Perburuan Batu Mulia Diminta Jaga Reklamasi

Sejumlah warga menambang batu jenis badar besi di kawasan perbukitan Bulu Beras masuk wilayah Desa Karangmojo, Kecamatan Karanggayam, Kebumen, Senin (3/11).(suaramerdeka.com/ Supriyanto)

Sejumlah warga menambang batu jenis badar besi di kawasan perbukitan Bulu Beras masuk wilayah Desa Karangmojo, Kecamatan Karanggayam, Kebumen, Senin (3/11).(suaramerdeka.com/ Supriyanto)

KEBUMEN – Perburuan batu mulia dilakukan berbagai kalangan. Bahkan tidak sedikit dilakukan aparat sendiri, dari mulai pemerintah, polisi, tentara hingga petugas hutan. Mereka ikut mengincar batu mulia yang bernilai tinggi tersebut. Sejumlah penambang batu mulia di Kebumen pun mengungkapkan sempat ada penyitaan hasil penambangan batu mulia oleh aparat, namun banyak yang tidak dikembalikan.

Hingga kemudian, belakangan pihak terkait meminta maaf kepada para penambang tersebut. “Kelasnya bupati sampai presiden pun berburu batu mulia di sini, tapi kenapa kami yang disalahkan,” kata sejumlah penambang yang sempat bersinggungan dengan aparat dan enggan disebutkan namanya itu.

Kejadian yang dialami sejumlah penambang di wilayah pegunungan tersebut dibenarkan Ketua Forum Peduli Konservasi Lahan dan Bebatuan (FPKLB) Kebumen Dwi Kurniawan. Menurut dia, pengambilan batu mulia itu dianggap merusak lingkungan dan berpengaruh terhadap erosi lahan milik Perhutani.

Sehingga aparat pun kemudian mengambil tindakan dengan melakukan penyitaan hasil penambangan batu mulia tersebut. Dia mengusulkan, hendaknya Pemkab mendorong agar desa menyusun regulasi atau prosedur untuk melindungi keberadaan batu mulia.

”Terutama terkait dengan penambangannya,” jelas Dwi Kurniawan yang juga Ketua Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Karangsambung itu.

Selanjutnya, kata Dwi, regulasi dalam bentuk Perdes itu di-share dengan Perda Nomor 22 tahun 2011 tentang Pertambangan Batu dan Mineral. Terpisah, Ahli Geologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Karangsambung, Kebumen, Chusni Ansori mengemukakan, perburuan batu mulia di Kebumen yang merebak saat marak akik itu memang menyisakan bekas galian yang hingga kini masih terbengkelai.

Turun Tangan

Menurut Chusni, secara geologis, batu mulia maupun setengah mulia itu berada di kompleks melange (di antara bebatuan). Dan keberadaannya tidak di satu lokasi, melainkan sporadis dan tersebar di sejumlah pegunungan.

Di wilayah kabupaten berslogan Beriman ini terdapat di perbatasan Banjarnegara, meliputi Desa Sadang Wetan, Desa Seboro, dan Desa Sadang Kulon Kecamatan Sadang.

Selain itu di Desa Ginandong dan Desa Glontor Kecamatan Karanggayam, serta Desa Totogan dan Desa Pucangan Kecamatan Karangsambung. Adapun batu mulia yang berada di Sungai Luk Ulo itu merupakan hasil pecahan dari wilayah tersebut.

Bahkan sampai ujung Sungai Luk Ulo di Kaliwiro Kabupaten Wonosobo. ”Batu mulia maupun setengah mulia kalau dimanfaatkan memiliki potensi.Tapi setelah diambil harus memperhatikan reklamasinya,” imbuh Chusni.

Kendati demikian, penambangan batu mulia itu tidak separah penambangan batu diabas (batu pecah) yang menggunakan bahan peledak. Seperti di Gunung Parang, Watu Tumpeng, serta Gunung Tugel Kecamatan Karangsambung.

Begitu juga tidak separah penambangan pasir Sungai Luk Ulo yang menggunakan mesin sedot serta acapkali menggunakan eskavator atau begu. Sehingga, kerusakan lingkungan yang ada pun kian parah.

Pemkab melalui Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kebumen sempat mengusulkan agar penertiban penambangan pasir Luk Ulo tidak lagi menggunakan Perda, melainkan undang-undang. Terkait hal tersebut, maka pihak kepolisian harus turun tangan.

Chusni mengatakan, penambangan yang dilakukan tersebut semuanya berada di kawasan cagar geologi LIPI Karangsambung. Ada 32 titik yang mutlak tidak boleh ditambang. Di luar itu, kata Chusni, diperbolehkan sepanjang untuk kebutuhan lokal serta sesuai aturan terkait penambangannya.

”Di dalam usaha pertambangan, saat ini peruntukannya di provinsi. Dan yang penting ada reklamasi dan cara pengambilannya aman secara teknis dan lingkungan,” jelas Chusni sembari mencontohkan penambangan yang dilakukan di dekat mata air. (K5-32/ suaramerdeka.com LintasKebumen©2015)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s