Pondok Belajar Lemungsur, Tempat Belajar dan Berkegiatan Warga Desa Resmi Dibuka

POndok Belajar Lemungsur
Pondok Belajar Lemungsur di Desa Wonoharjo, Kecamatan Rowokele

ROWOKELE – Satu lagi daya tarik wisata baru yang ada di Kabupaten Kebumen belum lama ini diresmikan. Adalah Pondok Belajar Lemungsur di Desa Wonoharjo, Kecamatan Rowokele. Pondok yang mulai dirintis sejak tahun 2004 oleh pemerintah desa dan Yayasan Earthworms ini kemudian diresmikan oleh Bupati Kebumen, KH Yazid Mahfudz pada akhir Januari 2019 lalu.

Pondok belajar ini memang sudah menjadi tempat belajar dan berkegiatan bagi masyarakat desa setempat, bahkan beberapa kali menjadi tempat penelitian bagi para peneliti di bidang sosial dan lingkungan. Tak hanya peneliti dari dalam negri bahkan dari luar negri.

“Jadi pada tahun 2017 kita mulai bangun ini, fasilitas ini, semacam uji coba. Alhamdudilah tiap bulan mulai banyak kegiatan pelatihan yang bisa kita selenggarakan dari seluruh tempat. Kemudian mulai menarik tourism, kok turis mulai mau dan akhirnya kita kembangkan ekowisata. Kemudian ada lagi, berkembang lagi dari produknya.  Masyarakat sudah didampingi, produknya bagaimana? Nah kita sudah mulai masuk ke bagaimana pemberdayaan masyarakat terkait produknya,’’ kata Aris Priambodo, Ketua Yayasan Earthworms.

Bupati Kebumen menyambut baik diresmikannya Pondok Belajar Lemungsur ini. Dengan adanya inovasi ini diharapkan mampu mengenalkan kekayaan alam Kebumen melalui pariwisata.

Terlebih lagi belum lama ini sebagian wilayah Kebumen ditetapkan sebagai Geopark Karangsambung- Karangbolong. Dan salah satu desa yang termasuk didalamnya adalah Desa Wonoharjo. Bupati berpesan kedepannya sumber daya manusia di Desa Wonoharjo juga harus ditingkatkan agar siap menrima wisatawan lokal maupun mancanegara dengan ramah.

“Ini suatu destinasi wisata kita, salah satunya yang ada di desa. Apalagi Kebumen sudah ditetapkan sebgai Geopark Nasional. Dan ada 117 desa, 12 kecamatan, salah satu desa yang ada di kawasan Geopark Nasional adalah Desa Wonoharjo. Alhamdulilah pada 2016 sudah mengembangkan ini, ini berjalan dengan baik, bahkan dikunjungi wisatawan baik dalam maupun luar negri. Ini suatu kebanggaan bagi kami, agar destinasi seperti ini agar dikembangkan desa-desa lain,’’ kata Bupati Kebumen, KH Yazid Mahfudz. (Ratih TV/adm)

Advertisements

Dinas Pendidikan Kunjungi Berbagai Situs Cagar Budaya di Kebumen

Mbah Lancing
Cagar Budaya Makam Mbah Lancing. Foto: detik.com

KEBUMEN – Dinas Pendidikan Kabupaten Kebumen melalui Bidang Paud Dikmas dan Kebudayaan baru-baru ini mengunjungi 18 situs cagar budaya yang ada di Kabupaten Kebumen. Dari kedalapanbelas cagar budaya tersebut tim Dinas Pendidikan mengunjungi cagar budaya yang ada di Kecamatan Ambal, Mirit dan Prembun.

Situs cagar budaya yang dikunjungi tersebut diantaranya makam Bupati Ambal KRAA Poerbonegoro di Desa Benerwetan, Kecamatan Ambal yang dahulu merupakan Bupati Ambal dan berkantor di Desa Ambalresmi. Menurut berbagai ahli sejarah KRAA Poerbonegoro wafat pda 1871.

Cagar budaya kedua adalah makam Mbah Lancing yang terletak di Desa Mirit, Kecamatan Mirit. Makam tersebut seringkali digunakan para peziarah dari berbagai kota di Indonesia. Mulai dari masyarakat biasa hingga tokoh politik.

Kunjungan ini merupakan wujud dari Pemkab Kebumen dalam menjalankan Undang-undang nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Buduya serta Undang-undang nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

“Kami bersyukur sekali karena budaya tradisional betul-betul diuri-uri atau dilestarikan. Pemerintah berharap, melalui Dinas Pendidikan bisa beserta masyarakat tetap menjalukna untuk memelihara, melestarikan, mengembangkan, memanfaatkan semua seni budaya yang ada di Kebumen,’’ kata Aminah Kapala Bidang Paud Dikmas dan Kebudayaan Kebumen.

