Curah Hujan Tinggi, Sejumlah Titik di Kebumen Longsor

longsor9

KEBUMEN – Curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Kebumen dalam beberapa hari terakhir memicu bencana tanah longsor di sejumlah titik. Setidaknya empat titik di kecamatan yang berbeda yaitu Kecamatan Alian, Sempor, Poncowarno dan Rowokele.

Di RT 01 RW 02 Dusun Krajan Desa Krakal Kecamatan Alian sebuah rumah milik Mustakim (48) rusak tertimpa tanah longsor, Selasa (17/1) sore. Akibatnya dinding dapur hancur dan kamar mandi rusak dihantam material longsoran dari tebing setinggi 6,5 meter dan panjang 7 meter.

Sementara di Kecamatan Poncowarno, tanah longsor akibat hujan deras pada Senin (16/1) sempat memutus akses jalan penghubung antar desa di kecamatan tersebut. Tebing yang longsor dan menutupi jalan sepanjang sekira 54 meter itu berada di RT 05 RW 05 Dusun Kresek Desa Karangtengah.

Tanah longsor juga terjadi di RT 05 RW 01 Dukuh Kedunggondang Desa Giyanti Kecamatan Rowokele, Senin (16/1) sekira pukul 18.30 WIB. Tebing setinggi 9 meter longsor dan mengenai rumah milik Sarman.

Sedangkan di RT 02 RW 06 Desa Sampang Kecamatan Sempor sebuah rumah milik Misno (50) tertimpa tanah longsor pada Senin (17/1) petang. Bahkan kini ia dan keluarganya terpaksa mengungsi ke rumah saudara karena rumahnya telah hancur. Sementara di RT 03 RW 06 Dusun Jurangjero tanah longsor merusak rumak milik Ripan Mulyono (58).

Tak ada korban jiwa dalam kejadian tanah longsor tersebut. Namun demikian kerugian material diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kebumen telah melakukan tindakan assesment warga sekitar kejadian dan memberikan bantuan logistik kepada korban.

Masyarakat yang tinggal dikawasan rawan bencana alam diminta tepat mewaspadai potensi bencana disekitarnya mengingat hujan lebat diprediksi masih akan terjadi.

Rawan Longsor

Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung merilis sebanyak 14 kecamatan di Kabupaten Kebumen masuk ke zona rawan pergerakan tanah menengah hingga tinggi pada Januari 2017. Kecamatan Buayan, Padureso, Karanggayam, Kutowinangun, Karangsambung dan Kebumen masuk zona pergerakan tanah menengah.

Sedangkan daerah dengan potensi pergerakan tanah menengah hingga tinggi terdiri dari Kecamatan Sadang, Sempor, Alian, Ayah, Poncowarno, Rowokele, Pejagoan dan Kecamatan Sruweng bagian Utara. (and/lintaskebumen/bpbd)

Pencari Lobster Tenggelam di Pantai Karangsuren

tenggelam

AYAH – Seorang pencari udang lobster di Kecamatan Ayah dilaporkan tenggelam setelah diduga terseret gelombang tinggi di Pantai Karangsuren Desa Karangduwur, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, Sabtu (21/1/2017). Hingga siang ini korban belum ditemukan.

“Korban atas nama Soiman alias Gendon (34), warga Desa Karangduwur RT05/ RW01, Kecamatan Ayah,” kata Koordinator Badan Search and Rescue Nasional (Basarnas) Pos SAR Cilacap Mulwahyon.

Kejadian bermula saat korban meningglkan rumah untuk mencari lobster pada Sabtu pagi sekira pukul 06.00 WIB. Namun hingga waktu pulang korbana tak kunjung kembali. Kemudian Sutrisno (28) adik korban memutuskan untuk menyusul korban di pantai yang dominan karang tersebut.

Sesampainya di lokasi, Sutrisno tak menemukan korban. Ia hanya menemukan sepeda motor, tas dan peralatan mencari lobster milik korban. Curiga korban terseret ombak, ia pun memberitahukan kejadian tersebut ke tim SAR Lawet Perkasa untuk meminta bantuan dan melaksanakan operasi pencarian.

