahui sang bayi positif atau negatif terkena HIV/AIDS.” jelasnya.

Ibu yang terkena virus yang menyerang kekebalan tubuh itu masih terus diobati sampai seumur hidup. Ia dirahasiakan identitasnya. Begitu juga sang suami yang diketahui negatif karena sudah dicek tiga kali ternyata tidak mengidap HIV/AIDS. Untuk melindungi sang bayi maka ketika ada luka saat proses kelahiran tidak boleh diberi air susu ibu (ASI). (K5-52/ suaramerdeka.com /LintasKebumen©2015)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s