Pemkab Kebumen Belajar Pariwisata ke Ranah Minang (II)

padang2

KEBUMEN – Bukitinggi, hanyalah kota kecil seluas kira-kira 45 kilometer persegi dengan tiga kecamatan. Namun kota yang dijuluki Paris van Sumatera ini memiliki keindahan alam dan wisata sejarah yang mengagumkan.

Bahkan, kota yang berjarak 91 km dari Padang ini memiliki panorama alam yang elok dan masih alami. Pemandangan perbukitan menghijau, dipadu udara sejuk serta aliran sungai yang jernih, menjadi daya tari dan perpaduan nan elok. Ini sekaligus bukti alam Minangkabau diciptakan Tuhan dengan berbagai kelebihan yang pantas membuat iri daerah lain.

Bahkan, saat pertama menginjakkan kaki di Kota Bukittinggi, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), Minggu malam (27/9), terasa udara begitu dingin. Semilir angin disela gerimis malam mampu menjadi obat lelah rombongan Pemkab Kebumen bersama sejumlah awak media.

Setiba di Kota Padang, sepanjang jalan melewati Padang Panjang-Padang Pariaman hingga Bukittinggi kami disambut macet luar biasa. Untunglah udara sejuk perbukitan disertai panorama indah sepanjang perjalanan mampu mengurangi kepenatan setelah seharian perjalanan jauh.

Aliran parit dan sungai yang jernih di tepi jalan dipadu perbukitan dan lembah menghijau sungguh mengesankan. Apalagi, setelah pagi hari di pusat Kota Bukittingi diguyur hujan. Kota yang sudah ada sejak 231 tahun lalu itu kini masih menyisakan rerimbunan pepohonan dan perpaduan bukit-bukit yang menghijau, sehingga terasa sejuk dipandang.

Seperti Ngarai Sianok, destinasi wisata andalan yang merupakan perpaduan lembah dan sungai dengan latar Gunung Singgalang yang menghijau. Meski Kota Bukittingi hanya memiliki wilayah tiga kecamatan, telah resmi berdiri sebagai Pemerintah Kota sejak 1974 dan menjadi kota terbesar kedua setelah Padang.

Menurut Asisten III Sekda Zet Buyung saat menerima studi banding Kehumasan Pemkab Kebumen, daerah tersebut memiliki pendapatan asli daerah (PAD) sekitar Rp 65 miliar. Hebatnya, 40 persen PAD tersebut disumbang sektor pariwisata dan jasa.

Bahkan Zet Buyung mengakui, salah satu penggerak perekonomian di daerah berhawa sejuk layaknya Kota Ambarawa atau Baturraden itu memang sektor pariwisata dan jasa. Maka bisa dimengerti bila daya tarik wisatanya mampu menarik pelancong untuk datang. Dari tahun ke tahun pengunjung baik wisatawan nusantara maupun mancanegara terus meningkat.

Jika pada 2009 wisatawan yang datang ke Bukittingi baru 306.413 orang, pada 2014 lalu sudah mendekati setengah juta, tepatnya 455.113 orang. Otomatis kehadiran wisatawan itu berpengaruh pada pertumbuhan sektor perdagangan, perhotelan, dan rumah makan, termasuk sektor budaya dan hasil kerajinannya.

Dipenuhi Tamu

Wajar bila saat ini dari 70 hotel yang ada di Bukittingi, setiap hari dipenuhi tamu wisatawan. Apalagi di Kota ini selain menyimpan keindahan alam juga terdapat wisata sejarah. Kota ini juga tempat kelahiran Proklamator Bung Hatta. Saat ini tempat kelahirannya dijadikan Museum Bung Hatta dan ramai dikunjungi.

Tak jauh dari museum tersebut ada Jam Gadang yang menjadi salah satu ikon wisata Bukittingi pula. Di depan Jam Gadang itu terletak Pasar Atas, salah satu pasar terbesar yang konon sejak zaman Belanda sudah ramai. Berbagai hasil kerajinan seperti kain songket Minang, konveksi dan cindera mata tersedia di pasar tersebut.

Setiap hari pasar itupun dipadati wisatawan Nusantara. Masih di pusat kota, terdapat Benteng Fort de Kock yang legendaris. Yakni benteng pertahanan pasukan Belanda saat Perang Paderi. Guna melindungi diri dari serbuan pejuang Minangkabau yang dipimpin Imam Bonjol, Belanda membangun benteng pertahanan tersebut di atas bukit saat perang Paderi 1821-1837.

Kota ini juga pernah menjadi Ibu Kota Pemerintahan Darurat 1948. Tidak jauh dari Ngarai Sianok, terdapat Lubang Jepang, yakni lubang yang dibuat pasukan Jepang saat menghadapi Perang Asia Timur Raya.

Lubang itu kini dirawat dan dijadikan salah satu wisata andalan karena pengunjung bisa melalui terowongan atau lorong bekas pertahanan Jepang sepanjang sekitar 400 meter. Di dalamnya ada bekas dapur tentara, asrama hingga penjara tawanan perang yang dibuat pasukan Jepang. (Komper Wardopo-42/ suaramerdeka.com /LintasKebumen©2015)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s