Mulwahyon mengatakan operasi pencarian korban tenggelam di Pantai Karangsuren itu juga melibatkan personel Polsek Ayah, Koramil Ayah, Pos TNI Angkatan Laut, dan potensi SAR lainnya termasuk warga sekitar. (ant/lintaskebumen)

Pantai Laguna Bopong, Alternatif Baru Wisata Kebumen

laguna-bopong

PURING – Kebumen merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang juga dikenal dengan berbagai potensi wisata bermacam-macam. Tempat-tempat seperti Goa Jatijajar, Pantai Menganti atau Pantai Suwuk biasanya langsung dituju ketika liburan ke Kebumen.

Tempat-tempat itu memang menarik untuk dikunjungi. Tetapi pernahkah berpikir tentang destinasi wisata lain di Kebumen yang mungkin mempunyai pesona tak kalah dari tempat-tempat wisata yang telah disebutkan tadi?

Nah, jika sudah ada pikiran seperti itu, bersiaplah untuk terpesona terhadap tempat wisata baru di Kebumen ini yang sedang hits dan pantas untuk dicoba. Tempat wisata baru yang hits salah satunya adalah Pantai Laguna Bopong.

Pantai Bopong sudah dikenal sejak lama namun baru-baru ini menjadi hits dengan penambahan objek seperti Jembatan Asmara, Ayunan Kasih, Rumah Pohon, Replika Love, dan ada juga Kolam Renang.

Pantai Laguna Bopong terletak di Desa Sirorejan, Kecamatan Puring, Kebumen. Sebagai wisata baru yang belum terkelola maksimal, pengunjung yang datang ke Pantai Bopong tidak akan dikenakan biaya masuk hanya dikenakan biaya parkir Rp 2 ribu.

“Wisatanya bagus Mas, ini datang bersama teman sekolah,” ungkap Una, salah satu pengunjung, Minggu (16/10/2016). Untuk bisa merasakan eksotisme Pantai Bopong tersebut hanya dibutuhkan waktu kurang lebih setengah jam dari Kota Kebumen. (Lukman/Sorotkebumen.com)

Unik, Jembatan Pelangi Patemon Sedot Banyak Wisatawan

jembatan-patemon
AYAH – Beberapa waktu terakhir ini banyak bermunculan destinasi wisata baru di Kebumen, salah satunya yang sedang hits khususnya dikalangan muda mudi, yakni wisata alam Patemon, yang memadukan eksotisme laut dan hutan.

Tak terbantahkan lagi, Kebumen memang menjadi salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang kaya akan destinasi wisata. Kabupaten Kebumen sendiri mempunyai letak geografis yang unik, selain menjadi Kabupaten yang berbatasan langsung dengan samudra Hindia, juga memiliki banyak pegunungan kapur yang berada tepat di bibir lautan.

Khususnya di wilayah Kebumen bagian barat, yakni kawasan Kecamatan Ayah dan sekitarnya. Lika-liku jalan yang membentang bak tubuh seekor ular diantara bukit-bukit kapur dan hamparan samudra hindia tentu saja mengukir kesan tersendiri bagi wisatawan.

Seperti halnya saat kita ingin mengunjungi destinasi wisata yang baru seumur jagung ini, yakni objek wisata alam Patemon yang berada di RT 02/01 Desa Pasir, Kecamatan Ayah.

Menurut Suratman, Ketua RT setempat yang juga sekaligus sebagai kepala pengelola obyek wisata Patemon tersebut, inisiatif pembukaan destinasi wisata baru diwilayah tersebut, mulai muncul saat para pemuda khususnya dan warga RT setempat umumnya pada tanggal 17 Agustus 2016 lalu, mengadakan pertemuan yang membahas potensi alam yang ada di wilayah RT setempat.

“Setelah warga setempat dengan bulat berkomitmen ingin membangun dan membuka destinasi wisata baru di Rt tersebut, tak lama kemudian, mulailah sedikit demi sedikit pembangunan di lancarkan,” ujar Suratman saat ditemui sorotkebumen di lokasi wisata, Jumat (21/10/2016)

Terdapat banyak menu keindahan, lanjut Suratman, yang kita suguhkan kepada para tamu wisatawan, diantaranya, panorama patung penyu ya ada di atas bukit yang mana di kaki bukit tersebut sering menjadi tempat persinggahan penyu liar saat musim bertelur tiba.

