Pemkab Kebumen Belajar Pariwisata ke Ranah Minang (I)

padang1

KEBUMEN – Selama tiga hari (27-29/9), rombongan Pemkab Kebumen dan media belajar kehumasan dan kepariwisataan ke Ranah Minang di Sumatera Barat (Sumbar).

Kunjungan antara lain ke objek wisata di Kabupaten Tanah Datar, Agam, Padang Panjang dan Padang Pariaman serta kota Bukittinggi. Berikut laporannya dalam dua tulisan. Banyak hal bisa dipetik dari kunjungan ke daerah yang sangat kuat dengan budaya merantau dan dijuluki pula urang awak tersebut.

Mulai dari masih terpeliharanya flora fauna dan kelestarian alam, cagar budaya heritage yang dirawat dengan baik, kuliner masakan khas Padang yang serba pedas berikut hasil kerajinan tangan serta keunikan seni budayanya.

Rombongan Pemkab Kebumen kali ini, ramping namun lengkap. Dipimpin Sekda Adi Pandoyo, disertai Asisten I Sekda Mahmud Fauzi, Kabag Humas dan Protokol Drajat Triwibowo, dan Kabag Administrasi Pembangunan Edy Riyanto.

Ikut pula Kasubag Hubungan Media Bagian Humas Dewi Indri Astuti, Kasubag Protokol Unggul Winarni serta 10 wartawan cetak dan televisi. Diawali perjalanan dari Bukittingi ke Kabupaten Tanah Datar. Sepanjang jalan meski cuaca berkabut dan asap kebakaran, tak mengurangi keindahan alam Minangkabau.

Jalan memang sempit berkelok, namun panorama sepanjang jalan indah. Pohon menghijau, hutan rimbun di sela bukit dan lembah. Sesekali bisa memandang dua gunung terbesar di Sumbar, Gunung Marapi dan Gunung Singgalang. Setelah sekitar satu setengah jam perjalanan, kami tiba di bekas Istana Pagaruyung di Batusangkar Kabupaten Tanah Datar.

Bangunan istana yang sudah hancur akibat perang saudara dan pernah diduduki Belanda itu kini seolah berdiri kembali. Setelah sempat terbakar dua kali, istana yang menurut sejarah tempat memerintah Raja Adityawarman itu masih berdiri kokoh dan megah.

Direnovasi

Arsitektur istana tersebut direnovasi dan dibuat seperti aslinya, menjadi cagar budaya dengan gaya khas rumah gadang bertingkat dengan nuansa etnis dan megah. Di rumah utama lantai dasar, ada kamar-kamar atau bilik khas rumah gadang. Pengunjung bisa naik tangga kayu hingga bangunan puncak tempat menyimpan senjata.

Di belakang istana, ada dua rumah yang menurut pemandu lokal, bagian dari kompleks Istana Pagaruyung. Dua rumah itu untuk musyawarah dan rapat adat. Di belakang istana masih berdiri kokoh tebing dengan pepohonan menghijau. Tiap hari ratusan wisatawan datang menikmati sisa kemegahan bekas istana tersebut.

Sekda Kebumen Adi Pandoyo pun terkesan dengan pelayanan ramah dari pemandu wisata di Istana Pagaruyung. Adi makin kaget setelah mengetahui ternyata si pemandu dua gadis cantik itu bukanlah PNS, melainkan tenaga kontrak yang dipekerjakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Tanah Datar.

Asisten I Sekda Mahmud Fauzi memuji terlepiharanya fungsi ekologi di kawasan wisata Sumbar seperti di Lembah Anai tersebut. Terbukti mata air mengalir deras dan jernih. Bahkan sepanjang jalan dari Padang-Bukit Tinggi dengan panorama alam dan aliran air.

Bekas rel kereta api dengan tiga rel pun masih ada dan terawat, kabarnya jalur itu akan dihidupkan sebagai jalur wisata. Seorang pemandu wisata di Sumbar Odrianda menuturkan, selain mengandalkan keindahan alam dan budaya, kemajuan wisata di daerahnya sejak dua puluh tahun terakhir ini didukung promosi gencar oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Sumbar.

Belum lagi pengembangan bandara Padang menjadi bandara internasional Bukittinggi, semakin mendorong hadirnya wisatawan nusantara maupun asing.

”Kini tiap hari ada dua pesawat terbang melayani Padang-Kuala Lumpur. Tiketnya pun tidak mahal. Bahkan turis asing selain dari negara tetangga Malaysia dan Singapura juga banyak datang dari Belanda, mungkin faktor sejarah Belanda dulu pernah lama tinggal di Bukittingi,” imbuh Odrianda.

Mahmud Fauzi pun berharap, ke depan Pemkab Kebumen bisa meniru langkah Provinsi Sumbar dan kabupaten kota di wilayahnya dalam strategi promosi wisata.

Selain itu, bila ”mimpi” pembangunan Bandara Internasional Temon di Kulonprogo terwujud, jarak Kebumen-bandara melalui jalur selatan-selatan bisa ditempuh kurang satu setengah jam. Tentu akan berdampak luar biasa bagi pertumbuhan ekonomi kreatif dan kepariwisataan Kebumen. (Komper Wardopo-78/ suaramerdeka.com /LintasKebumen©2015)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s