Terbukti Merusak Lingkungan, Penambangan di Sawah Ditutup

garis satpol pp

SRUWENG – Satpol PP Pemkab Kebumen menutup penambangan pasir di Desa/Kecamatan Sruweng, Kebumen, Minggu (25/10). Penambangan pasir di sawah itu telah merusak lingkungan sekitar.

Amirudin (36) alias Acong, pengusaha genting yang melakukan penambangan pasir di sawah itu pun dipanggil petugas di Markas Satpol PP Jalan Indrakila Kebumen.

“Sebelumnya kami juga mengecek ke TKP (tempat kejadian perkara) untuk kepentingan penyelidikan,” kata Kasatpol PP Pemkab Kebumen RAI Ageng Sulistyo Handoko melalui Kabid Penegakkan Perda Sugito Edi Prayitno, kemarin.

Penyelidikan oleh petugas Satpol PP yang dibantu Anggota Kodim 0709 Kebumen itu, terkait siapa pelaku penambangan yang menggunakan alat berat tersebut. Di samping itu, juga mengecek kebenaran adanya penambangan ilegal kepada Kepala Desa Sruweng Rahmat Hidayat serta warga setempat.

“Dan penambangan pasir di sawah itu (Desa Sruweng- Red) sudah jelas melanggar, sehingga kami berani menutupnya,” tegas Sugito sembari menyebut pelanggaran terhadap Perda Nomor 22 Tahun 2011 tentang Pertambangan Mineral dan Batuan.

Acong yang diketahui telah mengeruk pasir dengan ekskavator itu lantas menandatangani berita acara. Pengusaha genting yang bertempat tinggal di RT4 RW2 Desa Sruweng itu pun mengakui telah mengambil keuntungan dari usahanya menjual pasir tersebut. Namun dia berdalih pada awalnya mengambil tanah liat untuk bahan produksi genting.

Kembali Semula

Dan sawah yang ditambang itu ternyata terdapat pasir, sehingga dikeruk dengan alat berat dan diangkut menggunakan truk untuk dijual. Aktivitas yang sudah dijalani sekitar tiga tahun itu menimbulkan kerusakan lingkungan dan jalan licin serta debu pekat di desa setempat.

Acong sempat tidak menggubris keluhan masyarakat. Hingga kemudian petugas Satpol PP melakukan pendekatan preventif. Selanjutnya mengambil tindakan tegas dengan menutup penambangan pasir di Desa Sruweng. Petugas juga meminta Acong untuk mengembalikan sawah seperti semula agar bisa ditanami.

“Kami juga minta pihak bersangkutan membersihkan jalan yang terkena dampak adanya penambangan tersebut,” tandas Sugito yang memberi batas waktu hingga seminggu kepada Acong.

Jika dalam waktu tersebut tidak diindahkan pelaku, lanjut Sugito, maka pihaknya akan melakukan penyitaan secara paksa. Sugito mengakui, tidak melarang adanya penambangan sepanjang sesuai aturan. Bahkan menoleransi penambangan rakyat dengan cara manual asal tidak merusak lingkungan.

Selama 2015 ini, pihaknya telah membawa perkara penambangan ilegal hingga pengadilan dengan 15 terdakwa. Masing-masing penambang yang telah ditertibkan di sepanjang Sungai Luk Ulo itu, dikenai pidana tiga bulan percobaan dan denda Rp 1 juta.

Kepala Desa Sruweng Rahmat Hidayat berharap kejadian di desa yang dipimpinnya sebagai pelajaran. “Mari jaga lingkungan bersama-sama agar terus lestari hingga anak cucu kita,” pinta Rahmat. (K5-32/ suaramerdeka.com /LintasKebumen©2015)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s