Tradisi Barit untuk Selamatan Ternak

kuda lumping

ALIAN – Warga Desa Sawangan, Kecamatan Alian, Kebumen menggelar tradisi barit, Rabu (14/10). Tradisi turun temurun dalam rangka selamatan ternak itu digelar bersamaan dengan 1 Sura 1949 Saka atau 1 Muharam 1437 Hijriah. Tradisi barit di Desa Sawangan, diisi dengan sejumlah kegiatan.

Sejak pagi ratusan warga berkumpul menggelar kenduren di tanah lapang di Dusun Krajan, persisnya di depan SD Negeri Sawangan. Saat kenduren warga membawa nasi tumpeng, kupat dan lepet yang diwadahi paseman. Setelah didoakan, nasi tumpeng itu dibawa pulang kembali untuk dimakan bersama.

Usai menggelar tahlil bersama, di lokasi yang sama digelar santunan kepada anak yatim. Sejumlah 35 anak yatim di desa itu tampak berseri-seri saat mendapatkan santunan uang dan bingkisan.

Selanjutnya, acara diisi dengan hiburan rakyat yakni kesenian kuda kepang yang menampilkan Paguyuban Seni Kuda Kepang Langen Utomo dari Desa Wonokromo, Alian. Mbah Manoto (76) sesepuh Desa Sawangan menuturkan, tradisi barit memiliki akar sejarah sejak zaman Mataram Islam.

Pada zaman itu barit merupakan selamatan kemakmuran ternak dalam bentuk grebeg atau iring-iringan yang disertai ternak peliharaan. Barisan pesertanya seluruhnya memakai pakaian dan topi warna merah. Pada zaman penjajahan warga mendegar kata baret untuk menyebut barisan bertopi merah.

’’Sejak itulah oleh lidah orang Jawa acara tahunan tahunan disebut dengan nama baret lalu menjadi barit,’’ ujar Mbah Manoto kepada Suara Merdeka di sela-sela acara.

Walimatus Sura

Tradisi barit sekaligus digelar dalam rangka Walimatus Syura pada 10 Muharam. Bulan Assyura merupakan bulan yang dimuliakan, karena pada bulan itu terdapat banyak rahmat diturunkan Allah.

Antara lain, Nabi Adam diterima taubatnya, Nabi Idris diangkat derajatnya, Nabi Isa diangkat ke langit, Nabi Ibrahim diselamatkan dari api Raja Namruj, Nabi Yunus dikeluarkan dari perut ikan, hingga Nabi Musa menang melawan Firaun. ’’Karena sekarang ini ternak tidak sebanyak zaman dulu, maka tradisi barit disesuikan dengan kondisi zaman.

Namun maknanya tetap sama yakni wujud syukur kepada Allah,’’ ujar pria yang juga dikenal dengan nama Muhammad Nur Ihsan itu. Ketua Panitia Mohammad Kusaeni menambahkan, pihaknya ingin menghidupkan kembali tradisi barit yang sudah banyak ditinggalkan masyarakat desa.

Tradisi juga diisi kegiatan positif baik bernuansa ritual, sosial hingga hiburan masyarakat. ’’Kegiatan ini murni swadaya dari masyarakat. Masyarakat sangat antusias dalam mendukung kegiatan ini,’’ ujar Mohammad Kusaeni yang merupakan mantan kades Sawangan tersebut. (J19-42/ suaramerdeka.com /LintasKebumen©2015)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s