Rawan Politik Uang, Penegakan Hukum Lemah

money politic

KEBUMEN – Pesta demokrasi lima tahunan ini rawan politik uang. Terlebih regulasi yang mengaturnya, yakni Undang Undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang Pilkada cenderung masih memberi peluang adanya praktik tidak terpuji tersebut.

Sementara dalam penegakan hukumnya, para aparat sudah memberi ancang-ancang untuk tidak cawe-cawe dalam urusan tersebut. “Bagi penegak hukum, kecenderungannya memang merasa keberatan jika kasus politik uang dibawa ke ranah pidana,” kata Ketua Panwas Kabupaten Kebumen Suratno, kemarin.

Suratno yang baru pulang menunaikan haji itu pun menyoroti pragmatisme masyarakat yang menganggap politik uang merupakan sesuatu yang wajar dalam setiap pemilihan. Bahkan ada istilah yang sudah memasyarakat, yakni “Ola uit ola obos” (tidak ada uang tidak nyoblos).

Kondisi itu pun telah merasuk ke pola pikir (mindset) masyarakat sejak mengenal wuwuran dalam pemilihan kepala desa secara langsung. Padahal, kata dia, sanksi bagi pasangan calon yang melakukan politik uang sangat tegas, yakni bisa didiskualifikasi.

Untuk itu, Panwas melakukan upaya dini untuk mencegah adanya praktik politik uang melalui sosialisasi dan pengawasan, baik melalui cetak, elektronik, maupun stiker dan spanduk. Dikatakannya, modus politik uang yang kerap dijumpai, yakni pemberian bantuan materi yang berbalut kemanusiaan, seperti air bersih, sumbangan masjid, dan kegiatan keagamaan.

“Selain itu dalam bentuk uang transport dan berbagai kegiatan serta serangan fajar,” imbuhnya.

Jadi Kebiasaan

Bagi Sanreja (60), warga Kuwarasan, pemilihan langsung tanpa bagi-bagi uang sulit dihindari. Pasalnya, itu sudah menjadi kebiasaan sejak nenek moyang. Meskipun, kebiasaan yang sudah membudaya itu jelas-jelas tidak baik.

Sehingga, dalam pelaksanaan Pilbup 9 Desember mendatang pun masyarakat menunggu pembagian amplop dari para calon bupati dan wakil bupati, baik melalui tim suksesnya maupun sukarelawannya.

“Dan bagi calon pun sama-sama berkepentingan,’’ jelas Sanreja sembari mengatakan, uang dalam jumlah banyak pun sudah pasti disiapkan para calon yang berkompetisi dalam Pilkada ini.

Ustadz Sayyidan menekankan pentingnya revolusi mental dalam mengubah perilaku yang cenderung melakukan politik uang dalam setiap pemilihan di berbagai tingkatan itu.

“Dan di Kebumen sudah lebih dulu melakukan revolusi mental dengan adanya komitmen bersama ulama dan umaro pada Kamis 17 Mei 2012. Komitmen itu berisi tentang kesanggupan segenap komponen masyarakat Kebumen menyumbangkan jiwa dan raga untuk mewujudkan Kebumen Beriman,” tutur Sayyidan yang juga guru SMK Farmasi Bhakti Husada Karanganyar, Kebumen itu.

Ia yang bertempat tinggal di Kelurahan Panjer, Kebumen itu pun menunjukkan QS Al-Aíraf ayat 96 yang artinya, “Sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.’’ katanya. (Arif Widodo-32/ suaramerdeka.com /LintasKebumen©2015)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s