“Stok” Pasir Luk Ulo Nyaris Habis

Truk yang antre untuk menunggu giliran mendapatkan pasir
Truk yang antre untuk menunggu giliran mendapatkan pasir

PEJAGOAN – Keberadaan pasir di Sungai Luk Ulo semakin menipis. Biasanya para penambang bisa mengambil 8-10 truk perhari. Namun saat ini para penambang hanya bisa mengambil pasir dengan jumlah 4-6 truk saja perhari. Seperti halnya di Desa Peniron Kecamatan Pejagoan.

Menurut keterangan Wahyudi (60) warga RT 2 RW 2 Desa Peniron Kecamatan Pejagoan mengatakan, saat ini jumlah pasir di Sungai Luk Ulo semakin sedikit. Para penambang hanya bisa mendapatkan empat truk saja setiap harinya. Akibatnya banyak sekali truk yang harus antri untuk bisa mendapatkan pasir.

“Terkadang para sopir truk tersebut, harus nginep di pinggir sungai demi untuk bisa mendapatkan pasir,” jelasnya kepada Ekspres, Rabu (20/5).

Pantauan Ekspres di lapangan, terlihat banyak truk yang antre untuk menunggu giliran mendapatkan pasir. Beberapa pekerja penambang pasir dengan aktif memasukan pasir bak truk. Pasir didapat dengan menggunakan mesin sedot yang keluar bebarengan dengan air.

Pengambilan pasir memang sudah dilakukan dengan cara menggunakan mesin sedot. Tapi karena jumlah pasirnya tinggal sedikit sehingga yang didapat kebanyakan hanya batu krokos dan air. Ketika disinggung mengenai penyebab kelangkaan pasir dia mengungkapkan, dulu setiap hari, pasir yang ada di Sungai Luk Ulo diambil hingga puluhan truk.

Hal ini tentu saja membuat jumlah pasir semakin berkurang. Dulu, di tepi Sungai Luk Ulo juga terdapat hamparan pasir yang sangat luas, biasanya tempat itu dijadikan oleh anak-anak untuk bermain sepak bola. “Kini ya sudah tidak ada lagi, bahkan para penambang juga sudah mengambil pasir di tengah sungai,” katanya.

Terpisah, salah satu penjual pasir Gunawam (38) warga Desa Argopeni Kecamatan Kebumen mengatakan jika saat ini permintaan pasir juga sedang sepi. Biasanya dalam sehari permintaan mencapai hingga lima truk pasir. Namun sekitar satu bulan ini permintaan cendrung sepi.

Hal ini kemungkinan disebabkan sedang sepinya ekonomi. Pasalnya beberapa informasi menyebutkan kalau permintaan genteng juga sedang sepi. “Saat jarang yang sedang membangun rumah. Maka permintaan pasir dan genteng juga menurun,” terangnya. (mam/nun/ Radar Banyumas /LintasKebumen©2015)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s