“Yang paling diminati para penggemar selfie dan photography khususnya dan wisatawan umumnya ialah jembatan pelangi yang berada bak diatas laut dan awan, meski tak sedikit pula yang berkunjung ke gardu pandang, gazebo cinta dan pendopo wisata yang berada tidak jauh dari jembatan pelangi tersebut,” ungkapnya.

Dirinya mengutarakan, meski pembangunan wisata belum mencapai 90 persen dan baru berumur kurang lebih satu bulan, wisatawan yang berkunjung sudah mencapai ratusan dan tak tanggung-tanggung tercatat ada beberapa wisatawan dari luar Jawa yang menyempatkan diri untuk mengunjungi Wisata Patemon tersebut.

“Pembangunan destinasi wisata patemon ini memang ditopang oleh semangat kemandirian dan komitmen yang kuat tanpa bergantung pada investor dan pemerintah, hal ini dapat dilihat dari para penanam saham sendiri yang terdiri dari 34 warga setempat, dan masing-masing menanam saham sebesar satu juta,” ucapnya

Suratman menambahkan, mulai dari dana 34 juta itulah, pondasi wisata tersebut bisa kita bangunkembangkan. “Wisata ini kita kelola diatas prinsip berdikari dengan didukung oleh semangat dari, oleh, dan untuk kita,” tegasnya. (Syarief/Sorotkebumen.com)

Inovasi Kopi Yuri Angkat Kopi Kebumen hingga Luar Negeri

yuli
AMBAL – Berawal dari keprihatinan terhadap kondisi sekitar, Yuri Dullah (37) akhirnya membuat satu inovasi untuk menggerakkan masyarakat sekitar. Di tempat tinggalnya di Desa Pucangan, Kecamatan Ambal, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah yang merupakan dataran rendah, Yuri mendorong warga untuk menanam kopi.

Tidak hanya menanam, warga juga diajak mengkreasi biji kopi dengan alat sederhana, namun dengan cita rasa dan kualitas yang amat tinggi.

Yuri mengawali ajakannya dengan menanam 20 batang kopi di belakang rumahnya di antara pohon Albasia. Sembari menunggu pohon berbuah, ia mengajak warga lainnya menanam pohon kopi di antara lahan tak produktif di wilayahnya.

Menurut dia, pohon kopi bisa hidup di mana saja. Kopi tak hanya tumbuh di daratan tinggi, dengan teknik tertentu kopi juga bisa dibudidayakan di dataran rendah.

Yuri menyebutkan, biji kopi di dataran rendah mempunyai rasa yang berbeda. “Saya ingin ngajak petani merasakan kopi asal Kebumen ini. Kopi ini lebih enak, karena ada cita rasa dibanding kopi ekspreso,” sebut Yuri, di sela promosi di kantor Balitbang, Semarang, Selasa (25/10/2016).

Butuh perjuangan cukup lama untuk mengenalkan kopi Kebumen, beserta inovasi membuatnya. Kopi Kebumen dari dataran rendah acap dikenal sebagai kopi yang mempunyai rasa “kecut.” Namun demikian, Yuri tak patah arang. Melalui sejumlah metode tertentu, biji kopi akhirnya bisa diterima, serta dijual dalam bentuk orisinal.

Yuri juga memperkenalkan cara membuat kopi Kebumen melalui sejumlah metode. Menggunakan alat sederhana melalui gelas bambu, kopi Kebumen disaring, membuang racun, hingga mempunyai cita rasa yang lebih baik.

Dalam metode yang diatraksikan, ia memakai batang bambu yang dipoles menjadi gelas. Biji kopi yang dihaluskan lalu dimasukkan ke dalam gelas bambu tersebut, dengan bagian bawahnya diberi lubang kecil.

Untuk membuat gelas bambu, Yuri menggandeng para perajin lokal. Setelah gelang dilubangi, kopi lalu dimasuki air panas, lalu disaring untuk diambil intisarinya. Kopi pun terlihat lebih hitam dan lebih pekat. “Untuk menunggu warna lebih pekat ini bisa sampai lima sampai 10 menit,” ujar Yuri.

Pemanfaatan bambu, lanjutnya, membuat saringan menjadi lebih sempurna. Selain membuang unsur sakarosa di dalam kopi, bambu juga marak di sekitar tempat tinggalnya. Oleh para perajin, bambu dibuat gelas, dihaluskan dengan ukuran yang bermacam-macam, dari 4 cm, hingga 6 cm.

