Dolar Naik, Perajin Konveksi Menjerit

konpeksi

BULUSPESANTREN – Naiknya nilai tukar dolar terhadap rupiah membuat kekhawatiran para pengrajin konveksi di Kabupaten Kebumen. Pasalnya mayoritas pengrajin konveksi merupakan mitra Cute, Make, Trim (CMT) dari beberapa pengusaha konveksi di Jakarta.

Turunnya nilai rupiah telah membuat beberapa pengusaha konveksi di Jakarta berhenti beroprerasi. Alasannya selain harga behan baku melambung daya beli masyarakat juga menurun. Alhasil para pengusaha konveksi pun tidak berani bersepekulasi, dan memilih untuk berhenti sementara waktu.

Dampak dari menguatnya nilai tukar dolar tersebut dirasakan langung oleh Tohir (43) salah satu pelaku usaha konveksi RT 5 RW 2 Desa Sangubanyu Kecamatan Buluspesantren. Menurutnya, sejak lebaran kemarin order jahitan dari pengusahan yang sudah menjadi mitranya berhenti total hingga sekarang.

“Semenjak awal puasa hingga pertengahan ordernya masih stabil, namun setelah lebaran Fanny belum jalan,” tuturnya kepada Ekspres, Rabu (30/9).

Demi memberi pekerjaan kepada para karyawan, Tohir terpaksa harus mencari order dari pengusaha konveksi lainnya, itupun diperoleh dengan harganya tergolong murah bila dibandingkan dengan Funny. “Ini ada sedikit order kalau tidak salah ini untuk ekpor ke Negria,” katanya.

Naiknya Dolar telah membuat bahan baku mengalami kenaikan. Kendati tidak semua bahan baku mengalami kenaikan, namun sebagian besar naiknya berkisar 15 sampai 20 persen. Kemungkinan harga bahan baku akan terus menanjak jika rupiah terus melemah dan dolar terus mengalami kenaikan.

“Kalau kondisinya seperti ini terus, tentunya akan sangat sulit untuk memajukan usaha,” paparnya.

Dia menuturkan, kondisi itu membuatnya resah. Sebab bila harga naik secara terus menerus tidak menutup kemungkinan usaha yang digelutinya akan gulung tikar. Jika kondisi ekonomi tidak kunjung membaik maka daya beli masyarakat juga terus turun. “Kalau daya beli konsumen turun, tentunya produsen juga akan kesulitan,” keluhnya.

Tohir menambahkan, saat ini ia juga sudah mulai menjahit seragam sekolah. Alasannya, seragam sekolah merupakan kebutuhan pokok bagi para siswa. Hal ini dilakukan sebagai trobosan untuk menunggu datangnya order dari Jakarta.

“Yakin jika kondisi ini tak kunjung stabil tidak menutup kemungkinan banyak masyarakat yang akan frustasi. Akibatnya bisa jadi angka kejahatan akan semakin meningkat,” ucapnya (mam/ Radar Banyumas /LintasKebumen©2015)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s