Ia menambahkan dengan terinventarisirnya cagar budaya di Kebumen, maka akan dilaporkan ke pemerintah pusat sehingga akan diperhatikan dalam berbagai hal. “Dan kami juga berharap nanti pemerintah pusat bisa memberikan fasilitas atau bantuan kepada komunitas budaya yang ada, maupun objek pemajuan kebudayan yang ada,” tambahnya. (Ratih TV/adm)

Bukan Reruntuhan Bangunan Kuno, Batuan Aneh di Desa Tugu Hasil Aktivitas Geologi

Batuan Aneh Tugu
Balai Arkeologi Yogyakarta meneliliti batuan aneh bercorak guratan di Desa Tugu

BUAYAN – Beberapa waktu lalu warga di Desa Tugu, Kecamatan Buayan dihebohkan dengan penemuan batuan aneh di kawasan perhutani RPH Redisari yang diduga warga sebagai batuan hasil kebudayaan manusia pada masa lalu. Sekilas batuan aneh tersebut mirip makam kuno serta mirip sisa reruntuhan bangunan.

Penemuan ini bermulaa saat warga menggali potensi wilayah tersebut untuk dijadikan destinasi wisata alam. Mendapati batuan yang aneh tersebut warga langsung melaporkan ke Balai Arkeologi Yogyakarta.

“Ya itu kan bentuknya aneh seperti batu purba seperti mirip batu purba tapi kan itu baru diduga ini kan lokasi wisata pak, lokasi wisata itu berarti besok akan dari LMDH dan panitia wisata itu akan dikembangkan untuk menjadi wisata” kata Sito, salah satu perangkat desa Tugu.

Atas laporan tersebut tim Balai Arkeologi dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemerintah Kabupaten Kebumen melakukan penelitian. Tim Balai Arkeologi menyimpulkan batuan tersebut bukan dari haasil kebudayaan manusia pada masa lampau, corak berupa guratan batuan dan temuan karang di lokasi menunjukan aktifitas air dari dasar laut yang terangkat ke permukaan pada zaman dahulu.

“Bahwa kemungkinan dulu daerah ini merupakan kayak terendam air karena tadi kita melihat di sana banyak ditemukan kerang yang itu merupakan binatang binatang air, sehingga sementara kita menyimpulkan bahwa itu bukan benda budaya hasil karya manusia tapi lebih ke aktvitas alam, ” kata Muhammad Chawari, Peneliti Balai Arkeologi Yogyakarta.

Pihaknya akan berkoordinasi dengan geolog mengingat batuan ini terbentuk karena fenomena alam. Diharapkan dengan ditemukannya batuan ini menjadi jadi daya terak wisata. Apalagi Pemkab kebumen tengah mengarap potensi alam seperti Geopark Karangsambung-Karangbolong yang sebelumnya telah diresmikan sebagai geopark nasional. (Widodo Setiawan/NET. Jateng)

Februari 2019, Curah Hujan di Kebumen Menengah

hujan2
Ilustrasi hujan

KEBUMEN – Berdasarkan peta prakiraan curah hujan bulan Februari 2019 yang dikeluarkan Stasiun Klimatologi BMKG Semarang, curah hujan di wilayah Kebumen menengah. Hanya sebagian wilayah perbukitan paling utara yang masih memiliki curah hujan tinggi berkisar 301-400 milimeter.

“Curah hujan pada bulan Februari di sebagian besar Cilacap, sebagian besar Kebumen, dan sebagian Purworejo, terutama yang berada di daerah pesisir selatan diprakirakan berkisar 201-300 milimeter atau masuk kategori menengah,” kata Kepala Kelompok Teknisi Stasiun Meteorologi BMKG Cilacap Teguh Wardoyo dikutip dari Antara.com.

Ia mengatakan fenomena global berupa El Nino diprakirakan masih memengaruhi kondisi cuaca di wilayah Indonesia meskipun kategorinya moderat. Bahkan, El Nino moderat tersebut diprakirakan masih akan berlangsung hingga Juni dan cenderung melemah.

“Seperti pada bulan Januari, biasanya hampir tiap hari terjadi hujan namun kemarin berselang, kadang hujan dan kadang tidak ada hujan, akibat dari El Nino. Kecenderungannya hujan di wilayah utara, khususnya Banyumas dan sebagian besar wilayah Cilacap terjadi pada sore hari, sedangkan di wilayah pesisir selatan pada malam hari,” katanya.

Gerakan Tanah

Meski cenderung menurun, namun warga diimbau tetap mewaspadai kemungkinan terjadinya tanah longsor. Berdasarkan data prakiraan gerakan tanah Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) pada bulan Februari 2019, sejumlah kecamatan di Kebumen masih memiliki resiko tanah longsor menengah hingga tinggi.