Kopi kebumen pun dipromosikan dengan harga yang relatif baik. Untuk satu paket kopi beserta alat yang digunakan, Yuri mematok tarif Rp 60.000 hingga Rp 100.000, tergantung jenis kopi yang dipilih. Yuri pun sukses mendulang dan mempromosikan Yuan Roasted Coffe.

Kopinya pun kini telah sampai di negara tetangga, seperti Jerman, India, Singapura, China, dan negara lainnya. “Mayoritas kopi di sini robusta, kalau kopi Arabika yang bagus dijual ke luar negeri. Rasa yang kami ditemukan tidak ada di mesin ekspreso. Kopi kami natural tanpa bahan kimia, alami,” ucapnya.

Inovasi yang dilakukannya inilah yang menghartarkan dirinya menjadi pemenang utama lomba kreativitas dan inovasi masyarakat Jawa Tengah tahun 2016.

Kepala Balitbang Jateng Teguh Winarno, dalam kesempatan terpisah mengatakan, inovasi kopi organik dari Yuri merupakan salah satu inovasi dari warga Jawa Tengah. Alat tradisional yang digunakan ramah lingkungan, sehingga secara alami menghilangkan sakarosa.

“Jadi kopinya redah kalori. Penggunaan bambu ampuh menekan karbohidrat tinggi. Kami akan dampingi hak intelektualnya dan akan didaftarkan di tingkat internasional, karena soal kopi ini ramai sekali plagiarisme,” ucapnya. (Nazar Nurdin/KOMPAS.com)

Pantai Laguna Lembupurwo,”Oase” Pantai Selatan Kebumen

laguna

MIRIT – Bercerita pesona wisata di Kebumen khususnya wisata pantai, seperti tak ada habisnya. Puluhan pantai terhampar di sepanjang garis selatan Kebumen. Salah satunya, obyek wisata Pantai Laguna Lembupurwo di Kecamatan Mirit ini.

Berlokasi Kebumen timur persisnya di Desa Lembupurwo Kecamatan Mirit, obwis ini mudah dijangkau lantaran berada sekitar 1,5 km arah Selatan dari Jalan Daendels, jalur alternatif Jogja-Cilacap-Banyumas. Jalan menuju ke tempat itupun sudah cukup bagus dan bisa dilewati kendaraan roda dua maupun roda empat.

Pesona pantai dilengkapi hamparan menghijau hutan cemara menyambut wisatawan yang berkunjung. Di tengah hutan cemara inilah terdapat laguna air payau nan jernih. Tak berlebihan menyebut obwis ini sebagai oase di tengah panasnya pasir pantai.

Menurut warga setempat, laguna itu terbentuk 15 tahun lalu dari muara sungai Wawar yang berada di wilayah tersebut. Awalnya, keberadaan muara Kali Wawar dikhawatirkan menggerus gumuk pasir yang berada di kawasan tersebut.

Akhirnya, warga membuat kanal sungai untuk “memindahkan” arus sungai. Dan, di lokasi itu muncullah laguna seperti yang terlihat sekarang ini. Obyek wisata Pantai Laguna akan mencapai puncak kunjungannya pada acara Grebeg Rowo yang biasanya jatuh pada hari kesembilan Idul Fitri. Selain itu, masyarakat juga memiliki tradisi sedekah laut pada bulan Sura.

Shohib (32) selaku anggota Karang Taruna desa Lembupurwo yang sekaligus menjadi penjaga tiket dan berdagang di lokasi pantai mengatakan, di saat seperti itu tingkat kunjungan bisa mencapai sedikitnya 1500 pengunjung perhari. Kendati tak sebesar itu, tingkat kunjungan juga cukup banyak pada hari libur.

Untuk tiket masuk, menurut Sohib, hanya diberlakukan pada hari libur. Yakni Rp 3000 untuk tiket dan Rp 3000 rupiah untuk biya parkir. Tak hanya menyajikan pemandangan eksotik saja, obwis Laguna Pantai Lembupurwo juga menyediakan kuliner khas pantai Kebumen yaitu tempe mendoan dan pecel.

