Gula Semut Kebumen di Ekspor Hingga Eropa

gula semut

PETANAHAN – Hampir seluruh produk khas daerah Kebumen, Jawa Tengah, diatur melalui Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT). Keberadaan PLUT di Kebumen tentunya memiliki beberapa fungsi. Agus Mustafa selaku Konsultan PLUT Kebumen menjelaskan, keberadaan PLUT berguna untuk tempat konsultasi bisnis bagi masyarakat yang memiliki usaha rumahan membuat cemilan khas Kebumen.

“Nanti setelah ada konsultasi itu maka diharapkan akan ada peningkatan kualitas produknya hingga mendapat jaringan pemasaran dan promosi,” ujar Agus.

Berbagai unit usaha di Kebumen sudah banyak yang bergabung. Salah satunya, unit usaha pembuat lanting yang menjadi makanan khas Kebumen. Agus mengakui daerahnya sangat unggul dalam pembuatan lanting. Namun kini Kebumen juga memiliki produk unggulan baru yang diminati para pendatang. “Sekarang produk unggulannya di sini itu gula semut,” katanya.

Disebut gula semut lantaran gula ini memiliki bentuk kecil-kecil seperti semut. Padahal, nama aslinya itu ialah gula kristal. Pengusaha gula semut biasa membuat dalam ukuran besar. Tiap kali memproduksi, kata Agus, mereka membuat minimal 10 kilogram gula semut. Setelahnya, dibuat dalam bungkusan plastik berukuran 500 gram. “Setiap satu plastik dijual Rp 10.000,” ucap Agus.

Tak hanya dijual di daerah sekitar Kebumen, gula semut juga sudah masuk sejumlah restoran di hotel-hotel di Indonesia. Bahkan, ada perusahaan jamu yang membelinya untuk dijadikan pengganti gula putih. Hebatnya lagi, gula semut ini juga diekspor ke luar negeri. “Sudah diekspor sampai Eropa, Swedia, Ukraina, Turki, dan Amerika Serikat,” ujarnya.

Cara pembuatannya pun sedikit agak rumit. Menurut Agus, membutuhkan waktu paling sedikit dua hari. Komposisi utama gula kristal ini ialah kelapa. Proses pembuatannya, menurut Agus, hampir serupa dengan membuat gula pada umumnya, yaitu melalui proses pengambilan nira yang berasal dari kelapa.

“Kelapa muda patoknya kita pangkas dan akan mengeluarkan cairan. Cairan inilah yang disebut nira,” kata Agus.

Cairan tersebut ditaruh di sebuah wadah yang sudah dicampur dengan kapur putih dan ditambah air. Setelah itu, juga ada campuran kulit manggis di dalamnya. “Tujuannya agar nira bisa awet hingga 12 jam ke depan,” ujarnya.

Menunggu wadahnya terisi penuh oleh nira memang membutuhkan waktu yang lama. “Untuk menunggu 12 jam itu, mereka mengambil nira pada sore hari biar besok paginya bisa langsung diambil dan langsung diolah menjadi gula,” dia menjelaskan.

Sarijan, produsen gula semut di desa Petanahan, Kebumen, mengatakan, setelah nira diambil dari pohon kelapa, lalu dipindah ke dalam sebuah wajan yang besar. Dengan api yang sangat besar, nira tersebut dipanaskan hingga mengeluarkan uap dipinggiranya. Setelah itu, nira dalam wajan diaduk terus menerus hingga mengental.

“Kalau sudah mau matang, saat adukan diangkat akan mulai terlihat benang-benang dan nira terlihat mengental,” kata Sarijan.

Jika sudah seperti itu, hasil dari olahan nira tersebut ditumbuk dengan alat sederhana dan terakhir diayak. Alat untuk mengayak pun harus memiliki ukuran yang khusus. “Harus pakai ukuran yang nomor 18 (lubang ayakan satu milimeter atau lebih kecil), biar hasilnya sangat lembut,” ucapnya lagi.

Setelah halus, hasil olahan tersebut dijemur selama enam jam. Alasannya, gula semut harus dalam keadaan kering hingga 80 persen. “Harus dijemur dulu biar semakin kering, karena tingkat keringnya itu harus 80 persen. Kalau sudah kayak gitu gulanya bisa awet selama satu tahun,” dia menjelaskan.

Jika sudah kering, gula semut atau gula kristal tersebut sudah bisa digunakan untuk pemanis minuman seperti teh atau kopi. Salah satu penikmat gula semut, Andriyaningsih (47) mengutarakan, nikmatnya mengonsumsi gula kristal dicampur dengan teh. “Pas diseduh sama teh daun, rasa manisnya datar jadi tidak terlalu tajam seperti gula pasir. Lebih smooth di makan pakai roti tawar juga enak,” ucap Noni, begitu panggilan akrabnya.

Gula semut memang tidak memiliki rasa manis yang mencolok. Mungkin ini alasannya mengapa gula kristal sangat cocok dikonsumsi untuk seseorang yang terkena diabetes. “Biasanya kan orang diabetes takut manis, tapi dengan ini harapannya bisa minum manis tanpa takut memengaruhi diabetes,” ujar Sarijan. (Bonita Ningsih/ harnas.co /LintasKebumen¬©2015)

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s