Kecamatan tersebut diantaranya Alian, Sadang, Sempor, Karangsambung, Karanggayam, Padureso, Pejagoan bagian barat dan utara, Ayah bagian timur dan selatan, Buayan bagian barat, bagian utara Rowokele, Poncowarno, Sruweng, Karanganyar, sebagian kecil barat Kutowinangun serta sebagian kecil utara Gombong dan Kebumen. (adm/LK)

 

Gempa Magnitudo 4,5 Cilacap Dirasakan Warga Kebumen bagian Barat

gempa
Pusat gempa di laut selatan Cilacap. (Dok. BMKG)

KEBUMEN – Gempa bumi dengan magnitudo 4,5 mengguncang perairan selatan Cilacap, Senin (7/1/2019), pukul 23.58 WIB. Guncangannya pun terasa hingga ke wilayah Kebumen. Sebagian warga pesisir Kebumen bagian barat mengaku merasakan gempa yang cukup kuat tersebut, terutama di Kecamatan Ayah.

Berdasarkan keterangan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG)  gempa tersebut berpusat di laut sekitar 69 kilometer arah tenggara Cilacap, Jawa Tengah. Titik koordinat gempa berada di 8,32 Lintang Selatan dan 109,09 Bujur Timur. Kedalaman gempa 11 kilometer, dirasakan di Cilacap dan Pangandaran dengan skala II MMI.

Getaran dengan skala II MMI (Modified Mercalli Intensity), yang artinya dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang. Getaran gempa  yang  juga dirasakan di Kebumen tersebut berlangsung singkat hanya beberapa detik, sehingga tak membuat warga panik.

Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, tampak bahwa gempabumi berkedalaman dangkal ini diakibatkan oleh aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia yang menyusup ke bawah Lempang Eurasia. (adm/LK)

Sebagian Warga Kebumen Rasakan Gempa Magnitudo 5,1 di Kulon Progo

gempa1
Ilustrasi

KEBUMEN – Gempa bumi dengan magnitudo 5,1 mengguncang Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (30/11/2018), pukul 03.42 WIB. Guncangan lindu ini terasa hingga ke wilayah Kebumen.

Sebagian warga Kebumen mengaku merasakan gempa yang tidak begitu kuat terutama di wilayah timur seperti Ambal, Mirit dan sekitarnya. Getaran gempa tersebut juga berlangsung singkat hanya beberapa detik, sehingga tak membuat warga panik.

Berdasarkan keterangan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG)  gempa tersebut berepisentrum pada 8,83 Lintag Selatan, 109,75 Bujur Timur. Tepatnya di 116 km Barat Daya Kulon Progo atau 130 km Selatan Kebumen. Pusat gempa berada pada kedalaman 54 Km dan tidak berpotensi tsunami.

Gempabumi selatan di Jawa ini, dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, tampak bahwa gempabumi berkedalaman menengah ini diakibatkan oleh aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia yang menyusup ke bawah Lempang Eurasia.

Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi ini dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan jenis sesar oblique (oblique fault). (Adm/LK)

Hebat, Kontingen Kebumen Masuk Lima Besar Peparprov Jateng III/2018

Peparprov
Sumber; NPC Jawa Tengah

KEBUMEN – Pekan Paralimpik Provinsi (Peparprov) Jateng 2018 yang digelar di Solo (14-16/11/2018) berakhir. Kota Solo sukses meraih predikat sebagai juara umum dengan raihan 39 emas, 26 perak dan 16 perunggu. Sementara kontingen Kabupaten Kebumen finis di posisi kelima dengan raihan 32 medali terdiri dari 17 emas, 8 perak dan 7 perungu.

Medali kontigen Kebumen sebagian besar diraih dari cabor atletik dimana 16 dari 17 medali emas disumbangkan dari cabor ini. Sementara 1 medali emas lainnya disumbangkan oleh Sutikno, atlet catur nomor klasik tuna daksa.

Hal sama di perolehan medali perunggu, lagi-lagi cabor atletik menyumbang 6 medali, 1 medali dari cabor catur nomor cepat tuna daksa atas nama Sutikno. Sedangkan medali perunggu cabor atletik masih menyumbang 4 medali, 2 medali dari cabor bulutangkis dan 1 medali dari cabor renang nomor 50 meter gaya bebas putra.

Pada Peparprov kali ini kontingen Kebumen mengirim 25 atlet yang mengikuti 6 cabang olahraga, yakni catur, lempar lembing, lari, lempar cakram, tolak peluru dan lompat jauh.

Kejuaraan Peparprov adalah ajang multievent untuk atlet disabilitas, yang sejajar dengan ajang Porprov. Ajang ini sendiri sebagai dasar dari persiapan Jateng sebelum menuju ke event Peparnas 2020 yang rencananya akan digelar di Papua.

”Semoga kedepannya atlet di Jawa Tengah bisa lebih berkembang lagi. Keberhasilan Asia nPara Games di Jakarta menjadi motivasi lebih orang untuk jadi atlet. Semoga ini jadi angin segar pembinaan atlet di Indonesia,” terang Ketua NPC Jateng, Osrita Muslim. (adm/LK)