Mencicipi Sate Khas Kebumen Berbumbu Tempe

sate ambal

AMBAL – Sate disajikan dengan bumbu kecap atau bumbu kacang tentu sudah biasa. Tapi di Kebumen, Jawa Tengah, Anda bisa menjajal sate dengan bumbu tempe bernama Sate Ambal. Makanan khas Kebumen ini berasal dari sebuah daerah yang bernama Ambal. Di daerah tersebut ada puluhan pedagang Sate Ambal yang Anda coba jika bertandang ke Kabupaten Kebumen.

Salah satu pemain lama yang sudah menjajakan Sate Ambal sejak sekitar tahun 1975-an adalah Pak Tukijan. Sampai saat ini pun, Sate Ambal miliknya masih bertahan. Bahkan usahanya itu sudah diteruskan oleh anak-anaknya dengan membuka cabang baru.

Kelima anak Pak Tukijan sejak tahun 2011 lalu membuka warung sate serupa ayahnya dengan nama Warung Sate Ayam Khas Ambal Putra Pak Tukijan. Warung mereka terletak di Jalan Kambalan KM 7 Desa Pucangan, Kebumen, Jawa Tengah.

Waktu menunjukkan pukul 19.30 ketika CNN Indonesia dan rombongan tiba di warung sate sederhana andalan Kebumen itu. Dengan cekatan Ngadiran (37), pemilik warung yang juga anak dari Pak Tukijan langsung bergegas membuat pesanan.

Kami juga sempat diperlihatkan cara membuat bumbu Sate Ambal yang begitu khas. Ngadiran bercerita, yang membedakan Sate Ambal dan sate lainnya memang terletak di bumbunya. Biasanya sebelum dibakar sate dibumbui terlebih dahulu dengan kecap manis. Kalau Sate Ambal, diberi bumbu rempah-rempah dulu sebelum dibakar.

“Bumbunya ada bawang merah, bawang putih, merica, ketumbar, kemiri, pala, kunyit dan jahe. Terus dihaluskan,” kata Ngadiran.

Semua bumbu itu kemudian dihaluskan dan dilumuri ke daging ayam yang sudah dipotong. Diamkan selama 30 menit sampai bumbunya meresap. Sate pun siap dibakar. Keunikan dari Sate Ambal memang terletak pada bumbunya. Siraman bumbu di atas tusukan sate benar-benar terbuat dari tempe dan tidak menggunakan kecap atau kacang sama sekali.

Tempe dan bumbu seperti bawang merah, bawang putih, dan cabai dihaluskan bersamaan sampai tempe benar-benar halus seperti bumbu kacang pada umumnya. Cara menghaluskan bumbunya dilakukan seara sederhana dengan menggunakan lumpang kayu. Teknik ini dipercaya dapat memperkuat rasa dari bumbu yang akan dibuat.

Setelah itu, campurkan tempe dan bumbu yang sudah dihaluskan dengan sisa bumbu marinasi daging ayam sebelum dibakar. Untuk membuat bumbu tempe ini Ngadiran juga tidak menggunakan kecap sama sekali. Untuk menimbulkan rasa manis, gula merah menjadi pilihannya.

“Pas daging diberi bumbu akan keluar cairan. Nah, cairan itu dipakai untuk sambal tempenya. Setelah itu dimasak sampai tercampur dan mendidih,” ujar Ngadiran.

Sekilas tidak ada yang berbeda jika melihat bumbu tempe dengan bumbu kacang. Tapi begitu dicicipi, adanya jauh berbeda. Daging sate ambal memiliki rasa legit dan gurih, disajikan dengan bumbu tempe yang sedikit pedas dan manis.

Begitu pesanan seporsi sate ayam lengkap dengan lontong mendarat di atas meja, saya langsung mencicipinya. Sekilas memang tampak seperti sate biasa, tapi begitu digigit, rasa legit dan gurih menyeruak di mulut.

Dimakan tanpa siraman bumbu tempe pun Sate Ambal sudah terasa enak. Tingkat kematangan yang pas dengan minimnya gosong-gosong pada sate membuat rasa Sate Ambal semakin gurih. Tapi, ketika disiram bumbu tempe, rasa Sate Ambal tambah nikmat lagi. Bumbu yang sedikit kental dengan rasa gurih, sedikit manis dan pedas seperti menambah pengalaman baru untuk lidah

Anda juga akan merasakan rasa khas tempe yang begitu kuat di bumbu ini. Jika Anda menyukai pedas, bisa memesan potongan cabai rawit untuk menambah sensasi pedas saat menyantapnya. Uniknya lagi, penyajian sate di sini tidak menggunakan lontong melainkan ketupat. Ketupat dipercaya memberikan rasa yang berbeda ketika menyantap Sate Ambal.

Harga seporsi Sate Ambal dengan potongan ketupat dihargai Rp 15 ribu. Satu porsi terdiri dari 10 tusuk sate. Bumbu sate ambal dibuat dari bahan dasar tempe. Semua bahan ditumbuk sampai halus dan berbentuk seperti bumbu kacang pada umumnya.

Tidak hanya dari soal rasa dan penyajian yang berbeda yang membuat Sate Ambal menjadi unik. Ada keunikan lainnya pada sate ini karena pedagangnya membuat sebuah paguyuban. Ngadiran bercerita paguyuban pedagang sate itu mulai dibentuk sejak tahun 2010. Anggotanya sekitar 50 orang pedagang.

Kehadiran paguyuban ini dimaksudkan untuk menjaga kualitas sate ambal sendiri. Selain itu, paguyuban juga berfungsi untuk mengatur harga dan menjaga keamanan antar pedagang. “Ada sekitar 10 pedagang yang punya warung seperti saya. Sisanya menjual sate di kaki lima,” kata Ngadiran. (CNNIndonesia/Tri Wahyuni /LintasKebumen¬©2015)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s