Demonstrasi Warga Urut Sewu Diserang TNI AD, 4 Luka Berat

korban-luka-609x340

MIRIT – Bentrokan kembali pecah di tanah Urut Sewu Kebumen. Petani yang menolak pemagaran lahan konflik, digebuk tentara bersenjata lengkap. Empat menderita luka berat dan belasan lainnya mengalami luka ringan.

“Saat sedang menyampaikan aspirasi, tiba-tiba kami diserang,” kata Kepala Desa Petangkuran Kecamatan Mirit Kebumen, Muchlisin, Sabtu 22 Agustus 2015. Ia menderita memar saat dipukuli tentara di depan seorang polisi yang tak berani melerai. Padahal, ia sudah lari menjauh dari lokasi bentrokan.

Kepala Desa Wiromartan, Widodo Sunu Nugroho, bocor kepalanya kena pentungan. Tangannya retak. “Ia tiba-tiba dipukul saat sedang mempertanyakan legalitas pemagaran lahan,” katanya. Konflik Urut Sewu bermula ketika ada saling klaim tanah sepanjang 22,5 kilometer di pesisir Kebumen. Tanah yang dimanfaatkan untuk lahan pertanian belakangan dipagari oleh TNI AD untuk latihan militer.

Masih menurut Muchlisin, petani tidak membawa apa-apa saat menghadang pemagaran. Massa mulai berkumpul sejak pukul 07.00 pagi. Jumlahnya sekitar 150 orang.

Saat melakukan orasi, tentara bertambah banyak dan mengepung massa. Mereka lalu digebuk. Massa pun kocar kacir menyelamatkan diri. Tentara terus mengejar. “Ibu-ibu hanya bisa menangis saat dibentak tentara,” katanya.

Empat orang yang mengalami luka berat, Widodo Sunu Nugroho, Ratiman, dan Prayogo ketiganya dari Desa Wiromartan. Sedangkan Rajab dari Desa Petangkuran.
Sedangkan 15 lainnya mengalami luka ringan. Kini mereka dirawat di Puskesmas Mirit.

Agam, aktivis agraria yang ikut aksi mengatakan, pukul 07.00 massa sudah berkumpul untuk melakukan penolakan pemagaran lahan. “Kami aksi damai dan hanya mempertanyakan dasar pemagaran,” katanya.

Kepala Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI AD Setrojenar, Mayor Infanteri Kusmayadi mengatakan, ia sudah melakukan sosialisasi sebelum pemagaran. “Itu bukan tanah rakyat, tapi tanah negara,” katanya dengan nada tinggi.

Ia mengaku sudah jenuh dengan konflik itu. Menurutnya masyarakat telah dibohongi sehingga melakukan perlawanan. “Silakan lewat jalur hukum. Jika kami kalah, kami akan angkat kaki,” katanya.

Komandan Distrik Militer 0709 Kebumen, Letnan Kolonel Infanteri Putra Widya Winaya mengatakan, ia tidak melarang petani melakukan demo. Soal kedatangan personel TNI AD bersenjata laras panjang menurut dia hanya untuk pengamanan. “Bukan untuk menakuti tapi untuk mengamankan,” katanya.

Ia menambahkan, pemagaran tahun ini akan tetap dilaksanakan sepanjang delapan kilometer di lima desa. Pada tahap pertama pemagaran dilakukan delapan kilometer di enam desa. Total lahan yang akan dipagar mencapai 23 kilometer dengan lebar 500 meter.

Menurut dia, hingga saat ini TNI terus melakukan komunikasi dengan petani tentang status tanah tersebut. Ia mengatakan, dari surat Kemenkeu tahun 2011, tercatat tanah itu adalah aset TNI AD. Sertifikasi juga masih dilakukan. Ia menambahkan, bukti sertifikat tanah sudah dimiliki TNI AD.

“Saya tanya, mana bukti yang dimiliki masyarakat. Tidak ada kan. Mereka hanya bilang punya leter C,” katanya.

Menurut dia, masyarakat bisa menggugat lewat jalur hukum jika punya bukti. Tidak usah melakukan demonstrasi. Masih menurut Putra, pemagaran dibuat untuk membatasi lahan untuk latihan dengan tanah milik rakyat. Dengan batas yang jelas ada prosedur hukum jika ada pelanggaran. (Aris Andrianto/ Tempo.co /LintasKebumen©2015)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s