Nelayan Pasir Larung Sesaji Sambut Musim “Labuhan”

labuhan

AYAH – Nelayan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pasir, Kecamatan Ayah, menggelar upacara larung sesaji “labuhan” sebagai bentuk rasa syukur atas mulai melimpahnya hasil tangkapan ikan. Acara sedekah laut itu dipusatkan di Pantai Pasir, Jumat (9/10/2015).

Ribuan nelayan dari lima desa, yakni Desa Pasir, Karangbolong, Banjararjo, Jintung dan Srati mengikuti ritual rutin yang digelar setahun sekali itu. Ritual itu, digelar setiap memasuki musim kapat (keempat) pada hari Jumat Manis, menurut penanggalan jawa.

Sebelum larung sesaji, ribuan nelayan itu terlebih dulu mengikuti kenduri bersama dibawah gubug panjang beratap dan beralaskan blarak (daun pohon kelapa kering). Mereka membawa makanan sendiri dari rumah dan memakan bersama-sama setelah didoakan oleh Ki Pelabuh (semacam juru kunci).

Setelah kenduri, nelayan dan warga sekitar disuguhi pentas singkat wayang kulit dengan lakon yang selalu sama setiap tahunnya, lakon abadi itu adalah “Rama Nambak Samudra”. Selain itu, dalangnya juga bukan sembarang dalang. Yakni dalang spesial ruwat yang masih suci karena belum pernah melakukan zina dan tindak asusila lainnya.

Selanjutnya setelah pentas wayang selesai, dipimpin oleh Ki Pelabuh dan kepala desa setempat melarung aneka sesaji ke laut. Sedangkan, gubug panjang dirobohkan dan dibakar.

Ritual itupun menyedot perhatian dari berbagai masyarakat, bukan hanya dari warga sekitar. Namun banyak juga yang datang dari Gombong, Sumpiuh, maupun Kebumen. Bahkan pasangan calon bupati Khayub Mohamad Lutfi-Akhmad Bakhrun juga hadir langsung di acara ritual yang sudah berjalan ratusan tahun itu.

“Ini adalah acara labuhan. Acara ini digelar setiap Jumat Manis pada musim kapat, dimana pada bulan ini para nelayan memulai melaut setelah beberapa bulan paceklik,” ujar Ki Pelabuh, Suradimeja (88) kepada kebumenekspres.com, usai melarung sesaji.

Ki Pelabuh menjelaskan, ritual ini sebagai bentuk rasa syukur atas melimpahnya hasil laut yang diberikan kepada para nelayan Pantai Pasir. “Sesaji itu kita persembahkan untuk penguasa laut kidul, agar para nelayan diberikan keselamatan, kesehatan dan keberkahan,” kata pria yang tidak lancar berbahasa Indonesia itu.

Kepala Desa Pasir, Sukamso, mengatakan, tradisi ini selalu dilakukan rutin setiap tahunnya. Selain sebagai wujud syukur, kata dia, kegiatan ini sebagai kebersamaan antar sesama nelayan. “Ini memag tradisi yang harus dilakukan setiap akan memulai melaut pada masa kapat,” tegasnya. (ori/ kebumenekspres.com /LintasKebumen©2015)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s