Lahan Tambak di Kebumen Melonjak

 Sebagian dari kawasan tambak udang Pantai Tanggulangin. (Foto: Dasih Darmawati)

Sebagian dari kawasan tambak udang Pantai Tanggulangin. (Foto: Dasih Darmawati)

KEBUMEN – Badan Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu (BPMPT) Kebumen mencatat dalam empat bulan terakhir, sejak akhir Mei hingga akhir September 2015, terjadi penambahan cukup tinggi jumlah tambak udang di lima desa tiga kecamatan di Kebumen.

Yaitu, dari 171 tambak menjadi 258 tambak. Ironisnya, kendati semuanya sudah beroperasi namun belum satupun yang mengantungi izin operasional.

” Dari 258 tambak itu baru 33 tambak yang memiliki izin perencanaan letak. Namun dengan hanya berizin perencanaan letak saja belumlah cukup untuk bisa beroperasi, karena masih ada beberapa tahapan yang harus dilakukan,” ungkap Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPMPT Kebumen, Aden Andri Susilo MSi, di ruang kerjanya, Rabu (30/09/2015).

Menurut Aden 258 tambak udang tersebut semuanya berada di tanah negara di pesisir Desa Tanggulangin dan Jagasima Kecamatan Klirong, masing-masing 95 tambak dan 8 tambak. Desa Tegalretno dan Karangrejo Kecamatan Petanahan masing-masing 83 tambak dan 11 tambak serta Desa Surorejan Kecamatan Puring 61 tambak.

Tak hanya menduduki tanah negara, sebagian bahkan merusak kawasan konservasi yang ditanami tanaman-tanaman penghijauan oleh Kementerian Kehutanan bersama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM).

“Tambak di kawasan konservasi ini sama sekali tak akan kami beri izin meskipun pemiliknya berjanji akan memproses perizinan. Bahkan, tambak harus dibongkar dan pemiliknya mengganti tanaman yang dirusak. Begitu pula tambak yang melanggar garis sempadan pantai, langsung ditolak permohonan izinnya,” ujar Aden.

Sedangkan tambak di tanah negara bukan kawasan konservasi dan tak melanggar garis sempadan pantai Pemerintah Kabupaten Kebumen kini masih menoleransi pemiliknya untuk menyelesaikan tahapan-tahapan perizinannya dan membayar sewa lahan kepada negara.

“Syarat lainnya, mereka harus membuat kelompok-kelompok petambak dan masing-masing kelompok harus membuat tempat pengolahan limbah agar tak terjadi pencemaran lingkungan,” ujar Aden. (Dwi/ KRjogja.com /LintasKebumen¬©2015)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s