Sesar Kedungbener di Kebumen

12286194_549520828529390_711980248_n

Peta sederhana lokasi Sesar (Tua) Kedungbener yang ada di Kebumen

Jika anda sedang berada di Kota Kebumen, meluncurlah ke arah timur melewati Jalan Sarbini yang ramai. Begitu tiba di pertigaan Kawedusan teruslah bergerak ke timur hingga sekitar 3 kilometer lagi, kali ini melintasi Jalan Tuan Surotrunan yang sempit meski telah beraspal cukup baik. Saat perjalanan sampai di tengah-tengah kawasan persawahan yang luas, sempatkanlah berhenti sejenak dan arahkan pandangan ke utara.

Di latar belakang lahan persawahan yang luas membentang terlihat jajaran bukit-bukit yang sambung menyambung sebagai bagian dari Pegunungan Serayu Selatan. Terdapat sebuah celah yang cukup lebar di antara bukit-bukit tersebut. Celah inilah yang dikenal sebagai lembah Kedungbener. Inilah lembah dimana Sungai Kedungbener menghilir ke selatan dari mata airnya di perbukitan Karangsambung sembari mengumpulkan air dari anak-anak sungainya.

Lembah Kedungbener adalah sebuah lembah yang relatif lurus berarah utara-selatan sepanjang sekitar 8 kilometer yang membentang mulai dari sisi timur kota Kebumen hingga ke kawasan perbukitan di Karangsambung. Lembah ini merupakan ekspresi permukaan Bumi dari sebuah sesar (patahan/fault) yang saat ini dinamakan sesar Kedungbener atau sesar Kedungkramat.

Sesar ini membentang sepanjang sekitar 12 kilometer dengan arah utara-selatan dan terbentuk tak kurang dari 2 juta tahun silam sebagai patahan turun (normal fault). Maka saat kita menyusuri lembah ini ke utara, bayangkanlah bahwa sekitar 2 juta tahun silam bagian kerak bumi di sisi kiri kita mendadak turun (ambles) menjadi lembah sesar (graben). Sebaliknya semua di sisi kanan kita tetap bertahan dan menjadi bukit sesar (horst).

Dalam geologi, sesar yang aktif merupakan zona sumber gempa yang potensial. Sebuah sesar aktif senantiasa bergerak pada kecepatan tertentu meski hanya sebesar beberapa milimeter per tahun sebagai konsekuensi dari gaya-gaya yang bekerja pada batuan di sepanjang sesar. Pada suatu titik ia dapat tertahan demikian rupa sehingga melambat atau bahkan malah tak bergerak sama sekali hingga bertahun lamanya.

Namun demikian gaya-gaya tersebut tetap bekerja secara terus-menerus. Sehingga timbul akumulasi energi dan gaya. Pada suatu saat, akumulasi gaya tersebut telah demikian besarnya sehingga melampaui daya dukung maksimum batuannya. Terjadilah pematahan secara tiba-tiba di sepanjang sesar dan energi yang tersimpan pun dilepaskan seketika sebagai getaran permukaan Bumi, yang kita kenal sebagai gempa bumi.

sesar

Gempa 1852 yang menggetarkan Kebumen 6-7 MMI mungkin bersumber dari darat/ Sesar Kedungbener dengan Magnitudo sekitar 6 SR

Apakah sesar Kedungbener berupa sesar aktif? Hingga saat ini kita belum mengetahuinya. Di masa silam Kebumen memang beberapa kali diguncang gempa bumi tektonik dengan intensitas getaran yang tinggi. Namun belum tentu gempa tektonik tersebut berasal dari pematahan segmen batuan di sesar Kedungbener.

Terlebih Kebumen berhadapan langsung dengan zona subduksi lempeng Eurasia (Sunda) dan Australia yang berada di lepas pantai selatan Pulau Jawa, kawasan yang penuh dengan sumber gempa tektonik dangkal dan kuat/besar. Yang jelas keberadaan sesar inilah yang membentuk lembah Kedungbener sebagai sebuah celah sempit di dalam Pegunungan Serayu Selatan.

Sesar Kedungbener pula yang bertanggung jawab atas mataair panas Krakal, yang muncul dalam kurun kurang dari dua abad terakhir. Mataair panas dengan luah (debit) 10 liter per menit, suhu air rata-rata 40 derajat Celcius dan tingkat keasaman (pH) 8 itu kini dikembangkan menjadi Pemandian Air Panas Krakal, salah satu obyek wisata unik andalan Kabupaten Kebumen.

Air panas tersebut bukan disebabkan oleh aktivitas vulkanik, namun berasal dari reservoir alamiah yang terletak di kedalaman 1,1 kilometer dari permukaan tanah sejauh sekitar 500 meter ke utara-barat laut dari lokasi Pemandian Air Panas. Ia mendapatkan panasnya dari magma yang mencoba menyelusup lewat salah satu titik di sesar Kedungbener namun terhenti di kedalaman 8 kilometer dari permukaan tanah dan membeku menjadi granit.

Panas yang masih tersisa itulah yang memanaskan air di reservoir. Selain keluar di Pemandian Air Panas, diduga reservoir yang sama juga memasok air panas dengan luah rendah ke dua lokasi, masing-masing ke Plumbon (hulu sungai Kedungbener) dan bendung Kaligending. Survei geofisika pada gelombang elektromagnetik VLF (very low frequency) juga memperlihatkan reservoir yang sama pun memasok air panas ke bawah kantor kecamatan Alian. Hanya saja sampai kini di lokasi tersebut belum dijumpai jalan keluar ke permukaan tanah.

Sesar Kedungbener muncul di kawasan yang secara tektonik telah demikian tercabik-cabik, sebagai bagian dari sejarah daratan Kebumen purba yang istimewa. Terbentuk jauh di kedalaman samudera di dekat palung laut, yang adalah tempat lempeng Australia purba bersubduksi dengan lempeng Eurasia purba, bebatuan Kebumen purba ditekan oleh gaya-gaya tektonik yang teramat kuat hingga tercabik-cabik begitu dahsyat.

Di kemudian hari segenap bebatuan terangkat seiring dinamika pembentukan pulau Jawa dan lama kelamaan muncul ke atas permukaan laut. Pengangkatan intensif terjadi tatkala Jawa Tengah bagian selatan menjadi ajang koalisi dua sesar besar, masing-masing sesar besar Kebumen-Muria-Meratus yang berarah timur laut-barat daya dan sesar besar Cilacap-Pamanukan-Lematang yang berarah barat laut-tenggara.

Aktivitas intensif kedua sesar besar tersebut, sebelum kemudian mati berjuta tahun silam, yang disusul dengan vulkanisme intensif yang mendongkrak bagian selatan pulau Jawa membuat bebatuan tersebut terangkat hingga lebih dari 2.000 meter dan membentuk wajah Kabupaten Kebumen seperti sekarang.

Sumber: Ma’rufin Sudibyo (www.ekliptika.wordpress.com)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s