30 September: Pamitan Sederhana Jenderal Soetojo

mayjen sutoyo

KEBUMEN – Bagi masyarakat Kabupaten Kebumen nama Mayjend Sutoyo pasti sudah tak asing lagi karena nama tersebut digunakan untuk nama sebuah jalan di ruas dalam Kota Kebumen maupun kota lainnya di Indonesia. Namun tahukah anda siapa Mayjend Sutoyo?

Mayjend Sutoyo atau Mayjen Soetojo atau Mayor Jenderal TNI Anumerta Sutoyo Siswomiharjo adalah pahlawan revolusi yang lahir di Kebumen, 23 Agustus 1922. Mayor Jenderal TNI Anumerta Sutoyo Siswomiharjo menjadi korban pada tragedi 30 S PKI, 30 September 1965.

“Sudah ya, Papa pergi dulu,” begitu kata-kata pamitan Mayor Jenderal Soetojo kepada anak sulungnya, Nani Soetojo pada suatu Kamis, 30 September 1965 dilansir dari okezonenews.com.

Terlebih, belakangan sebelumnya hubungan sang Ayah dengan putrinya itu tengah renggang. Gara-garanya, beberapa hari sebelum tragedi 1 Oktober 1965, Nani lupa membereskan mesin tik yang dipakainya di ruang kerja rumah Jenderal Soetojo, Jalan Sumenep Nomor 17, Menteng, Jakarta Pusat.

Seperti termaktub di buku ‘Tujuh Prajurit TNI Gugur: 1 Oktober 1965’, putrinya itu pun dimarahi via telefon. Lantaran jengkel, Nani memilih minggat dan tak pulang. Tapi Kamis siang, 30 September 1965, ada suatu pertanda yang membuatnya melangkahkan kaki untuk pulang.

Setelah sempat tidur siang, Nani pun akhirnya bersua dengan Ayahnya. Tapi pertemuannya begitu singkat, karena jenderal kelahiran Kebumen, 28 Agustus 1922 itu harus kembali pergi untuk menghadiri rapat raksasa jelang HUT ABRI di Istora Senayan.

Percakapan seperti yang diungkap pada paragraf pembuka di atas itulah yang jadi pamitan sederhana yang ternyata, jadi pamitan terakhir sang Ayah pada anaknya itu. Pasalnya pada 1 Oktober 1965 sekira pukul 05.30 WIB, Jenderal Soetojo dijemput paksa segerombolan Pasukan Tjakrabirawa.

Gerombolan itu merangsek masuk ke rumah sang jenderal lewat garasi, sembari menodongkan senjata mereka ke para pembantu rumah tangga, untuk dimintai kunci rumah. Jenderal Soetojo salah satu dari beberapa perwira yang masih hidup ketika diculik, seperti halnya Mayjen TNI Siswondo Parman dan Mayjen Raden Soeprapto. Tapi sayangnya nyawa mereka tetap dihabisi di Lubang Buaya.

“Pak Tojo, lekas buka pintu. Bapak dipanggil Presiden,” cetus salah satu dari gerombolan itu.

Ketika keluar kamar dengan mengenakan piyama motif batik, sang jenderal segera diapit dan dibawa keluar rumah. Sementara anak-anak dan istri sang jenderal berusaha mengunci diri di salah satu kamar lain, lantaran takut terjadi apa-apa. Perabotan rumah turut diacak-acak sampai mereka pergi membawa Jenderal Soetojo.

Sang istri kemudian berusaha mencari informasi lewat telefon. Setelah tahu sambungan telefon diputus, mereka berusaha meminjam telefon dari tetangga, Soekotjo yang juga anggota CPM (Corps Polisi Militer), untuk menelefon ke beberapa pihak yang dipercaya, termasuk Jaksa Agung saat itu, Soetardhio yang sayangnya hasilnya nihil. (okezonenews.com)

Sang jendral dibunuh dan tubuhnya dilemparkan ke dalam sumur yang tak terpakai di Lubang Buaya. Seperti rekan-rekan lainnya yang dibunuh, mayatnya ditemukan pada 4 Oktober dan dimakamkan pada hari berikutnya. Jenderal Soetojo secara anumerta dipromosikan menjadi Mayor Jenderal dan menjadi Pahlawan Revolusi. (LintasKebumen©2015)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s