Diiringi 40 Perahu, “Jolen” Dilarung ke Laut

tradisi jolen

MIRIT – Memasuki Bulan Syura pada penanggalan Jawa, Nelayan TPI Desa Rowo Kecamatan Mirit menggelar sedekah laut, yang dalam bahasa setempat disebut tradisi larung jolen ke tengah laut. Tradisi rutin setahun sekali ini digelar wajib setiap hari Selasa atau Jumat Kliwon pertama di bulan Syura.

Kata jolen merupakan singkatan dari kata “Ojo kelalen”. Sehingga tradisi jolen ini dimaksudkan agar masyarakat tidak lupa untuk bersyukur dengan limpahan rezeki selama ini.

Tahun ini, tradisi jolenan digelar bertepatan dengan hari Jumat Kliwon, 10 Syura, Jumat (23/10/2015), kemarin. Diyakini dengan tradisi larungan ini akan memberikan berkah kepada warga setempat, terutama yang menggantungkan hidupnya dari laut.

Tradisi budaya ini menjadi cara kultural mereka dalam meningkatkan rezeki sepanjang setahun. Selain, sebagai ucapan syukur atas rezeki dari laut selama satu tahun lalu, juga menjadi tradisi budaya nelayan untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik selama setahun ke depan.

Adapun berbagai sesaji yang dilarung, antara lain berupa kepala kambing, jajanan pasar, kembang setaman, tumpeng tolak bala, pisang dan bermacam buah masing-masing sebanyak tujuh macam, pakaian perempuan serta alat kecantikan.

Sesaji tersebut dipersembahkan kepada Nyi Roro Kidul, masyarakat setempat meyakini Nyi Roro Kidul menyukai persembahan itu. Sejumlah sesepuh desa dan jajaran musyawarah pimpinan kecamatan setempat juga ikut dalam prosesi itu.

Sebelum dilarung, sesaji diarak menuju pantai dengan menyusuri Sungai Wawar menggunakan perahu nelayan. Sedikitnya 40 perahu dan mengangkut ratusan warga ikut mengawal sesaji. Larung Jolen sendiri dipimpin oleh sesepuh desa setempat.

Sesepuh tersebut memimpin doa selama beberapa saat, membakar kemenyan, dan menaburkan bunga di tepi pantai sebelum aneka sesaji itu dilarung.

Ketua Panitia Larungan Jolen, Slamet mengatakan, sebagian nelayan setempat hingga saat ini masih yakin bahwa tradisi itu juga untuk menghormati penunggu laut selatan yang biasa disebut sebagai Nyi Roro Kidul. “Dengan menghormatinya akan lancar dalam mencari ikan,” ujarnya.

Slamet berharap hasil tangkapan ikan pada tahun-tahun mendatang lebih banyak sehingga meningkatkan pendapatan mereka. Selain melakukan sedekah laut, nelayan setempat juga menggelar kenduri dan seni ebleg, organ tunggal, dan pementasan wayang kulit semalam suntuk dengan dalang Ki Basuki Hendro Prayitno.

Camat Mirit, Ahmad Ngaisom mengatakan, tradisi ini menjadi salah satu even pariwisata desa di pantai selatan Kebumen. “Tradisi ini aset wisata yang mendukung pengembangan pemanfaatan Pantai Rowo,” kata dia yang ikut dalam acara larungan. (ori/ kebumenekspres.com /LintasKebumen©2015)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s