Makanan teresebut disediakan oleh warung warung yang ada di sekitar pantai. Harganya pun cukup murah pengunjung wisata hanya perlu mengeluarkan uang sebear Rp 15 ribu sudah termasuk minuman. Mayang (21) salah satu pengunjung Pantai Lembupurwo asal Kabupaten Purworejo mengatakan sangat senang melihat keindahan pantai Laguna Lembupurwo.

“Senang lihat pemandangan Laguna dan pantainya. Indah juga sejuk karena ini pohon cemaranya rimbun dan tinggi jadi enak panas panas untuk berteduh,” katanya yang kemarin berkunjug bersama teman prianya, Roni (22). (saefur/cah/kebumenekspres.com)

Nikmati Pesona Sungai Lukulo Bareng “Wiskuno”

wiskuno

BULUSPESANTREN – Destinasi wisata di Kabupaten Kebumen kini makin kaya. Bila sebelumnya wisata pegunungan dan pantai, kini para wisatawan dapat menikmati wisata sungai. Dan, salah satu wisata sungai itu bisa dijumpai di Desa Maduretno Kecamatan Buluspesantren.

Mengusung nama Wiskuno (Wisata Sungai Lukulo Maduretno), wisata sungai di Maduretno tersebut baru saja diluncurkan dan “resmi beroperasi”, Minggu (30/10/2016) lalu. Peluncuran obwis Wiskuno dilakukan Camat Buluspesantren, Sunarno dan Kepala Desa Maduretno Sunarto disaksikan masyarakat.

Di kesempatan yang sama, siswa SMK Komputer Karanganyar mendapat kesempatan pertama menjajal petualangan di obwis yang berlokasi di pertemuan Sungai Kedungbener dengan Sungai Lukulo, persisnya di RT 01 RW 03 Desa Maduretno tersebut.

Camat Buluspesantren, Sunarno, mengatakan wisata Wiskuno tersebut dalam rangka mendukung program wisata susur sungai Lukulo yang diluncurkan Pemkab Kebumen September kemarin. Sekaligus, menyongsong festival Sungai Lukulo yang akan digelar bulan November ini.

Di kesempatan itu, Camat juga mengapresiasi para pemuda dan warga masyarakat Maduretno yang telah bekerja keras mewujudkan Obwis Wiskuno hingga saat ini. Sunarno mengatakan, pihak kecamatan siap mengembangkan obwis Wiskuno ke depan. Terdekat, perbaikan akses jalan menuju lokasi wisata yang berada di perbatasan Kecamatan Klirong dan Buluspesantren itu.

“Nantinya kita akan perbaiki akses jalan ke wisata Wiskuno dengan membuat kesepakatan antara masyarakat dan Dinas PU,” ujarnya sembari mengatakan, pengelolaan obwis Wiskuno dilakukan oleh para pemuda yang tergabung dalam kelompok sadar wisata .

Ketua kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Wiskuno sekaligus Ketua Karang Taruna Sumber Madu Desa Maduretno, Ikhwan Taufik menyampaikan, Wiskuno merupakan obwis olahraga, edukasi sekaligus agrowisata.

Di tempat itu, para wisatawan dapat menikmati pemandangan alam khas sungai. Selain itu, sejumlah kegiatan out bound. Dan tentu saja, kegiatan memancing. “Juga agrowisata dari hasil budidaya warga Desa Maduretno di bidang pertanian hingga kerajinan,” imbuhnya.

Alif Amiruloh (16), salah satu siswa SMK Komputer Karanganyar yang kemarin menjajal Wiskuno mengaku sangat terkesan dengan suasana dan pemandangan di tempat itu. Apalagi, cara menikmatinya dengan cara yang luar biasa yakni dengan flying fox yang melintas di atas sungai Kedungbener. “Pemandangannya bagus dan sejuk sekali,” katanya.

Kepala SMK Komputer Karanganyar Ahmad Saekhu mengatakan, ada 250 siswanya yang kemarin diajak mencoba sejumlah wahana di obyek wisata Wiskuno. Kegiatan itu sendiri dalam rangka agenda rutin para anggota PMR dan Pramuka di sekolah yang beralamat di Jl Revolusi Karanganyar tersebut.

“Kami selaku pihak sekolah mendukung kegiatan anak. Kegiatan ini sekaligus untuk belajar dan mengenal wisata edukasi dangan alam agar mereka senantiasa cinta lingkungan,” katanya.(saefur/cah)