Menjadi PRT, Jalan Keluar Gadis Desa Hindari Pernikahan

prt

MIRIT – Atun, gadis berusia 16 tahun, hanya tertunduk ketika Siti Fatimah (44) mendatangi rumahnya di Desa Lembupurwa, Kecamatan Mirit, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Siti adalah calo yang menjadi perantara antara calon pekerja rumah tangga (PRT) dengan calon majikan di Menteng, Jakarta Pusat dan Kepala Gading, Jakarta Utara.

Siti terus membujuk Atun. Namun yang dibujuk tengah sibuk memecah kulit biji melinjo yang sudah digoreng kering dengan pasir. “Piye? Mau mbalik lagi apa ndak? Daripada kerjamu gini-gini aja enggak dapat duit,” rayu Siti.

Atun bergeming. Ada ragu tersirat di wajahnya. Atun sebenarnya memang masih menyimpan keinginan untuk kembali bekerja di kota, seperti yang dilakoni beberapa teman seusianya. Namun ia sudah dua kali menjadi PRT dan selalu berakhir tak betah.

“Aku isin (malu) mau balik lagi,” Atun bersuara pelan.

Kemirah (38), ibu Atun yang mencari nafkah sebagai pedagang emping, sebenarnya merestui putrinya bekerja sebagai PRT. Kemirah mengatakan, menjadi PRT di kota-kota besar merupakan jalan keluar terbaik agar anaknya bisa mandiri secara ekonomi.

Pilihan lain jika tidak menjadi PRT adalah menikah, dan Kemirah tak ingin Atun menikah terlalu muda. Atun pun belum terpikir menikah meski ia tak mau lagi melanjutkan sekolah di Madrasah Tsanawiyah Ghozali yang setingkat SMP di kampungnya. “Kasihan kalau dia menikah dan repot urus anak. Biar saja dulu senang-senang cari duit sendiri,” tutur Kemirah.

Atun bercerita, dia memutuskan berhenti sekolah dan memilih bekerja sejak setahun lalu. Pilihan itu ia ambil setelah melihat teman-teman sepermainannya satu per satu pergi ke kota dan pulang dengan gaya dan tampilan yang berbeda. “Enak. Saya pengen punya handphone, beli alat rias buat dandan, atau punya baju bagus,” ujar Atun polos.

Atun bercerita pernah ikut Siti untuk disalurkan ke majikan di Yogyakarta dan Gombong, Kebumen, Jawa Tengah. Namun tak sampai empat hari, Atun pulang menumpang bus seorang diri lantaran tak kerasan hidup berjauhan dari orang tua dan adik-adiknya.

Anak-anak usia muda seperti Atun, bahkan lebih belia lagi, banyak didatangkan dari daerah miskin di pelosok nusantara untuk bekerja di ranah domestik perkotaan.

Berdasarkan data Jala PRT, lembaga swadaya masyarakat yang mengadvokasi perlindungan terhadap PRT, pada 2010 diperkirakan terdapat sekitar 10 juta PRT di seluruh Indonesia, dan 30 persen di antara mereka adalah anak perempuan.

Koordinator Jala PRT Lita Anggraini mengatakan pekerja rumah tangga kebanyakan perempuan karena secara kultur, pekerjaan rumah tangga dianggap ranah perempuan. “Masih banyak yang menganggap untuk apa sekolah tinggi-tinggi atau kerja susah-susah kalau ujung-ujungnya ke dapur juga,” kata Lita.

Selain Atun, ada ribuan PRT lain yang mulai bekerja di rumah tangga bahkan sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Sebagian ingin bekerja untuk memenuhi gaya hidup sehingga mengorbankan sekolah, namun banyak juga yang terpaksa menjadi tulang punggung keluarga karena tuntutan ekonomi.

Menurut keterangan mantan Lurah Desa Tlogodepok Mirit, Sujatmiko, mayoritas warga di Kabupaten Kebumen umumnya bertani. Namun belakangan pertanian semakin sulit dan tidak menghasilkan. Selain jenis sawah yang tadah hujan, sistem pengairan desa juga belum tertata dengan baik sehingga warga terpaksa mengandalkan alternatif pekerjaan untuk bertahan hidup.

“Kalau yang lelaki kadang ada yang jadi buruh kasar di perkebunan sawit di Kalimantan atau dagang sapi dan kambing. Kalau yang perempuan , lulusan SD atau SMP jadi PRT,” kata Sujatmiko.

Melihat kesulitan ekonomi yang banyak dijumpai di desa, banyak anak gadis berpikir menjadi PRT ialah salah satu jalan tercepat untuk bisa menghasilkan uang sementara waktu dengan cara halal, selain tentunya bikin mereka tak perlu lekas menikah. ( Utami Diah Kusumawati/ cnnindonesia.com /LintasKebumen©2015)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s